• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, Januari 14, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Perempuan dan Anak

#PerempuanRawatBumi: Belajar Pangan Lokal dari Sekolah di Soe

Mereka tak lagi hanya murid yang menerima pelajaran, tapi sudah menjadi pelopor perubahan, penjaga nilai lokal, dan agen ketahanan iklim sejak usia dini.

Rita Hasugian by Rita Hasugian
5 bulan ago
in Perempuan dan Anak
Reading Time: 6 mins read
A A
0
Para siswa kelas 6A SD GMIT 01 Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan belajar mengolah sayuran dan daging se'i pada Kamis, 14 Agustus 2025 sebagai rangkaian dari pelajaran pangan lokal yang diterapkan sekolah ini. (Riandi Kore/KatongNTT)

Para siswa kelas 6A SD GMIT 01 Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan belajar mengolah sayuran dan daging se'i pada Kamis, 14 Agustus 2025 sebagai rangkaian dari pelajaran pangan lokal yang diterapkan sekolah ini. (Riandi Kore/KatongNTT)

0
SHARES
390
VIEWS

 Soe –  – Suasana kelas 6A SD GMIT 01 Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, terlihat hidup ketika wali kelas Mariana Kause mengajak murid-muridnya memilah gambar tanaman pangan lokal. Dengan antusias, 30 siswa dibagi ke dalam lima kelompok untuk mengenali jagung, ubi, pisang, dan sayuran, lalu membedakannya dari makanan cepat saji.

Metode sederhana berbasis gambar ini memudahkan anak-anak mengenali gizi dan manfaat pangan lokal. Bahkan, satu kelompok mampu mengklasifikasikan jenis pangan sesuai sumber energi, protein, dan vitamin.

BacaJuga

Indonesia Punya PP Tunas untuk Lindungi Anak di Internet, Apa itu?

Indonesia Punya PP Tunas untuk Lindungi Anak di Internet, Apa itu?

18 Desember 2025
Talkshow “Bangun Ruang Digital Ramah Anak #TungguAnakSiap” yang diselenggarakan Magdalene dan Kementerian Komunikasi dan Digital di Jakarta, 9 Desember 2025. (Dok. Magdalene)

#TungguAnakSiap: PP Tunas Adalah Awal, Butuh Kolaborasi

17 Desember 2025

 “Kami ingin siswa tahu bukan hanya nama tanaman, tapi juga cara mengolah dan menyajikannya,” kata Mariana kepada KatongNTT  pada Kamis, 14 Agustus 2025.

Baca juga: #PerempuanRawatBumi: Minim Dukungan, Perempuan NTT Bangkitkan Kembali Pangan Lokal

Setiap Kamis, siswa kelas 6A mengikuti pelajaran muatan lokal tentang pangan lokal.Tidak hanya teori, mereka juga praktik langsung memasak hingga menyajikannya untuk dimakan bersama-sama.

Sesuai jadwal, hari itu para siswa mendapat tugas mengolah jagung putih, sayuran, dan daging sapi untuk menjadi makanan khas Timor berupa jagung bose, se’I sapi, dan sambal luat. Mereka memasak menggunakan peralatan tradisional seperti lesung untuk menumbuk jagung putih yang sudah dipipil dan direndam. Butiran jagung berwarna putih itu ditumbuk halus hingga kulitnya terlepas.

Dua siswa menggunakan nyiru atau tampa memisahkan biji dan kulit jagung sebelum direbus bersama sayuran.

Sejumlah siswa berdiri berjajar menghadap meja yang di atasnya sudah ditata sayuran dan potongan daging sapi yang dibalut daun papaya untuk melembutkan daging.

Untuk memanggang daging sapi, para siswa menyiapkan beberapa kayu berukuran semester dan daun kesambi yang digunakan untuk menutupi daging agar teksturnya tetap segar, tidak menghitam atau gosong.

Sekitar satu jam para siswa berbaur bergotong royong tanpa sungkan menjalankan tugasnya.

“Saya di rumah juga suka bantu mama menampi jagung,” kata Ehy Tanaem, siswa laki-laki sambil kedua tangannya menampi biji jagung yang sudah ditumbuk dalam lesung guna memisahkan kulit dari biji jagung berwarna putih.

 

Dua siswa kelas 6A SD GMIT 01 Soe, TTS  menampi biji jagung putih yang sudah ditumbuk menggunakan lesung pada Kamis, 14 Agustus 2025. Keduanya bertugas memisahkan kulit dari biji jagung sebelum direbus untuk menghasilkan jagung bose, makanan khas Pulau Timor. (Riandi Kore/KatongNTT)
Dua siswa kelas 6A SD GMIT 01 Soe, TTS menampi biji jagung putih yang sudah ditumbuk menggunakan lesung pada Kamis, 14 Agustus 2025. Keduanya bertugas memisahkan kulit dari biji jagung sebelum direbus untuk menghasilkan jagung bose, makanan khas Pulau Timor. (Riandi Kore/KatongNTT)

 

Beberapa siswa merebus air dalam panci di atas tungku dan api dan bara kayu membuat beberapa anak berlari menghindari asap yang menyakitkan mata mereka. Beberapa anak sibuk memasukkan biji jagung yang sudah bersih dari kulitnya. Beberapa menit kemudian mereka memasukkan kacang hijau, kacang tanah. Terakhir mereka memasukkan sayuran seperti labu kuning yang sudah diiris kecil-kecil, daun pucuk labu.

Baca juga: #PerempuanRawatBumi: Menjaga Pangan Lokal di Kaki Gunung Lewotobi

Beberapa anak mempersiapkan bahan untuk membuat sambal luat yang terkenal pedasnya.

Harlenci Yuliana Kause, Kepala Sekolah SD GMIT 01 Soe menjelaskan kurikulum muatan lokal tentang pangan lokal mendidik siswa-siswa untuk menghargai proses.

“Ini semuanya proses dan kami mengajarkan siswa untuk menghargai proses jika mau makan makanan yang sehat, bergizi, dan enak,” kata Mama Yuli, sapaan akrab Harlenci.

Nilai lainnya yang muncul adalah gotong –royong, kesetaraan gender di mana siswa pria dan perempuan setara dalam menjalankan kerja. Siswa juga diajarkan untuk mengenali diri, melatih kesabaran, dan kewaspadaan.

 

Dari Teori ke Praktek dan Kebangkitan Kesadaran

Erwina F Telnoni, tim pengembang kurikulum muatan lokal Fase C (SD)  menjelaskan, muatan lokal tentang pangan lokal untuk ketahanan iklim digagas oleh CIFOR – ICRAF bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS.  CIFOR – ICRAF merupakan pusat penelitian kehutanan internasional dan pusat penelitian agroforestry dunia.

Kurikulum muatan lokal tentang pangan lokal mulai didesain sejak Februari 2024 dengan melibatkan 30 orang tim pengembang kurikulum yang berasal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan TTS, sekolah, guru, dan tim ICRAF.  Tim kemudian mensosialisasikan kurikulum muatan lokal ini kepada para orangtua siswa.

Menurut Erwina, muatan lokal tentang pangan lokal untuk ketahanan iklim diajarkan pada fase C kelas 5 dan 6 SD dan fase D kelas 7,8,9 SMP. Elemen yang diajarkan pada kurikulum ini ada 4 yaitu observasi dan eksplorasi, budidaya, pengolahan dan penyajian.

“Empat elemen ini diajarkan pada kelas fase C dan D dengan level yang berbeda sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.  Semua tergambar jelas pada alur tujuan pembelajarannya,” kata Erwina yang juga guru di SD GMIT 01 Soe.

 

Siswa kelas 6A SD GMIT 01 Soe, TTS mengerjakan tugas kelompok memisahkan gambar tanaman pangan lokal dan yang bukan saat pelajaran pangan lokal pada Kamis, 14 Agustus 2025. (Riandi Kore/KatongNTT)
Siswa kelas 6A SD GMIT 01 Soe, TTS mengerjakan tugas kelompok memisahkan gambar tanaman pangan lokal dan yang bukan saat pelajaran pangan lokal pada Kamis, 14 Agustus 2025. (Riandi Kore/KatongNTT)

 

Baca juga: #PerempuanRawatBumi: Tradisi Mengolah Kacang Beracun Jadi Pangan Alternatif

Model pengajarannya mulai dari eksplorasi dan pengenalan tentang pangan lokal.  Pada elemen ini siswa diberikan pemahaman dan pengenalan konsep tentang  pangan lokal, jenis – jenisnya, kandungan gizinya dan olahan pangannya.

Selain itu siswa diajarkan tentang konsep budidaya mulai dari persiapan lahan dan bibit sampai pada penanaman, perawatan dan pemanenan. Siswa juga diajarkan tentang cara mengawetkan bahan pangan sampai pada cara mengolah dan menyajikan olahan pangan lokal.

Pada fase selanjutnya siswa dilatih untuk dapat mempraktekkan cara membudidayakan, mengolah dan menyajikan. Dalam pelaksanaan di dalam kelas, praktek pembelajaran disesuaikan dengan metode dan kreatifitas guru sehingga dapat menanamkan konsep ini sesuai dengan tujuan pembelajaran agar capaian pembelajarannya dapat terwujud.

Model pembelajaran bisa dikolaborasikan antara eksplorasi dan praktik. Pada kurikulum mulok ini akan lebih efektif jika metode pembelajaran yang diterapkan adalah proyek based learning. Kegiatan proyek  akan menghantar siswa untuk mengalami langsung, sehingga mereka dapat menerapkannya di lingkungan masyarakat.

Muhammad Arifudin sebagai Tim Pengembang Kurikulum Mulok Fase D (SMP) menjelaskan,  kurikulum mulok pangan lokal juga telah diterapkan di SMP Negeri 2 Soe. Kegiatan belajar selama 2 jam setiap minggu. Siswa belajar tentang eksplorasi pangan lokal di TTS dan memahami kekayaan bahan pangan tradisional. Kemudian, siswa belajar tentang budidaya pangan lokal meliputi  keterampilan menanam dan merawat tanaman lokal.

Menurut Arifudin, siswa SMP Negeri 2 Soe menyambut mulok ini dengan antusias Siswa tidak hanya belajar teori, tapi juga terlibat langsung dalam kebun sekolah, mulai menanam, merawat, hingga memanen pangan lokal.

“Bayangkan murid yang biasanya hanya duduk di kelas kini menjadi penjaga warisan dan pelopor ketahanan iklim di rumah mereka sendiri. Dampak Positif Kurikulum ini membantu memperkuat identitas budaya siswa, membuat mereka merasa bangga sebagai bagian dari komunitas lokal,” kata Arifudin kepada KatongNTT melalui pesan Whatsapp.

Untuk mendorong kesadaran ekologis sejak dini, siswa SMPN 2 Soe belajar tentang solusi dan modal adaptasi menghadapi perubahan iklim.

Baca juga: Perlawanan Marlina dan Politik Kekerasan terhadap Perempuan NTT

Dia menegaskan,  program muatan lokal  pangan lokal yang diterapkan di SMPN 2 Soe bukan sekadar penerapan kurikulum, namun kebangkitan kesadaran generasi muda. Mereka tak lagi hanya murid yang menerima pelajaran, tapi sudah menjadi pelopor perubahan, penjaga nilai lokal, dan agen ketahanan iklim sejak usia dini.

Pada 11 Juni 2025 kurikulum ini diluncurkan dan resmi diberlakukan di semua satuan pendidikan SD dan SMP di TTS. Pemerintah Kabupaten TTS telah membuat peraturan bupati sebagai payung hukum berlakunya kurikulum muatan lokal tentang pangan lokal.

Kini, muatan lokal tentang pangan lokal di Kabupaten TTS berjalan sudah berjalan setahun. TTS menjadi kabupaten pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki kurikulum muatan lokal tentang pangan lokal.

 

Para siswa kelas 6A SD GMIT 01 Soe bersama Kepala Sekolah Harlenci Yuliana Kause (baju hijau), Walikelas 6A, Mariana Kause (baju hitam) menunjukkan hasil karya mereka tentang pangan lokal. (Riandi Kore/KatongNTT),
Para siswa kelas 6A SD GMIT 01 Soe bersama Kepala Sekolah Harlenci Yuliana Kause (baju hijau), Walikelas 6A, Mariana Kause (baju hitam) menunjukkan hasil karya mereka tentang pangan lokal. (Riandi Kore/KatongNTT),

 

Dampak Nyata : dari Rumah ke Masyarakat

Para orangtua siswa khususnya para ibu mendukung pelajaran pangan lokal di SD GMIT 01 Soe karena dampak positif pada sikap dan perilaku anak mereka di rumah.  Misalnya,  anak-anak mereka kini menjadi suka makan dari tanaman yang tumbuh di sekitar rumah mereka seperti singkong, ubi jalar, jagung, pisang, berbagai jenis sayuran.  Hanya saja anak-anak lebih lahap jika tanaman pangan itu diolah menjadi jagung bose, kue, puding, atau kripik.

