Kupang – Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat hanya sekali menyebut soal kemiskinan dalam pidatonya memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia.
Viktor dalam pidatonya itu memang menyampaikan sejumlah pencapaian semasa kepemimpinannya sejak 2018 sebelum berakhir pada September 2023 mendatang.
Pidato memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-78 itu disampaikan Viktor di Aula El Tari Kupang, Rabu 16 Agustus 2023.
Baca juga : Jumlah Penduduk Miskin NTT Naik Jadi 1,14 Juta Orang
Soal kemiskinan ini hanya disebut Viktor Laiskodat sekali dalam memaparkan presentase kemiskinan NTT yang menurutnya turun selama ia menjabat gubernur sejak 2018 lalu.
Awalnya ia mengatakan pertumbuhan ekonomi NTT berlangsung dalam inflasi yang dapat dikendalikan. Kemudian ia menyebut kemiskinan sudah berhasil ia turunkan.
“Persentase kemiskinan yang menurun dari 21,35 persen tahun 2018 menjadi 19,96 persen pada Maret 2023 atau menurun 1,39 persen,” kata Viktor.
Baca juga : NTT Provinsi Termiskin Ketiga di Indonesia
Selanjutnya ia berbicara mengenai pemerataan pembangunan. Kemudian ia berbicara soal Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mengalami peningkatan sebesar 1,51 poin yakni 64,39 pada tahun 2018 menjadi 65,90 di tahun 2022.
Viktor juga menyampaikan usia harapan hidup warga NTT yang naik dari 66,38 tahun 2018 menjadi 67,47 tahun 2022.
Kemudian ia menyampaikan soal harapan lama sekolah di NTT yang juga meningkat lebih baik pada tahun 2022 yakni 7,70 dibanding 7,30 di tahun 2018.
Baca juga : Penduduk Miskin NTT Bertambah Jadi 1,15 Juta Orang, Dipicu Harga BBM Naik
Demikian pula soal angka pengeluaran per kapita, kata Viktor, naik menjadi Rp 7,87 juta pada tahun 2022 dibanding tahun 2018 sebesar Rp 7,56 juta.
Setelah itu ia menyinggung pencapaiannya yang terbagi dalam berbagai poin. Awalnya ia mengemukakan pencapaian dari bidang kesehatan.
Dalam pidato berjumlah 32 halaman itu Viktor juga memaparkan pencapaian dari bidang lainnya seperti pendidikan dan olahraga, pariwisata, pertanian, kelautan dan perikanan, infrastruktur, investasi hingga energi, maupun ketenagakerjaan dan kawasan perbatasan. ****




