• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Sabtu, April 25, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Opini

Fenomena Ekstrim El Nino di NTT, Mitigasi dan Adaptasi

Oleh: Ryan Sudrajat P. Putra, BMKG (Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Timur)

Rita Hasugian by Rita Hasugian
3 tahun ago
in Opini
Reading Time: 6 mins read
A A
0
Ilustrasi petani di Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur. (KatongNTT.com)

Ilustrasi petani di Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur. (KatongNTT.com)

0
SHARES
255
VIEWS

Kondisi panas terik dipicu fenomena ekstrim El Nino hampir dirasakan seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur khususnya masyarakat Kota Kupang saat ini.  Fenomena El Nino sangat mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari. Dari sudut pandang lingkungan, banyak masyarakat mengeluhkan kekeringan dan kebakaran hutan di Kota Kupang. Sudut pandang lain seperti kesehatan juga mengkhawatirkan dimana polutan dan debu menjadi resultan. Ini terjadi akibat kekurangan pasokan curah hujan.

Kemudian, berkaca dari sudut pandang ekonomi, kondisi ini membuat pergerakan ekonomi semakin melambat karena pertumbuhan tanaman terhambat. Sehingga hasil dari petani di kebun tidak maksimal. Akan tetapi, di setiap peristiwa ini pasti akan ada kebaikan di dalamnya.

Fenomena ekstrim El Nino ini juga menjadi berkah tersembunyi karena diperkirakan bakal membuat kawasan perairan Indonesia penuh dengan potensi tangkapan ikan. Itu terjadi karena perubahan suhu laut dan pola arus selama El Nino yang mendingin.

BacaJuga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

13 April 2026
Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

8 April 2026

Di wilayah Nusa Tenggara Timur khususnya Kota Kupang, masyarakat sangat mengharapkan air hujan turun di saat seperti ini. Terpantau di beberapa komunitas grup di media sosial bahwa masyarakat NTT sudah sangat kekurangan air bersih. Khususnya di Kota Kupang, masyarakat terkena penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan beberapa lahan kebun sumber penghasilan yang terbakar.

Baca juga: Suhu NTT Terasa Lebih Panas Hingga November

Konsepsi El Nino dan Perkembangannya
Kurangnya pasokan curah hujan dan tingginya suhu udara yang dirasakan masyarakat Kota Kupang saat ini menjadi pertanyaan di kalangan masyarakat hingga elit. Apa penyebabnya kondisi saat ini dan akan berapa lama kondisi ini berlangsung?

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia dan Lembaga meteorologi dunia lain seperti Japan International Bureau of Meteorology (BoM) Australia, Cooperation Agency (JICA), dan National Aeronautics and Space Administration (NASA) USA sepakat bahwa telah terjadi fenomena El Nino.

Ya, akhir-akhir ini tentu saja kata El Nino menjadi konsumsi khalayak ramai. El Nino menjadi topik hangat dari gelar wicara di berbagai media baik televisi, media massa cetak maupun online.

Lalu apa EL Nino? Fenomena yang setidaknya saat ini cukup meresahkan kita masyarakat. Dalam buku Tanya Jawab: La Nina, El Nino dan Musim di Indonesia yang disusun BMKG, Terminologi El Nino berasal dari bahasa Spanyol dimana El Nino artinya “anak laki-laki”.

Istilah “El Nino de Navidad” pertama kali dikemukakan oleh para nelayan di negara Peru. Mereka menggunakan istilah tersebut guna membantu mereka dalam menangkap ikan. “El Nino de Navidad” menjadi bahasa antar nelayan untuk menandai situasi arus laut hangat tahunan, yang mengalir ke arah Selatan di sepanjang pesisir perbatasan Peru dan EKuador yang kemunculannya saat menjelang Natal.

Kondisi perairan yang menghangat di wilayah Amerika Selatan itu setelah diteliti ternyata berkaitan dengan anomali pemanasan lautan yang lebih luas di Samudera Pasifik bagian timur. Kondisi ini juga dapat mencapai garis penanggalan internasional di bagian Pasifik Tengah.

Secara harfiah, El Nino disebutkan sebagai fenomena pemanasan suhu permukaan laut di atas kondisi normalnya. Ini terjadi di Samudera Pasifik bagian Tengah. Saat kondisi normal (netral) maka angin pasat akan berhembus dari timur ke arah barat dan melintasi Samudra Pasifik. Sehingga situasi ini menghasilkan arus laut yang juga mengarah ke barat dan disebut dengan Sirkulasi Walker. Selama fase netral, suhu muka laut di barat Pasifik akan selalu lebih hangat dari bagian timur Pasifik.

Baca juga: El Nino, Pangan Lokal, Bapanas, dan Cium Nasi Putih

Fenomena EL Nino terjadi karena interaksi antara permukaan laut dan atmosfer bumi di Pasifik tropis. Berubahnya suhu permukaan laut di wilayah tersebut akan mempengaruhi atmosfer yang ada di atasnya. Kondisi El Nino menurut beberapa ahli dan lembaga meterologi dunia berlangsung sekitar 9-12 bulan. Namun beberapa kejadian El Nino dapat bisa berlangsung lebih lama tergantung dari intensitasnya.

Kondisi El Nino saat ini berlangsung dari awal Mei 2023, dimana awal kemunculannya El Nino dengan kategori rendah. Kondisi El Nino telah berlangsung hingga September 2023 dengan kategori lebih tinggi yaitu El Nino moderate. Berdasarkan prakiraan BMKG dan lembaga meteorologi dunia lainnya, fenomena El Nino akan berlangsung pada kategori El Nino moderate hingga Desember 2023. Bahkan sampai Februari 2024 pada kategori El Nino rendah.


Bagaimana Kondisi Iklim Saat Ini?
Kondisi kering akibat fenomena EL Nino membuat banyak wilayah di Nusa Tenggara Timur tidak mendapatkan curah hujan. Monitoring Hari Tanpa Hujan dari BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Timur (Update 30 Spetember 2023).

Umumnya Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami hari tanpa hujan dengan kategori sangat panjang (31-60 hari tanpa hujan) hingga ekstrem panjang (>60 hari).

Sedangkan wilayah-wilayah yang mengalami hari tanpa hujan dengan kategori ekstrem panjang (>60 hari) di antaranya Kabupaten Ngada (sekitar Watukapu dan Waepana), Kabupaten Nagekeo (sekitar Rendu), Kabupaten Ende (sekitar Pos Met Ende dan Warukasu), Kabupaten Sikka (sekitar Stasiun Meteorologi Frans Seda, Magepanda, Waigete dan Bola). Kemudian Kabupaten Lembata (sekitar Waipukang, Nagawutung dan Wulandoni).

Kabupaten Alor (sekitar Kalabahi dan Mebung), Kabupaten Sumba Timur (sekitar Stamet Waingapu, Wanga, Kanatang, Kawangu, Kananggar, Lambanapu, Praiwitu dan Ori Angu), Kabupaten Sabu Raijua (sekitar Stasiun Meteorologi Tardamu dan Daieko), Kabupaten Rote Ndao (sekitar Papela, Feapopi dan Batutua).

Baca juga: NTT Didorong Tingkatkan Produktivitas Singkong Guna Antisipasi Rawan Pangan

Kota Kupang (sekitar Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Timur, Stasiun Meteorologi El Tari, Stasiun Maritim Tenau, Sikumana, Bakunase, Oepoi, Naioni, Fatubena, Manulai dan Mapoli), Kabupaten Kupang (Batuliti, Baumata, Bendungan Tilong, Oelnasi, Oenesu, Oemofa, Oekabiti, Lelogama, Hueknutu dan Sulamu), Kabupaten Timor Tengah Selatan (sekitar Panite, Oebelo dan Batu Putih), Kabupaten Timor Tengah Utara (sekitar Sap’an dan Lurasik) serta Kabupaten Belu (sekitar Atambua, Fatubenao, Umarese, Fatukmetan, Fatulotu, Wedomu, Haekesak dan Pos Meteorologi Atambua).

Adapun untuk daerah Kamanggih Kabupaten Sumba Timur sudah mengalami 156 hari tanpa hujan atau sekitar 5 bulan tidak mengalami hujan.

Berdasarkan analisis Curah hujan Dasarian III September 2023 oleh BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Timur, secara umum curah hujan di wilayah Nusa Tenggara Timur berada pada kategori rendah (di bawah 5 mm/hari). Kondisi ini diprakirakan akan berlangsung hingga  Oktober 2023.


Data Suhu Udara Maksimum yang Teramati di BMKG
Secara klimatologis (rata-rata selama 30 tahun), wilayah Kota Kupang mengalami Suhu Udara Maksimum  pada Agustus – Oktober. Suhu di Lasiana rata-rata berkisar 35 hingga 38 Derajat Celcius.

Berdasarkan data hasil pengamatan BMKG, selama September 2023 suhu maksimum tertingggi terjadi pada 26 September 2023 dengan Suhu 36.2°C. BMKG memastikan kondisi ini tidak membahayakan. Suhu udara maksimum saat ini masih masuk dalam kategori normal. Suhu Maksimum ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan suhu maksimum yang  pernah teramati di kantor BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Timur Kota Kupang  sejak tahun 1985 sampai September 2023.

Saat itu suhu maksimum tertinggi terjadi pada 9 Mei 2002 dengan suhu maksimum 38.6°C. Kondisi ini membuat banyak orang resah dan tidak nyaman.

