Yogyakarta – Sebanyak 12 pengelola media lokal dan media segmentasi khusus dari berbagai daerah berkumpul di Yogyakarta untuk merumuskan kembali peluang dan strategi agar media tetap bisa bertahan dan berkembang.
Pertemuan dua hari (7-8 Maret 2024) yang bertajuk “Advance Training for The Media Business Viability” ini diselenggarakan oleh Suara.com dan Internasional Media Support (IMS) dengan dukungan European Union (EU).
Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono menjelaskan, saat ini media, baik nasional maupun daerah, menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal keberlangsungan bisnis.
Baca juga: Buruknya Media Para Politisi di Pemilu 2024
“Model bisnis media setelah pandemi berubah total, baik untuk media besar atau yang kecil,” kata Suwarjono. Namun, dia juga melihat peluang bagi media kecil untuk berkembang karena mereka lebih adaptif.
“Untuk saat ini yang beruntung adalah media yang tidak besar, (yang) jumlah timnya kecil. Mereka jauh lebih sustain daripada media besar. Artinya, menjadi kesempatan untuk teman-teman yang hadir di kegiatan ini, karena kebanyakan timnya cenderung tim kecil, berpeluang jauh lebih survive dan berkembang,” kata Suwarjono.
Eva Danayanti selaku Program Manager IMS di Indonesia menjelaskan, pertemuan untuk memberikan pelatihan kepada para pengelola media lokal dan segmentasi ini merupakan kelanjutan juga dari program serupa 1-2 tahun lalu. Peserta merupakan media-media terpilih yang selama ini menjalani program bimbingan bersama IMS dan Suara.com.
Baca juga: Riset AJI-PR2Media Temukan 82,6 Persen Jurnalis Perempuan Alami Kekerasan Seksual
Dia juga menjelaskan bahwa training dua hari ini hanyalah awal dari rangkaian program. Dalam beberapa bulan ke depan masih akan diikuti oleh sesi-sesi coaching spesifik, beserta peluang pendanaan demi membantu media-media peserta mewujudkan ide pengembangan bisnisnya.

Fokus Pelatihan
Salah satu fokus pelatihan adalah memahami kebutuhan pengguna atau audiens (user needs model). Emilie Lehmann–Jacobsen, Asia Program Development Adviser IMS dari Denmark, memaparkan tentang “User Needs Model 2.0” yang dikembangkan oleh BBC.
Emilie menjelaskan “User Needs Model 2.0” menyajikan diagram pembagian kebutuhan audiens yakni know (fact driven), understand (context driven), feel (emotion driven), dan do (action).
Baca juga: Saatnya Media Perempuan Berkolaborasi Menjawab Tantangan dan Hambatan
Model ini membagi kebutuhan audiens menjadi empat kategori:
Know (fact driven): Memenuhi kebutuhan audiens akan informasi.
Understand (context driven): Membantu audiens memahami sesuatu.
Feel (emotion driven): Memberikan pengalaman yang relate dan berefek pada audiens.
Do (action): Memfasilitasi audiens untuk melakukan sesuatu.
Peserta pelatihan juga diminta untuk menganalisis potensi user needs model dari berbagai isu, seperti target Indonesia memiliki 80 persen penduduk kelas menengah pada tahun 2045.
Di bagian lain, peserta juga diminta untuk mengidentifikasi audiens medianya masing-masing meliputi aspek demografi, konten terbaik atau yang paling perform berdasarkan device pembaca, waktu pembaca paling banyak mengakses informasi, dan lain-lain.
Peserta kemudian juga diminta melakukan studi kasus, dengan cara memilih artikel di situs masing-masing untuk dianalisis apakah sudah memenuhi aspek user needs yang mana, lalu diminta menganalisis user needs lain yang potensial.
Di hari kedua, Dany Yong, Asia Media Business Adviser IMS dari Malaysia, membantu peserta untuk mengeksplorasi potensi atau ide-ide pengembangan baru bagi bisnis media mereka.
Dany menekankan bahwa ide atau potensi yang dipertimbangkan haruslah menambah value baru atau meningkatkan value yang ada.
“Value sejatinya akan menjadi revenue, yang pada akhirnya akan meningkatkan ketahanan atau keberlangsungan bisnis media tersebut,” kata Dany.
Peluang Mendapatkan Media Innovation Grant
Para peserta juga berkesempatan untuk mendapatkan pendanaan lewat program Media Innovation Grant yang disiapkan IMS.Untuk mendapatkan dana tersebut, media harus melalui proses pitching ide, coaching, dan penyampaian proposal.******




