Kupang – Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk dalam 10 provinsi tertinggi yang mengalami peningkatan luas panen padi, produksi padi, juga produksi beras tertinggi di Indonesia selama 2023.
Selama 2023 NTT mengalami peningkatan luas panen mencapai 184,70 ton, juga peningkatan produksi padi 766,81 ton, serta peningkatan produksi beras 449,14 ton.
Deputi Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) RI, M. Habibullah, menyampaikan ini dalam jumpa pers, Jumat 1 Maret 2024.
Baca juga : Beras Mahal Sepanjang Sejarah Berdampak Lanjutan di NTT
Selama 2023 itu luas panen padi di NTT naik 1,61 persen, juga 10,76 persen peningkatan produksi padi, serta 6,30 persen peningkatan produksi beras.
Habibullah kini memperkirakan luas panen padi secara nasional periode Januari-April 2024 ini bakal turun dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pada Januari-April 2024 ada panen raya seluas 3,52 juta hektare namun ini lebih rendah dibandingkan Januari-April 2023 yang bisa mencapai 10,21 juta hektare.
“Ada penurunan sebesar 0,69 juta hektare (16,48 persen) dibanding periode yang sama tahun lalu. Luas panen padi ini juga menurun dibanding 2022,” tukasnya.
Baca juga : Prediksi Kementan, Harga Beras Tetap Mahal Jelang Panen Raya
Untuk produksi beras per Maret 2024 ini diperkirakan 3,54 juta ton sedangkan di April 2024 diprediksi 4,92 Juta ton. Namun NTT dalam periode ini tak lagi masuk dalam provinsi dengan peningkatan produksi beras tertinggi di Indonesia.
Kepala BPS NTT, Matamira B Kale, sendiri mengatakan potensi luas panen di Januari – April 2024 hanya 34,98 ribu hektar atau mengalami penurunan sebesar 16,16 ribu hektare (31,61 persen) dibandingkan periode yang sama pada 2023.
Produksi padi Januari – April 2024 juga diperkirakan mengalami penurunan sebesar 30,46 persen atau 62,26 ribu ton dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Baca juga : Salah Data, Bantuan Pangan Beras Bagi NTT Lambat Datang
Begitu pun produksi beras Januari – April 2024 diperkirakan mengalami penurunan 36,47 ribu ton (30,46 persen) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara kenaikan harga beras sudah terjadi kurang lebih empat bulan belakangan atau sejak akhir 2023. Kenaikan ini terjadi pasca Natal dan tahun baru saat stok beras masih beredar di pasaran.
Kini harga beras premium di NTT per 1 Maret 2024 ini mencapai Rp 16.930 atau atau kini dijual Rp 17 ribu per kilogram (kg) dari ketetapan harga eceran tertinggi (HET) Rp.14.400/kg.
Baca juga : Kekeringan, Harga Beras Naik, dan Tanam Singkong
Untuk harga beras medium seharusnya HET Rp 11.500/kg namun harga di pasaran naik hingga Rp 15.130/kg atau dijual Rp 15.500.
Direktur Serelia Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Mohammad Ismail Wahab, memprediksi harga ini tak bakal turun meskipun terjadi panen raya.
Data Kementan menyebut produksi padi atau gabah kering giling (GKG) sebesar 6,1 juta ton Maret ini. Khusus NTT potensi produksinya 31.988 ton GKG dari potensi luas panen 8.797 hektare.
Baca juga : Dampak El Nino, Pemda NTT Saran Petani Tak Lagi Tanam Padi
Menurut dia panen raya akan terjadi Maret hingga Mei 2024 dan membuat harga beras dapat turun secara gradual. Namun momen hari raya puasa dan lebaran di April membuat pasar biasanya memasang harga tinggi.
“Akan tetapi biasanya momentum Ramadhan dan Idul Fitri akan membuat harga bahan pangan pokok akan meningkat,” tukasnya. ***