Penjelasan Suhu Udara Panas Terik Saat ini
Secara umum, fenomena kondisi suhu panas terik init terjadi karena dipicu oleh beberapa kondisi dinamika atmosfer sebagai berikut:

  • Saat ini kondisi cuaca di wilayah Nusa Tenggara Timur didominasi oleh kondisi cuaca yang cerah dan sangat minimnya tingkat pertumbuhan awan terutama pada siang hari. Kondisi ini tentunya menyebabkan penyinaran matahari pada siang hari ke permukaan bumi tidak mengalami hambatan signifikan oleh awan di atmosfer. Sehingga suhu pada siang hari di luar ruangan terasa sangat terik. Seperti diketahui, wilayah Nusa Tenggara Timur masih mengalami musim kemarau 2023.
  • Di akhir September ini, posisi semu matahari menunjukkan pergerakan ke arah selatan ekuator. Ini berarti bahwa sebagian wilayah Indonesia di selatan ekuator termasuk wilayah Nusa Tenggara Timur mendapatkan pengaruh dampak penyinaran matahari yang relatif lebih intens dibandingkan wilayah lainnya. Pemanasan sinar matahari cukup optimal terjadi pada pagi menjelang siang dan pada siang hari. Namun demikian, fenomena astronomis ini tidak berdiri sendiri dalam mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis atau ekstrem di permukaan bumi. Faktor-faktor lain seperti kecepatan angin, tutupan awan, dan tingkat kelembapan udara memiliki dampak yang lebih besar juga terhadap kondisi suhu terik di suatu wilayah seperti terjadi saat ini di Nusa Tenggara Timur. Kondisi fenomena suhu panas terik ini diprakirakan masih dapat berlangsung pada Oktober 2023, mengingat kondisi cuaca cerah masih cukup mendominasi pada siang har

 Baca juga: Gerakan ‘Akar Rumput’ di NTT Melawan Perubahan Iklim

Kapan Awal Musim Hujan 2023/2024 di Nusa Tenggara Timur?

Hasil dari pengolahan BMKG menunjukkan bahwa awal musim hujan 2023/2024 dari total 28 Zona Musim (ZOM) di Nusa Tenggara Timur, sebanyak 9 ZOM (32%) diprakirakan akan mengawali Musim hujan di November 2023. Wilayahnya meliputi Manggarai Barat bagian tengah, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo bagian barat, Kupang bagian tengah dan timur, Timor Tengah Selatan bagian barat dan utara, Timor Tengah Utara bagian barat dan timor laut, Belu bagian utara, Sumba Barat bagian Timur, Sumba Tengah bagian selatan dan Sumba Timur bagian tengah.

Sedangkan awal musim hujan untuk 19 ZOM lainnya terjadi pada Desember 2023 sebanyak 68%. Awal musim hujan 2023/2024 di Nusa Tenggara Timur diperkirakan mundur atau lebih lambat jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis (periode awal musim hujan 1991-2020).

Terbanyak 16 ZOM (57%) diprediksi terlambat dari biasanya meliputi Manggarai Barat bagian tenggara, Manggarai bagian selatan, Manggarai Timur bagian selatan, Ngada bagian barat daya, utara dan tenggara, Nagekeo bagian barat, Ende bagian tenggara, Sikka, Flores Timur bagian selatan, Pulau Sumba, Rote Ndao, sebagian besar Pulau Timor.

Yang diperkirakan sama dengan normal sebanyak 11 ZOM (39%) dan MAJU pada 1 ZOM (4%) yaitu Manggarai Barat bagian tengah. Secara umum musim hujan 2023/2024 di wilayah Nusa Tenggara Timur diprakirakan normal atau sama dengan rerata klimatologisnya pada 18 ZOM (64%). Terdapat 10 ZOM (36%) akan mengalami kondisi hujan bawah normal (musim hujan lebih kering atau lebih rendah dari rerata klimatologisnya).

Mitigasi dan Adaptasi
Kondisi kering saat ini tentu akan menimbulkan banyak dampak negatif bagi masyarakat  dan Pemerintah. Kondisi saat ini mengharuskan kita menghemat penggunaan air, kita juga harus lebih berjaga Ketika membakar sampah khususnya di area dekat hutan, menjaga kesehatan dengan banyak mengkonsumsi air putih dan makanan yang sehat.

Situasi saat ini perlu diantisipasi dan tidak sebatas pada imbauan dari institusi BMKG saja. Upaya mitigasi dan adaptasi yang serius sangat diperlukan dari pemerintah daerah dan pusat serta seluruh stakeholder terkait. Kiranya, ulah “si anak laki-laki kecil” dapat kita kontrol dan minimalisir sehingga tak menimbulkan kerugian yang akan kita sesali ke depannya.

Datangnya fenomena El Nino adalah fenomena alam yang tak satupun dari kita dapat mengelak darinya. Keadaan yang serba digital dan teknologi mutakhir saat ini dapat memprediksi dan mengurangi dampak yang ditimbulkan. Akan tetapi dengan tanpa kearifan dan kesadaran kita maka dampak itu akan sangat besar terasa. *****

Tags: #BMKGNTT#El Nino#kekeringandintt#Musimhujan#musimkemarauntt
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

by Gerardus Taena
13 April 2026
0

Konsep komunio merupakan salah satu pilar teologis yang mendasar dalam diskursus kekristenan, terutama dalam konteks Gereja dan kehidupan religius. Dalam...

Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

by Frumentiana Leto
8 April 2026
0

Pernahkah kita membayangkan seorang bapak yang berangkat sebelum fajar menyingsing, mendayung perahu ke tengah laut, dan pulang siang hari dengan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati