Kupang – Jumlah penduduk miskin di Nusa Tenggara Timur (NTT) turun tahun ini namun disparitas antara penduduk miskin di desa dan perkotaan masih cukup besar.
Badan Pusat Statistik (BPS) NTT per Maret 2024 ini mencatat total penduduk miskin di NTT sudah 1.127.570 orang. Jumlahnya memang turun dari 1.141.110 orang per Maret 2023.
Namun untuk gap atau disparitas antara penduduk miskin di kota dan desa masih terpaut hampir 15 persen.
Baca juga: Caleg Miskin Gagasan Andalkan Politik Uang
BPS NTT mengungkap penduduk miskin di pedesaan ada 995,96 ribu orang sedangkan penduduk miskin di perkotaan 131,61 ribu orang.
Kepala BPS NTT, Matamira B Kale, dalam rilisnya 1 Juli 2024 menyebut jumlah ini memang timpang atau cukup jauh kesenjangannya.
“Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan dan pedesaan berbeda cukup signifikan. Tingkat kemiskinan di perkotaan 8,57 persen sedangkan di pedesaan masih 23,41 persen. Gapnya cukup besar,” tandas dia.
Baca juga :Indeks Ketimpangan Gender di NTT Turun
Garis kemiskinan per kapita di NTT pun sebesar Rp 527.275 atau naik 3,96 persen dari Maret 2023. Kebutuhan akan makanan mendorong 76,61 persen naiknya garis kemiskinan di NTT.
Namun begitu, papar Matamira, garis kemiskinan di perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan garis kemiskinan di pedesaan.
Pada wilayah perkotaan garis kemiskinan meningkat 3,88 persen atau dari Rp 614.436 menjadi Rp 638.261. Sementara di pedesaan garis kemiskinannya Rp 472 ribu jadi Rp 489 ribu.
Komoditas makanan dalam kontribusinya terhadap garis kemiskinan perkotaan ini terdiri dari 30,78 persen kebutuhan beras; 6,79 persen rokok; 2,56 persen ikan kembung, tuna, tongkol, cakalang; juga 2,44 persen telur ayam ras.
Baca juga : NTT Yang Miskin Selama 8 Gubernur Berganti
Kemudian kontribusi terbesar dari komoditas non makanan yaitu 10,94 persen dari perumahan; 2,54 persen dari bensin; 2,34 persen dari pendidikan; maupun 1,38 persen dari listrik.
Sebelumnya ia mengatakan pengukuran ini berdasarkan konsep ekonomi atau bukan berdasarkan konsep kemiskinan multidimensi.
Konsep ekonomi ini mengukur bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan dasar baik untuk makanan dan non makanan.
Standar kebutuhan makanan sendiri dinilai cukup jika mengonsumsi 2.100 kilo kalori per kapita. Sementara satu keluarga di NTT rata-rata 5 sampai 6 orang anggota keluarga dengan pendapatan Rp 3 juta saja.
“Rata-rata satu rumah tangga miskin di NTT itu memiliki 5 sampai 6 anggota rumah tangga atau rata-ratanya 5,75. Kemudian kita kalikan dengan angka garis kemiskinan dan kita peroleh sekitar Rp 3 juta per keluarga miskin,” jelas Matamira. ***




