Kupang – Ganjar Pranowo resmi menggandeng Mahfud MD dalam kontestasi merebut kursi presiden dan wakil presiden pada pemilu 2024 nanti.
Hal ini secara resmi ditetapkan Megawati Soekarnoputri, ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada Rabu, 18 Oktober 2023.
Berikut, profil kedua tokoh publik besutan partai banteng ini.
Ganjar Pranowo
Pria yang lahir di desa lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah pada 28 Oktober 1968 ini awalnya bernama Ganjar Sungkowo. Namun kemudian diganti oleh orang tuanya menjadi Ganjar Pranowo karena Sungkowo sendiri artinya kesusahan atau kesedihan.
Ia bersekolah di SD dan SMP Kutoarjo. Kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMA BOPKRI 1, Yogyakarta dan lulus pada 1980.
Setelah itu, Ganjar kemudian lanjut kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Baca Juga: Tunjuk Mahfud MD Jadi Cawapres Ganjar, Megawati Punya 4 Alasan
Semasa kuliah, Ganjar disebut sering mengikuti demonstrasi. Ia pun sempat cuti kuliah dua semester karena tak punya biaya kuliah. Namun ia aktif bergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).
Setelah akhirnya mendapat gelar sarjana, ia mulai bekerja di beberapa tempat di Jakarta. Ia bekerja di PT Prakarsa, PT Prastawana Karya Samitra, dan PT Semeru Realindo Inti.
Ganjar pun disebut sebagai simpatisan PDI dan menjadi pengikut Megawati sejak 1996 saat konflik internal PDI terjadi.
Di 2004, ia mencalonkan diri menjadi anggota DPR-RI, namun ia tak mendapat cukup suara saat itu.
Akan tetapi, ia kemudian ia diangkat menjadi anggota pengganti antar waktu (PAW). Menggantikan Jacob Tobing, rekan separtai dan sedapilnya yang waktu itu dipilih Megawati untuk menjadi Duta Besar untuk Korea Selatan.
Ganjar kala itu berada di Komisi IV yang mengawasi bidang Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Kelautan, Perikanan dan Pangan.
Baca Juga: Resmi Jadi Capres PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo: Sebuah Kehormatan
Ia pernah diperiksa KPK dalam kasus korupsi alih fungsi hutan lindung di Banyuasin untuk kepentingan Pelabuhan Tanjung Api-Api, Sumatera Selatan. Ia diperiksa untuk tersangka kasus itu, yaitu Yusuf E. Faishal.
Ia kemudian naik menjadi anggota DPR RI pada periode 2009-2014. Ia ditempatkan pada Komisi II yang mengawasi bidang Pemerintahan Dalam Negeri, Otonomi Daerah, Aparatur Negara, Reformasi Birokrasi, Pemilu, Pertanahan, dan Reformasi Agraria.
Di 2013, ia pun menamatkan studinya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
Setelah itu, ganjar mencaonkan diri menjadi Gubernur jawa Tengah dan berhasil memimpin provinsi tersebut selama 10 tahun atau dua periode sejak 2013-2023.
Pada 21 April 2023, Ganjar kemudian resmi dicalonkan sebagai Calon Presiden Republik Indonesia oleh Megawati.
Baca Juga: Rizal-Rocky Sindir Ganjar Soal Kemiskinan di Jateng, Pengamat: Sulit Dibantah
Selama itu, nama Ganjar beberapa kali mencuat ke publik pada beberapa kasus. Di antaranya konflik Wadas, di Purworejo, Jawa Tengah.
Kasus ini terjadi karena adanya penambangan di desa tersebut yang berpotensi merusak lingkungan setempat. Namun Ganjar mengeluarkan SK terkait penetapan lahan pembangunan bendungan itu. Akan hal ini, Ganjar dituntut oleh warga setempat.
Lalu pada kasus sengketa Semen Indonesia yang mana pembangunan pabrik semen di pegunungan Kendeng ditolak oleh warga setempat. Warga pun menempuh jalur hukum dan melakukan unjuk rasa.
Gugatan mereka untuk membatalkan pembangun pabrik itu diterima MA. Namun kemudian Ganjar pada November 2016 mengeluarkan SK baru dengan mengganti nama PT Semen Gresik Tbk menjadi PT Semen Indonesia Tbk.
Baca Juga: KPU NTT Minta Publik Tanggapi Daftar Caleg Sementara
Nama Ganjar pun santer miring terdengar kala ia menolak secara tegas Timnas Israel untuk berlaga pada piala dunia U-20 yang rencananya akan diselenggarakan di Bali.
Hal ini membuat Indonesia gagal menjadi tuan rumah dan menutup harapan para pemain muda Indonesia untuk tmapil di piala dunia.
Selain itu, Ganjar pun secara terbuka berbicara dalam podcast bersama Deddy Corbuzier jika ia pernah tidak sengaja membagikan video porno di akun twitternya.
Ganjar bersikukuh hal yang dilakukannya adalah tidak salah karena ia sudah beristri. Namun publik kemudian mengkritik karena Ganjar dengan sendirinya telah melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) karena menyebarkan film yang mengandung unsur pornografi.
Mahfud MD
Lahir pada 13 Mei 1957 di Sampang, Madura, Jawa Timur. Awalnya, namanya hanya Mahfud. Namun kemudian oleh gurunya ditambah nama ayahnya di belakang menjadi Mahfud Mahmodin.
Hal ini dilakukan gurunya agar bisa membedakan dia dengan murid lainnya yang bernama Mahfud juga.
Baca Juga: Catatan Mahfud MD Soal NTT Sebelum Jadi Cawapres Ganjar
Ia lulus dari Pondok Pesantren Somber Lagah. Kemudian masa SMPnya ia habiskan di Pendidikan Guru Agama Negeri selama empat tahun.
Lalu bersekolah di Pendidikan Hakim Islam Negeri atau PHIN (setara dengan SMA) di Yogyakarta.
Setelah lulus dari PHIN, Mahfud kemudian berkuliah di dua perguruan tinggi sekaligus. Yakni di Universitas Gajah Mada (UGM) jurusan Sastra Arab, dan Universitas Islam Indonesia (UII) jurusan Hukum Tata Negara.
Ia lulus pada tahun 1983.
Baca Juga: NTT Terima 55 Jenazah, Mahfud MD : Pemda Terlibat Perdagangan Orang
Sesaat setelah mendapat gelar sarjana, ia lalu mengajar di almamaternya dan meneruskan kuliah program Pasca Sarjana S-2 bidang Ilmu Politik di UGM.
Ia lalu melanjutkan pendidikan Doktor S-3 di bidang Ilmu Hukum Tata Negara pada program Pasca Sarjana UGM. Ia lulus pada 1993.
Kemudian dinobatkan menjadi Guru Besar bidang Politik Hukum pada tahun 2000 di usia 43 tahun di Universitas Islam Indonesia.
Di tahun yang sama, Mahfud diangkat sebagai Menteri Pertahanan di era Presiden Abdurrahman Wahid.Ia pun menjadi anggota Tim Ahli Badan Pembinaan Hukun Nasional (BPHN) Departemen Hukum dan HAM.
Pada 2001, ia menjadi menteri kehakiman dan HAM.
Setelah itu, Mahfud MD masuk ke dunia politik dengan bergabung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Baca Juga: Mahfud MD : Demokrasi Kita Dibajak, Demokrasi Jual Beli
Pada 2004, Mahfud mendapat kursi di Senayan dan duduk di komisi III yang membidangi hukum, hak asasi manusia, dan keamanan.
Pada 2008, ia lalu terpilih menjadi hakim konstitusi melalui jalur DPR. Ia pun menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi selama dua periode, yakni 2008-2011 dan 2011-2013.
Pada kepemimpinan Jokowi yang kedua, Mahfud ditunjuk oleh Jokowi untuk menjadi Menkopolhukam.
Lalu tepat pada Rabu, 18 Oktober 2023 ia diangkat menjadi calon wail presiden mendampingi Ganjar Pranowo.
Selama menjadi akademisi, hakim, dan politisi, nama Mahfud kerap muncul jadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Mahfud MD Sebut Keterbukaan Informasi Cegah Kisruh di Pemilu
Di antaranya, soal ia yang gagal jadi wakil presiden Jokowi pada periode 2019-2024 lalu.
Waktu itu ia menjadi topik pembicaraan hangat usai digadang-gadang akan menjadi Cawapres Jokowi untuk periode keduanya.
Rumor itu diperkuat saat Mahfud sendiri mengaku disuruh untuk mempersiapkan diri menjadi Cawapres Jokowi saat itu.
Ia bahkan mengaku sudah mengirim CV dan ia datang ke lokasi memakai pakaian sesuai arahan yang diberikan. Namun, ketika di hari pengumuman Cawapres, nama yang dipilih bukan Mahfud melainkan Ma’ruf Amin.
Baca Juga: 5 Anggota DPR RI Dapil NTT Dengan Masa Jabatan Terlama
Selain itu, baru-baru ini ia disorot karena menyatakan ada dana mencurigakan Rp349 Triliun di Kementerian Keuangan.
Mahfud berseteru dengan anggota komisi III DPR pada April 2023 lalu. Yang dicurigainya ada tindakan pencucian uang di kementerian tersebut. Ia kemudian ditantang oleh beberapa anggota DPR untuk merinci penemuannya itu.
Lalu soal pernyataannya yang menyebut LGBT adalah kodrat yang dianugerahi Tuhan. Sehingga tidak dilarang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru.
Pernyataannya ini menuai banyak reaksi masyarakat. Namun kemudian ia mengklarifikasi jika ia hanya menjelaskan ulang argumentasi DPR dalam proses perancangan KUHP baru.***


