Kupang – Direktur Utama PT Jamkrida NTT, Ibrahim Imang, menanggapi hasil riset Transparancy International (TI) Indonesia atau TII yang mengkategorikan PT Jamkrida NTT cukup buruk dalam hal anti korupsi.
Ibrahim yang pernah menjabat sebagai Direktur Pemasaran Bank NTT ini meminta TI Indonesia datang langsung menyampaikan kepadanya data yang telah dikeluarkan ke publik itu.
“Berarti bahwa saya pasti paling tidak benar dan tidak mengerti untuk urusan itu. Jadi yang menilai kami itu pasti paling mengerti jadi tolong datang ajar kami supaya kami bisa menjadi lembaga yang taat,” komentarnya ketus.
Baca juga : Riset Anti Korupsi BUMD NTT Dapati Fakta Buruk
Ibrahim juga mengaku tidak mengetahui standar penilaian seperti apa yang dipakai dalam riset yang menggunakan metode Transparency in Corporate Reporting (TRAC).
Riset TRAC ini dilakukan oleh TI Indonesia terhadap 47 BUMD di 5 provinsi termasuk di NTT. PT Jamkrida NTT mendapatkan poin di bawah 5 atau kategori merah yang berarti buruk.
“Karena saya tidak tahu nilainya dasarnya apa, apa hasil penilaiannya, tapi dapat pemberitahuan saja kami paling jelek dalam komitmen pemberantasan korupsi,” ujarnya saat peresmian Bank NTT sebagai bank devisa di Kantor Pusat Bank NTT, Selasa 5 September 2023.
Saat ditanyai mengenai sistem dan komitmen soal anti korupsi dalam PT Jamkrida NTT ia justru ingin TI Indonesia yang mengungkapkan itu.
Baca juga:KPK Ingatkan Banyak Indikasi Korupsi di NTT
“Saya tidak tahu, tanyalah mereka yang menilai saya paling jelek. Saya tidak mengerti tentang bagaimana mengurus itu. Mereka yang menilai saya jelek itu pasti sangat paham,” tukas dia.
Mantan direksi Bank NTT semasa Gubernur NTT Frans Lebu Raya ini juga mengeluarkan pernyataan bahwa ia keluar dari Bank NTT karena menolak korupsi.
“Padahal Ibrahim Imang ini berhenti dari Bank NTT hanya karena menolak korupsi. Iya, berhenti jadi direksi Bank NTT karena menolak korupsi tapi saya dinilai jadi orang paling buruk,” ungkap dia.
Baca juga : Mahfud MD : Demokrasi Kita Dibajak, Demokrasi Jual Beli
Ibrahim sendiri mengaku pada 2012 lalu menolak melayani seorang debitur dengan uang Rp 70 miliar. Ia diberhentikan dari jabatannya di Bank NTT terhitung sejak tanggal 12 Maret 2012.
Pemberhentian Ibrahim itu disampaikan Direktur Utama Bak NTT, Daniel Tagu Dedo, bersama jajarannya dalam pertemuan dengan Komisaris Utama Bak NTT, Frans Salem yang juga Sekretaris Daerah NTT di Kupang. Melansir kompas.com pemberitahuan itu disampaikan 20 Maret 2012. ****




