Kupang – Seorang ibu membawa 3 anak kecilnya di tengah hiruk pikuk menunggu beras murah tiba. Beberapa ibu mendekap anak mereka yang terkantuk-kantuk sambil menyusu. Beberapa nenek merenung di tempat yang teduh. Sekelompok bapak sedang sibuk membahas berbagai hal di tempat parkiran agar mengusir jenuh.
Mereka semua berkumpul sejak pagi di halaman Gereja Koinonia Kota Kupang menunggu kehadiran Bulog. Matahari makin lurus dengan ubun-ubun, terik kian menyengat halaman gereja, namun beras murah yang mereka butuh belum juga muncul.
Baca juga : Beras Mahal Sepanjang Sejarah Berdampak Lanjutan di NTT
Sebenarnya sudah dijanjikan pasar murah dari Bulog ini dimulai jam 10 pagi. Bulog membuat pasar ini di tiga titik pada Sabtu 2 Maret 2024. Salah satu titiknya di gereja itu kemudian di arena Car Free Day dan Gereja Bait-El Nunhila. Namun masyarakat sudah datang sejak jam 8 pagi.

Rupanya Bulog pun lebih telat sejam dari yang dijanjikan. Hari sudah sangat panas dan semuanya berpeluh. Mereka mengerumuni dua mobil boks yang berhenti di tengah-tengah halaman gereja. Beras murah yang ditunggu-tunggu nampak di depan mata. Mereka berdesak-desakan. Ibu-ibu kerepotan dengan anak-anak mereka yang terselip dalam kerumunan. Beberapa bapak menyerobot nenek-nenek untuk berada di baris terdepan. Ibu-ibu yang tak sabaran juga mengambil jalur belakang tapi petugas kukuh tak mau melayani.
Baca juga : Salah Data, Bantuan Pangan Beras Bagi NTT Lambat Datang
Mereka beramai-ramai saling himpit untuk mendapat beras berlabel stabilisasi pasokan dan harga pasar (SPHP). Tiap orang dibolehkan membeli 2 karung yang berukuran 5 kilogram dengan membayar Rp 110 ribu.
Bila di pasar mereka hanya dibolehkan membeli sekarung saja seharga Rp 57.500. Di pasar murah ini harga.beras Bulog lebih murah Rp 5 ribu daripada harga di pasar.
Bulog juga menjual beras premium Rp 145 ribu seukuran 10 kilogram tapi hanya segelintir orang yang meminatinya. Ada pula dijual bawang dan minyak goreng. Namun hanya beras SPHP yang lebih cepat terjual.
Baca juga : Harga Naik, Bulog NTT Hanya Bisa Serap Beras di Ngada
Nenek Fransina Funu juga mengincar beras SPHP yang lebih murah. Wanita 66 tahun ini sudah berjam-jam menanti. Fransina datang sebelum jam 8 pagi karena khawatir tak kebagian. Ia meninggalkan rumah setelah menghabiskan minuman penunda lapar tapi perut kosongnya kini minta diisi. Fransina lapar sekali.
“Su dari tadi sekali, su lapar,” katanya sambil memeluk beras yang ia dapat.

Hanya beras itu saja yang ia boyong dari sekian sembako yang dijual Bulog di siang terik itu. Beras SPHP itu untuk santapan 9 orang di rumah nenek bertubuh kecil ini.
Warga Kelurahan Nunleu ini tinggal serumah dengan putri tunggalnya yang sudah berkeluarga. Ia, putrinya, menantu dan cucu-cucunya biasa menghabiskan 40 kilogram beras per bulan. Sebenarnya ia ingin membeli 3 karung beras SPHP tapi aturan Bulog tak membolehkan.
Baca juga : Oma Bulan 43 Tahun Jual Kue di Kupang Andalkan Modal Sendiri
“Tadi mau tiga karung tapi sonde bisa dong bilang,” keluhnya.
Lansia ini hidup dari dana pensiun sang suami yang telah berpulang ketika anaknya baru masuk sekolah dasar. Menantunya bekerja di koperasi. Harga beras yang terus meninggi sudah tentu mempengaruhi kebutuhan keluarganya sejak Desember 2023.
Pasar dadakan di Sabtu siang itu adalah kesempatan paling masuk akal baginya. Ia rela datang lebih awal walau ujung-ujungnya harus berimpitan dengan pembeli lainnya.
“Cucu dong makan apa nanti kalau sonde dapat beras?” ungkapnya.
Baca juga : El Nino, Inflasi, dan Makan Tanpa Beli
Warga kelurahan lain juga ikut berebut membeli beras murah di Gereja Koinonia. Misalnya seorang ibu bersama bayinya dari Kelurahan Naimata yang menenteng dua karung beras. Bayinya tertidur dalam kain jarik yang menyilang di tubuhnya.

Kenaikan harga beras sudah terjadi di Kota Kupang sekitar empat bulan terakhir atau sejak akhir 2023. Naiknya harga beras terjadi setelah Natal dan Tahun Baru. Saat itu stok beras masih tersedia.
Kini harga beras premium di NTT per 1 Maret 2024 ini mencapai Rp 16.930 atau atau kini dijual Rp 17 ribu per kilogram dari seharusnya harga eceran tertinggi (HET) Rp.14.400/kg.
Baca juga: NTT Yang Miskin Selama 8 Gubernur Berganti
Untuk harga beras medium seharusnya HET Rp 11.500/kg namun harga di pasaran naik hingga Rp 15.130/kg atau dijual Rp 15.500.
Bulog pada 26 Februari lalu menyebut penyaluran beras SPHP di NTT per Januari 2024 sebanyak 2.363 ton dan di Februari 2.640 ton sehingga totalnya sudah 5.000 ton.
Realisasi kegiatan beras SPHP di ritel modern seperti mal.hingga Alfamart dan Indomaret di NTT selama 2024 ini pun hanya 73 ton yaitu 38 ton di Januari dan 35 ton di Februari ini.
Beras murah Bulog ini untuk menekan lonjakan harga pasar namun faktanya harga beras tetap di atas HET. Mahalnya beras ini diperkirakan akan terus berlangsung saat momentum Ramadhan tahun ini. ***