“Sebelum ada mulok (muatan lokal) ini , anak-anak tidak suka. Tapi ketika dapat ilmu, diolah dan dipraktekkan di sekolah, anak-anak jadi tahu dan bisa membuat anak-anak menikmati hasil kerjanya,” kata Selfince Ully/Lay, ibu dari satu siswa kelas 6A.

Baca juga: NTT Kaya Jenis Pangan, Namun Ada yang Nyaris Punah

Anak-anak, ujarnya, juga jadi tahu tentang peralatan dapur dan memasak tradisional yang sudah jarang ditemukan di kota Soe. Misalnya lesung, nyiru atau tampa, tungku untuk memasak makanan.

Yang lebih menyenangkan dia sebagai ibu adalah anaknya kini termotivasi untuk bekerja di rumah untuk mengolah makanan sebelum dinikmati.

“Dia jadi mengerti kerja dulu baru makan. Dia menghargai proses,” ujar Selvince.

Beci, ibu dari satu siswa kelas 5 SD GMIT 01 Soe menuturkan pola makan anaknya kini berubah. Jika sebelumnya anaknya suka mengkonsumsi makanan instan, kini menyukai makanan dari pangan lokal yang diolah dan dibuat bervariasi rasa dan bentuk.

“Mereka semakin jarang mengonsumsi makanan-makanan instan dan digantikan dengan makanan lokal tetapi dibuat variasi bentuk dan rasa,” kata Beci.

Janse Beukliu, orangtua satu siswa kelas 6 di SDGMIT 01 Soe pelajaran pangan lokal di sekolah telah mengikis stigmatisasi yang merendahkan pangan lokal. Sehingga anak-anak kini tidak lagi malu membawa bekal makan bersumber dari pangan lokal.

“Sekarang dengan adanya pelajaran muatan lokal mereka berlomba – lomba untuk mempertujukannya di depan umum tanpa rasa malu, melainkan dengan rasa bangga, kecintaan terhadap budaya juga semakin tinggi,” kata Janse.

Kurikulum muatan lokal  pangan lokal ini juga berdampak positif bagi Janse dengan sering menyediakan makanan dari pangan lokal di rumah. Sehingga anaknya bisa menikmatinya di rumah tanpa harus membelinya di luar.  Jadi hemat pengeluaran.  (RIAN/NOVI/RITA)

 

Artikel ini merupakan bagian dari serial liputan kolaborasi #PerempuanRawatBumi bersama media anggota Women News Network (WNN), didukung oleh International Media Support (IMS). Informasi soal WNN bisa diakses di https://womennewsnetwork.id

Tags: #CIFOR-ICRAF#Jagungbose#katongntt#Kurikulummulok#Mulokpanganlokal#NTT#PanganlokalNTT#Perempuanrawatbumi#samballuat#SDGMIT01Soe#Se'isapi
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Indonesia Punya PP Tunas untuk Lindungi Anak di Internet, Apa itu?

Indonesia Punya PP Tunas untuk Lindungi Anak di Internet, Apa itu?

by Rita Hasugian
18 Desember 2025
0

Apakah anak-anak perlu dibatasi menggunakan media sosial? Pertanyaan ini pernah diajukan perusahaan riset independen IPSOS pada 2025 kepada 23.700 orang...

Talkshow “Bangun Ruang Digital Ramah Anak #TungguAnakSiap” yang diselenggarakan Magdalene dan Kementerian Komunikasi dan Digital di Jakarta, 9 Desember 2025. (Dok. Magdalene)

#TungguAnakSiap: PP Tunas Adalah Awal, Butuh Kolaborasi

by Rita Hasugian
17 Desember 2025
0

Risiko digital pada anak terus meningkat, mulai dari paparan konten seksual, komentar kebencian, manipulasi foto dengan Akal Imitasi (AI), hingga...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati