Kupang – Relasi bisnis UMKM di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan retail modern seperti Alfamart dan Indomaret masih belum begitu signifikan.
Dinas Koperasi, Ketenagakerjaan, Transmigrasi dan UMKM (Diskopnakertrans dan UMKM) NTT menyatakan jaringan bisnis antara UMKM dengan pemain besar memang diperlukan. Namun di NTT hal ini masih minim terjadi saat ini.
Baca juga : Alfamart Dinilai ‘Sombong’ Dengan UMKM NTT
Kepala Bidang Pemberdayaan Koperasi dan UMKM, Adi Mandala, saat diwawancarai di kantor Badan Pusat Statistik (BPS) NTT usai sosialiasi Pendataan Lengkap Koperasi dan UMKM (PL KUMKM).
“Ada relasi bisnis antara usaha besar dan usaha kecil dalam hal ini Alfamart atau Indomaret yang harusnya bisa bekerjasama dalam konteks pemasaran,” ungkap dia, Senin 2 Oktober 2023.
Relasi bisnis ini perlu tercipta untuk mendongkrak ekonomi UMKM melalui gerai Alfamart dan Indomaret yang sudah masuk ke desa-desa beberapa tahun belakangan.
Baca juga : Minim Serapan Produk UMKM, Kadin NTT Panggil Indomaret dan Alfamart
“Masalah relasi bisnis antara usaha besar dan kecil sampai sejauh ini belum berjalan. Contoh Alfamart untuk menyediakan produk UMKM di etalase mereka seperti jual produk madu atau gula air kita. Itu persoalan,” tukas dia saat memberikan materi di BPS NTT.
Selain relasi, ia menekankan pendampingan dan pembinaan yang terukur yang masih kurang dilakukan. Pembinaan ini dapat membantu agar produk-produk UMKM bisa menembus retail modern.
Dinasnya sendiri juga pernah mendata jumlah UMKM di NTT. Pada 2021 lalu pendataan secara manual dilakukan dari dinas yang ada di kabupaten dan kota dan mendapati total 98.270 UMKM.
Baca juga : Bank Dunia Sebut UMKM Tulang Punggung Ekonomi Dunia
“Itu Desember 2021 yang dikirim kepada kami dan kami teruskan ke kementerian,” tukasnya.
Ia berharap nantinya PL KUMKM dapat menjadi data rujukan bagi pemerintah dengan memperlihatkan kategori usaha-usaha kecil sehingga bisa mendapat relasi bisnis yang bisa signifikan.
UMKM juga diharapkan dapat menjadi pelaku ekspor dan tidak saja bermain pada pasar domestik karena banyak produk yang sudah menjadi unggulan ekspor.
Baca juga : Cara Sederhana Wasti Anin Jaga Warisan Leluhur di Fatumnasi
“Yang sudah ekspor belum banyak tapi yang sudah itu produk Kopi Bajawa, Kopi Manggarai, Madu Amfoang,” kata dia.
Ekspor terkait dengan kepastian ketersediaan stok produk, kata dia, yang memang harus memenuhi kurasi standar internasional.
Baca juga : Warga Desa Ajaobaki Produksi Pangan Lokal Tuai Omset Rp 30 Juta per Bulan
“Itu yang perlu dipenuhi pelaku usaha karena dibutuhkan dalam jumlah yang memadai sehingga stok harus tersedia dan memenuhi standar ekspor,” lanjutnya.
Peningkatan produktivitas ini, kata dia, sangat terkait dengan modal usaha, peralatan industri, hingga tenaga kerja yang dipakai. ****




