• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Minggu, April 19, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Bisnis Agribisnis

Cegah Virus ASF, Ahli Usul Peternak Babi Dukung Biosekuriti Diberi Insentif

Rita Hasugian by Rita Hasugian
3 tahun ago
in Agribisnis
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Yunus Mbura (paling kanan) peternak babi di Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur menjelaskan tata cara pemelihraan babi yang benar (Agrifood.id)

Yunus Mbura (paling kanan) peternak babi di Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur menjelaskan tata cara pemelihraan babi yang benar (Agrifood.id)

0
SHARES
14
VIEWS

Kupang – Kewaspadaan terhadap virus demam babi Afrika (African Swine Fever/ASF) harus terus ditingkatkan. Bagi peternak atau pemelihara babi yang mati dan tidak membuang sembarangan agar perlu diberi subsidi atau insentif. Hal itu merupakan salah satu upaya mencegah penyebaran wabah yang mematikan tersebut.

Ahli virologi dari Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang Andrijanto H Angi mengatakan peningkatan kebersihan (biosekuriti) kandang dan pengawasan lalu lintas perdagangan babi yang ketat sangat diperlukan. Hal itu bisa mencegah penyebaran virus ASF sehingga kematian babi bisa ditekan.

BacaJuga

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

12 September 2024
Petani rumput laut di NTT meradang pasca terbitnya pergub yang melarang pengiriman ke luar daerah (Joe-KatongNTT)

NTT Belum Ekspor Rumput Laut Tahun Ini

30 Mei 2024

Upaya jangka pendek, kata Andrijanto, sangat diperlukan melokalisir penyebaran virus dari babi yang telah mati (bangkai) dan diduga kuat akibat virus ASF. Langkah tersebut diperlukan karena babi yang mati masih bisa menjadi media penyebaran virus. Meskipun, virus ASF tersebut tidak berbahaya terhadap manusia.

Baca juga: Peternak Merugi, Harga Jual Babi Turun 50 Persen Akibat Virus ASF

“Tidak sedikit babi yang mati tersebut dibuang begitu saja di tempat terbuka, atau juga yang masih menjualnya kepada pengumpul untuk dijual secara eceran,” kata Andrijanto kepada KatongNTT.com, Senin, 30 Januari 2023.

Untuk itu, tegasnya, bagi peternak yang tidak sembarangan membuang atau tidak menjual lagi babi yang sudah mati dan menguburkannya perlu diberi insentif atau subsidi. Menguburkan babi yang mati akibat virus ASF itu merupakan pencegahan yang sangat bagus.

“Ada peternak yang membuang sembarangan karena kecewa kehilangan babi rata-rata Rp 5-7 juta per ekor. Jadi kalau ada pengumpul yang datang hanya membayar Rp 2 juta saja maka babi tersebut tidak dikubur,” ujar doktor jebolan IPB ini.

Jadi, lanjut Andrijanto, insentif yang diberikan sebagai penghargaan atas peternak yang dengan sukarela menguburkan bangkai babi. Upaya tersebut diharapkan mencegah penyebaran virus ASF.

Baca juga: Begini Cara Menghitung Kerugian Akibat Virus AFS Tewaskan Ratusan Babi di NTT

Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Kabupaten Sumba Timur Yohanis A. Praing mengambil langkah preventif. Dia menghentikan sementara lalu lintas ternak babi dari luar Sumba Timur.

“Kami meminta warga untuk tidak membeli ternak babi, daging babi dan produk olahannya dari wilayah yang belum diketahui status kesehatan ternak dan produk olahannya,” ujar Yohanis pekan lalu.

Dia juga meminta masyarakat proaktif memberikan informasi kepada petugas jika ternak babi mereka sakit. Petugas Dinas Peternakan sudah diminta siaga untuk memeriksa sekaligus bisa mengambil sampel darah babi setelah mendapatkan laporan dari masyarakat. [K-02]

Tags: #Ahlivirologi#Babi#Insentif#Peternakbabi#virusASF
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

by Rita Hasugian
12 September 2024
0

Boleh jadi kita tidak pernah terlintas cari tahu tentang jenis jagung yang kita konsumsi, apakah berasal dari bibit jagung lokal...

Petani rumput laut di NTT meradang pasca terbitnya pergub yang melarang pengiriman ke luar daerah (Joe-KatongNTT)

NTT Belum Ekspor Rumput Laut Tahun Ini

by Tim Redaksi
30 Mei 2024
0

Ekspor rumput laut NTT ini memang minim sejak ekspor perdana pada 2019 lalu sebesar 25 ton Alkali Treated Cottonii (ATC)...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati