Kupang – Kondisi geografis dan aksesibilitas di Nusa Tenggara Timur (NTT) mempengaruhi penyaluran beras bantuan pangan.
Bantuan pangan ini merupakan program dari Badan Pangan Nasional (BAPANAS). Bulog sebagai pelaksana menunjuk PT Pos Indonesia sebagai penyalur.
Menurut Manajer Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Kanwil NTT, Faizal Jafar, bantuan ini sebanyak 17.400 ton beras yang alokasinya selama 3 bulan sedari Maret.
Baca juga : Tidak Ada Beras Ilegal ke Timor Leste, Stok Lebaran Dalam Perjalanan
BAPANAS menetapkan prosedur penyalurannya bertahap mulai Maret terlebih dahulu lalu April dan Mei. Per bulannya 10 kilogram beras.
Sedangkan penerima bantuan pangan dari Kabupaten Kupang misalnya, mereka harus datang ke Kota Kupang untuk mengambil jatah beras 10 kilogram tersebut setiap bulan.
Untuk itu Bulog meminta kepada BAPANAS agar penyalurannya disalurkan 30 kilogram sekaligus.
Baca juga : Stok Beras Bulog Kosong Dua Pekan, Pembeli Beralih ke Premium
“Karena kalau tidak begitu lebih mahal ongkos masyarakat datang ambil ke sini. Cuma karena kita di NTT geografisnya itu jadi kita minta dukungan BAPANAS untuk alokasikan 3 bulan langsung tidak bertahap lagi,” tukas Faizal belum lama ini.
Akses dan geografis ini tentu saja mempengaruhi target penyaluran. Hingga akhir Mei tercatat penyaluran untuk Maret sebesar 65 persen, 11 persen di April dan 6 persen untuk Mei. Presentase ini berbeda dengan target nasional karena tidak disalurkan bertahap.
Seharusnya penyaluran ini berakhir Mei di seluruh Indonesia tetapi BAPANAS memberikan perpanjangan waktu hingga akhir Juni.
Baca juga : Akses Timor Lumpuh Total, Butuh 2 Pekan Keruk Longsor di Takari
Beras bantuan ini berasal dari daerah surplus seperti Jawa Timur (Jatim) atau Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi. NTT, Maluku, Sulawesi Utara dan Papua termasuk daerah yang defisit beras.
Bantuan pangan ini juga berasal dari beras impor yang dialokasikan untuk Pulau Timor. Sedangkan Pulau Sumba dan Flores mendapatkan jatah beras dari Jatim.
Pengirimannya pun tidak sekaligus sesuai dengan jumlah pesanan. Misalnya dipesan 10 ribu ton maka yang tiba 250 sampai 1000 ton. Memang 1 kapal pembawa kontainer itu tidak bisa mengangkut beras saja tetapi juga logistik lainnya.
Baca juga : NTT Kekurangan Petani Milenial, Ini Dampak dan Tantangannya!
“Memang kita minta bantuan dari teman-teman di pusat untuk percepatan pengiriman stok,” ungkap dia.
Apabila dengan bantuan ini tidak berdampak pada harga pasar maka kuotanya kemungkinan akan ditambahkan atau digelar Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Beras (SPHP) lagi.
SPHP sendiri berupa operasi pasar yang digelar Bulog bersama mitra daerah sehingga masyarakat dapat membeli pangan secara langsung.****




