Kupang – Serangan virus demam Babi Afrika di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menimbulkan kerugian yang diperkirakan mencapai Rp 2,3 triliun. Prediksi tersebut belum termasuk kerugian karena terhentinya sejumlah mata rantai terkait perdagangan babi.
Data yang dikumpulkan KatongNTT.com tersebut berdasarkan jumlah kematian babi yang pernah dikeluarkan pemerintah atau lembaga yang berkompeten. Data Dinas Peternakan Provinsi NTT pada Juli 2022 lalu menyebutkan dari awal hingga pertengahan 2022 tercatat 122 ribu babi mati akibat ASF. Hingga saat ini belum ada data terbaru dari instansi tersebut.
Informasi lain yang bisa menjadi rujukan yakni dari Promoting Rural Incomes through Support for Markets in Agriculture (PRISMA). Lembaga ini mempunyai program terkait pencegahan virus ASF tersebut.
Baca juga: Peternak Merugi, Harga Jual Babi Turun 50 Persen Akibat Virus ASF
CEO Nina FitzSimons di Kupang, Selasa (7/2/2023) menyebutkan jumlah ternak babi yang mati di NTT akibat virus ASF mencapai 500 ribu ekor. Program kemitraan pembangunan Australia- Indonesia menyebutkan kematian babi sejak pertama kali mewabah pada 2020 sangat merugikan perekonomian peternak.
“Pada tahun 2020 penularan cepat virus ASF di NTT mengakibatkan kematian lebih dari 500 ribu ekor babi. Dan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternak,” kata CEO Prisma Nina FitzSimons di Kupang, Selasa, 7 Februari 2023.
Dia mengatakan NTT memiliki populasi babi terbesar di Indonesia. NTT mengalami kerugian ekonomi yang sangat besar sehingga perlu berbagai upaya pencegahan dini.
“Wabah baru virus ASF yang terjadi pada 2023 ini kembali membuat NTT menjadi daerah yang paling terdampak di Indonesia baik secara ekonomi maupun budaya,” tegasnya.
Baca juga: Begini Cara Menghitung Kerugian Akibat Virus AFS Tewaskan Ratusan Babi di NTT
Jika mengacu pada data terbaru PRISMA saja dan dengan asumsi rata-rata harga babi sekitar Rp 4 juta per ekor, maka kerugian langsung mencapai Rp 2 triliun. Padahal, ada juga babi dewasa bisa mencapai Rp 7 juta per ekor. Jumlah tersebut belum memasukan data kerugian versi Dinas Peternakan NTT dan kerugian tidak langsung terkait bisnis babi.
Kepala Dinas Peternakan NTT Johanna Lisapaly dalam keterangannya pada Juli 2022 lalu mengakui bahwa jumlah kematian babi secara resmi tercatat sekitar 122 ribu ekor.
“Jumlah ternak babi yang mati akibat virus ASF yang dilaporkan secara resmi ke kami sekitar 122 ribu ekor yang tersebar di 22 kabupaten kota,” kata Johanna.
Pakar virologi dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Andrijanto H Angi kepada KatongNTT.com mengatakan jumlah kematian dipastikan lebih banyak dari yang dilaporkan para peternak. Hal itu karena tidak semua babi yang mati akibat virus ASF tersebut dikuburkan.
“Tidak semua babi yang mati akibat virus ASF itu dilaporkan kepada petugas. Lalu ada juga peternak yang menjual babi kepada pengepul untuk dijadikan konsumsi secara eceran. Memang tidak berbahaya untuk dikonsumsi manusia,” kata Dewan Penasehat Himpunan Alumni (HA) Institut Pertanian Bogor (IPB) NTT ini. [K-02]




