Kupang – Sarlina Mone sejak duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Pekerjaan itu dia lakoni hingga usianya kini 20 tahun. Majikannya tidak berganti, seorang pedagang kue basah di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dia meneruskan pekerjaan ibunya sebagai PRT di rumah majikannya itu.
Sarlin, begitu dia disapa, menuturkan setiap pagi dia bangun sekitar jam 4 -5 pagi untuk bekerja menyiapkan kue-kue basah yang akan dititip-jualkan di warung dekat Kantor Walikota. Setelah itu dia langsung menuju kampusnya di Politeknik Negeri Kupang dengan mengendarai bemo. Lokasi kampus tersebut di kawasan Bimoku.
Sekembali dari kuliah sekitar jam 12- 1 siang, Sarlin kembali ke rumah majikannya di Jalan Rote, Oeba. Dia beristirahat beberapa menit untuk kemudian melanjutkan pekerjaannya mengurusi kue-kue untuk dititipkan di warung. Tak jarang majikannya juga membuat kue atas pesanan pelanggannya.
Baca juga: Cerita Calon PMI NTT, 2 Hari 1 Malam Tanpa Makan di Hutan
“Ada pastel, lumpia, kue sus, sesuai pesanan orang. Jumlahnya ratusan buah, paling banyak 500 buah,” kata Sarlin saat diwawancara KatongNTT, Rabu, 15 Februari 2023.
Dalam seminggu, dia mendapat jatah libur hanya setiap Sabtu hingga keesokan siangnya. Bertepatan semester ini perkuliahannya libur setiap Sabtu, sehingga Sarlin dapat benar-benar merasakan istirahat.
Sementara untuk waktu belajar, dia menyisihkan waktu beberapa menit sebelum beranjak tidur.
Untuk jerih payahnya itu, Sarlin tidak menerima upah harian, mingguan atau bulanan dari majikannya. Sebagai pengganti upah, majikannya membayar uang kuliah per semesternya sebesar Rp 1 juta.
“Setiap bulan tidak dikasih (upah/gaji). Dikasih hanya saat bayar regis, bayar biaya kuliah per semester.,” ujar Sarlin.

Baca juga: Romo Paschal Siap Buktikan Pejabat BIN Diduga Terlibat Jaringan Perdagangan Orang
Begitupun Sarlin tidak mempersoalkan model upah yang dibuat majikannya itu. Sarlin justru lebih peduli pada PRT lain yang nasibnya lebih buruk dibanding dirinya.
Dia sering mendengar terjadi kekerasan pada PRT, upahnya tidak dibayar, bahkan dipukuli majikan.
Sarlin merasa beruntung mendapat majikannya saat ini walaupun sering dimarahi, tetapi tidak mengekang dirinya.
Pada Selasa malam, 14 Februari 2023, Sarlin menerima pesan Whatsapp yang isinya mengundang siapa saja untuk menulis surat tentang nasib PRT. Surat itu nantinya akan dikirimkan kepada Ketua DPR RI, Puan Maharani.
Sejenak merenung, memikirkan nasib dirinya dan teman-temannya yang sedang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliah. Dia pun memutuskan untuk ikut menulis surat berisikan nasib sebagai PRT. Sarlin tidak lagi mempertimbangkan dampak dari tulisan itu nantinya.
“Saya tidak memikirkan lagi dampak dari menulis surat berisikan keluhan ini. Kalau pun diketahui majikan, saya tidak apa-apa. Karena apa yang saya katakan ini merupakan kenyataan yang saya alami dan teman-teman saya alami,” ujarnya.
“Saya sudah muak dengan cerita-cerita teman saya yang sering dimarahi, dicaci, dikekang, dibatasi pergerakannya, dan bahkan mau dipukul,” kata Sarlin menegaskan.
Surat Sarlin yang ditulis dengan pulpen di sehelai kertas antara lain berisikan permintaan agar DPR segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang PRT. Legislasi ini untuk menuntut negara melindungi setiap orang yang berprofesi sebagai PRT. Dan, memanusiakan semua PRT.
Baca juga: 11 Pemkab Teken MoU dengan BP3MI NTT, Padma : PMI Mau Dilatih Dimana?
Dia mengatakan, teman-temannya sering bercerita tentang perlakuan majikan yang tidak wajar terhadap mereka.Menurutnya, PRT juga manusia yang mempunyai hak yang sama.
Sarlin yang juga aktif dalam komunitas Hanaf sering membicarakan isu-isu PRT. Begitupun, dia harus bertahan dengan pekerjaannya sekarang. Karena dia harus membantu kedua orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka hidup di kos.
“Saat sekarang kami tinggal di kos. Kami ada lima bersaudarah, jadi saya harus bekerja,” tuturnya.
Di penghujung wawancara, saat ditanya tentang tanggal 15 Februari diperingati sebagai hari PRT nasional, Sarlin mengaku tidak mengetahuinya.
“Saya tidak tahu, saya dapat info dari kakak di komunitas kami,” ucap Sarlin.
Sebenarnya bukan Sarlin saja yang tidak tahu. Banyak masyarakat Indonesia yang juga tidak tahu tanggal 15 Februari diperingati sebagai Hari PRT Nasional. Profesi yang sangat membantu setiap keluarga, ironisnya, mereka justru seringkali diperlakukan tidak manusiawi. Apakah kita satu di antaranya? (Gega Making)


