Kupang – Ahok menuai sindiran dari Prabowo Subianto perihal video dirinya yang mengatakan Gibran dan Jokowi tidak bisa bekerja. Sejumlah menteri Jokowi seperti Airlangga Hartarto, Sandiaga Uno hingga Luhut Binsar Panjaitan turut mengamuk.
Ahok pun menanggapi hal tersebut dalam kunjungannya ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam video itu, jelas Ahok, ia tengah menerangkan soal program nawacita milik Jokowi kepada seorang nenek 82 tahun yang pro Prabowo – Gibran. Namun video itu, kata dia, dipotong hingga tak sesuai konteks sesungguhnya.
Baca juga : Misi Ahok ke NTT, Pecahkan Basis Suara Jokowi
“Apa Pak Jokowi bisa kerja? Maksudnya apa? Kalau dia tidak jadi presiden apa dia bisa melanjutkan program nawacita? Itu, konteksnya dipotong,” jelas Ahok sambil tersenyum.
“Lu kira gue gila? Gue barengan sama pak Jokowi masa Pak Jokowi nggak bisa kerja, lu gila? Gue masih waras bos,” tandas Ahok sedikit tertawa.
Ia mengaku tetap berteman dengan Jokowi meskipun kini berbeda prinsip politik tapi dirinya tak akan serampangan menyerang Jokowi.
Baca juga : Rekam Jejak Prabowo – Gibran Menuju Pilpres 2024
“Kalau dibilang gue gila pun mau nyerang Jokowi dan Gibran, kalau lu nggak percaya gue temanan sama dia, gue nggak bego-bego amat nyerang kek begitu di depan umum,” tandasnya.
Sikapnya yang demikian karena ragu program nawacita dilanjutkan Prabowo sekalipun Gibran, anaknya Jokowi, menjadi wakilnya.
“Tau maksudnya apa? Lu wakil presiden masa bisa meneruskan nawacita sih? Ini yang berkuasa kan Prabowo,” tukas mantan Komisaris Pertamina ini.
Baca juga : Presiden Belum Setujui Frans Seda Jadi Pahlawan Nasional
Sikap Ahok yang menuai amuk dan kritik dari kubu capres nomor urut 02 ini karena sosoknya yang egaliter muncul di tengah menguatnya politik identitas, politik dinasti dan politik oligarki saat ini.
Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Kupang, Ahmad Atang, juga menilai politisi fenomenal sekelas Ahok yang mengedepankan kekuasaan untuk rakyat tentu tak akan diam lagi sekarang.
“Ahok merasa gerah dengan perilaku kekuasaan yang memupuk seluruh sumber daya politik untuk kepentingan keluarga,” nilai Atang.
Baca juga : Kampus Kritik Jokowi Habis-habisan, Bahaya Besar Kini Mengintai
Gaya Ahok yang vulgar dan berterus terang itu tentu akan membuat lawan politiknya tidak nyaman dan sudah pasti menyerangnya dan PDIP.
“Tapi bagi Ahok ini hal biasa dalam politik,” katanya.
Ahok pun mencari panggung dalam mewujudkan gaya politiknya itu, lanjut Atang, untuk Ganjar Pranowo – Mahfud MD sebagai sosok dengan watak yang diharapkannya. Ahok juga tidak mungkin beralih haluan ke Prabowo apalagi Anies Baswedan yang adalah rival pada pilkada DKI.
Baca juga : Jadi Pengurus PDIP, Anggota Bawaslu Lembata Dipecat
NTT pun disebut Atang menjadi target Ahok dengan segala potensi yang dimilikinya untuk memenangkan pasangan capres-cawapres nomor urut 3 itu. Ahok tentu mengandalkan simpatisan dan pendukungnya di NTT.
Hadirnya Ahok di Kupang juga menunjukkan bahwa NTT penting secara politik untuk mendulang dukungan melalui agendanya berdialog di gereja. Menurutnya Ahok mau membalikkan keadaan agar basis suara Jokowi di NTT tidak lari ke Prabowo.
Baca juga : Deret Anak-anak Politisi Besar Rebutan Suara di NTT
“NTT sebagai salah satu basis politik PDIP tidak harus diambil oleh Paslon lain,” kata Atang lagi.
Strategi ini, kata dia, dilakukan agar PDIP tidak kehilangan muka di mata partai politik lain maupun dalam bersaing dengan paslon yang didukung oleh Jokowi.
“Jadi, kantong-kantong PDIP seperti NTT harus dipertahan dan tidak dibiarkan untuk direbut oleh paslon lain,” tukasnya. ***


