• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Kamis, April 16, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Kolaborasi Dekranasda Provinsi NTT

Yuk, Simak Kisah Inspiratif Weli Manafe Jalankan UMKM Sudah 13 Tahun

Tim Redaksi by Tim Redaksi
4 tahun ago
in Dekranasda Provinsi NTT
Reading Time: 5 mins read
A A
0
Weli Manafe, 52 tahun bersama beberapa produk olahannya yang tersedia di tempat produksinya di Lasiana, Kupang, Provinsi NTT. (KatongNTT.com)

Weli Manafe, 52 tahun bersama beberapa produk olahannya yang tersedia di tempat produksinya di Lasiana, Kupang, Provinsi NTT. (KatongNTT.com)

0
SHARES
286
VIEWS

Kupang – Weli Manafe, 52 tahun, fokus memproduksi makanan tradisional Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kreativitasnya tak berhenti di satu atau dua produk, tapi lebih dari 10 produk dengan bahan dasar khas NTT.

Dengan modal awal Rp200 ribu, Weli berhasil mengembangkan usaha UMKM miliknya . Awalnya hanya memproduksi dan menjual abon ikan.

BacaJuga

Produk 'Dosa', yang adalah cuka tradisional dari Rote, NTT (Ruth-KatongNTT)

Mengenal ‘Dosa’, Cuka Tradisional dari Rote, NTT

27 Mei 2023
Proses produksi garam di CV. Raja Baru milik Ferdinand Latuharu (Dok. CV. Raja Baru)

Pabrik Garam Ferdinand Latuheru Kesulitan Bahan Baku

21 Mei 2023

Weli memulai usaha kecil-kecilan dengan memproduksi abon ikan tahun 2009. Dia memberdayakan hasil laut yang melimpah di NTT.

Tak hanya memafaatkan bagian daging ikan untuk abon ikan dan dendeng ikan, Weli juga mengolah tulang ikan untuk membuat camilan. Sebelumnya, tulang ikan hanya jadi sampah.

“Kita buat inovasi, bagaimana pemanfaatan tulang ikan. Selama ini tulang ikan itu dibuang saja. Palingan hanya dijadikan makanan binatang. Makanya kami buat camilan stik tulang ikan,” kata Weli saat ditemui di rumahnya di kawasan Lasiana.

Seiring berjalan waktu, sayap bisnis Weli berkembang ke produk pertanian seperti jagung, ubi, dan pisang. Dia memproduksi marning jagung, aneka keripik pisang dan ubi.

Baca Juga: Gokma Tampubolon Kembangkan Bisnis Madu “Big Bolon” dari Hutan Timor

Dan, Weli berlanjut ke produksi teh kelor dan serbuk kelor. Weli menyadari manfaat serta potensi kelor di NTT.

“Ini (kelor) kan untuk mencegah stunting juga, jadi kami buat teh kelor dan serbuk kelor. Karena memang ini sangat bermanfaat dan bisa dikonsumsi semua kalangan,” tuturnya.

“Selain itu, ada stik kelor. Itu produk turunan dari kelor itu. Lalu stik ubi ungu,” imbuh perempuan asal Pulau Rote ini.

Selain 10 produk olahan yang sudah disebutkan di atas, Weli bersama kelompok UMKMnya yang diberi nama Mawar juga membuat gula semut, kacang telur, pisang gula lontar, hingga minyak kayu putih.

Beberapa produk makanan olah produksi UMKM milik Weli Manafe, 52 tahun, asal Pulau Rote, Provinsi NTT. (KatongNTT.com)

Ide untuk membuat banyak produk ini muncul dari banyaknya permintaan dari pelanggan.

“Prinsipnya yang penting bisa menghasilkan uang saja. Jadi apa saja yang bisa dibuat yang penting bisa menghasilkan uang. Jadi kenapa harus lebih dari satu, karena kami layani sesuai dengan permintaan konsumen,” ujar ibu empat anak itu tertawa.

Menurutnya, konsumennya suka akan rasa produk buatannya. Weli jadi bersemangat untuk bekerja.

Alhasil, Weli meraup untung bersih mencapai Rp 10 juta per bulan.

”Kalau modal awal itu 200 ribu. Akhirnya (uang) berputar, sekarang ya, perbulan itu bisa lima sampai 10 juta per bulan” ungkap Weli.

Weli juga melek dengan pemanfaatan media sosial dalam pemasaran produk UMKnya. Dia menjual produknya melalui media sosial ketimbang menitipkannya di toko-toko.

Baca Juga: Mobi Pada Jual Sedotan dari Rumput dan Bambu Aur

Dulu dia menintipkan produknya di toko-toko di Kupang, namun hingga tiga bulan berselang, tak ada pemasukan. Untuk itu ia lebih memilih menggunakan jejaring sosial dan rajin mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Kota Kupang untuk memamerkan produk buatannya.

“Karena di toko-toko sistemnya titip, makanya  perputaran uangnya susah. Palingan kalau ada kegiatan-kegiatan, baru ada booth, di situ kita biasa pasarkan. Nah di situ kalau ada konsumen yang datang belanja, kami kasih dengan kartu nama. Mereka tinggal menghubungi nomor yang tertera. Dan akan kami antar ke alamatnya,” kata Weli.

Meski tidak lagi menitipkan produknya di toko-toko, namun Weli mendapat tempat untuk memajang produk-produk olahannya di Dekranasda NTT.

“Karena perputaran uangnya tidak macet. Jadi kita UMKM tetap hidup, karena kan produksinya rutin,” ujar Weli memberi alasan produknya dijual di Dekranasda NTT.

Memproduksi banyak produk olahan dan meraup laba yang lumayan, menurut Weli sebagai hasil belajar dari lingkungan sekitarnya dan dari pelatihan-pelatihan yang dibuat pemerintah.

Produk UMKM Weli Manafe yang tersedia di Dekranasda NTT. (KatongNTT.com)

“Kalau untuk latar belakang (pendidikan), saya tidak punya titel S (sarjana). Untuk pendidikan saya hanya  batas SMA. Tapi bagaimana saya bisa belajar untuk membuat inovasi. Itu belajar dari teman-teman yang tahu. Jadi kita saling belajar. Selain belajar dari teman, kalau ada pelatihan dari dinas-dinas ikut,” jelasnya.

Dia menekuni pekerjaannya yang sudah lumayan lama juga. Kenangan indah tak terlupa. Misalnya ketika tangan terluka karena harus menekan kuat daging ikan agar benar-benar kering dari minyak untuk menjadi abon.

“Dulu kan belum ada mesin spinner untuk keringkan abon. Jadi masih pakai alat yang kecil, dan itu harus ditekan kuat. Jadi tangan sampai luka,” ujarnya

Kamar tidur anaknya pernah terpaksa beralih fungsi menjadi ruang produksi.

“Supaya bisa dapat izin edar dan halal,” jelas perempuan yang sudah memiliki cucu itu.

Pekerjaan rumah yang masih dia hadapi adalah pengurusan izin halal serta belum tersedia mesin pengering kelor.

Bonus dari ketekunan menjalani usaha UMKM selama 13 tahun adalah Weli menjadi salah satu pengajar dalam pelatihan UMKM bagi pemula yang ingin serius berbisnis UMKM.

“Kebetulan dipercayakan dari komunitas perempuan. Jadi kalau ada permintaan dari kelompok-kelompok di kabupaten misalnya, untuk kami fasilitasi, maka ilmu yang kami miliki, kami bagi juga ke orang lain,” pungkas Weli tersenyum. *****

https://www.youtube.com/watch?v=pDnRJgwHgfs&t=148s
Silakan hubungi nomor +6281237488163 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!
Tags: #abonikan#DekranasdaNTT#Kelor#UMKM#WeliManafe
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Produk 'Dosa', yang adalah cuka tradisional dari Rote, NTT (Ruth-KatongNTT)

Mengenal ‘Dosa’, Cuka Tradisional dari Rote, NTT

by Tim Redaksi
27 Mei 2023
0

Produknya ia beri nama Dosa, yang berasal dari bahasa Rote, yang artinya Cuka. “Tujuannya hanya untuk memperkenalkan saja kalau kami...

Proses produksi garam di CV. Raja Baru milik Ferdinand Latuharu (Dok. CV. Raja Baru)

Pabrik Garam Ferdinand Latuheru Kesulitan Bahan Baku

by Tim Redaksi
21 Mei 2023
0

“Sebelumnya itu bahan baku dari tahun lalu bisa bertahan sampai sekarang,” ujar laki-laki yang pernah mengikuti pendidikan di PT. Garam...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati