Kupang – UPTD Museum Daerah Provinsi NTT memulai digitalisasi lebih dari 7 ribu koleksi bersejarah untuk lebih mudah dipelajari publik maupun peneliti.
Kepala UPTD Museum Daerah Provinsi NTT, Aplinuksi M.A Asamani, menjelaskan ini saat ditemui di kantornya, Jumat 10 November 2023.
Baca juga: Nyaris Punah, Tarian Togo Apur Ditampilkan di Museum Kebangkitan Nasional
Kini ada 7.400 lebih koleksi yang mana masih yang terbanyak adalah tenun di antara benda peninggalan zaman megalitikum, perang dunia dan masa kolonialisme, juga berbagai peninggalan lainnya termasuk dari budaya maritim dan pertanian NTT.
“Sekarang masih belum banyak, kalau tidak salah sekitar 300-an koleksi (mulai digitalisasi) baru mulai di tahun ini, dengan kekurangan tenaga tadi itu,” ungkap dia.
Program digitalisasi ini memang memerlukan penambahan tenaga IT dan pelatihan sejenis. Sementara ini telah dibangun kolaborasi juga dengan Politeknik Negeri Kupang dalam pengembangannya.
Baca juga : BI Beber Syarat Tenun NTT Jadi Jaminan Kredit
“Sistem sudah ada tentu kita perlu tenaga IT,” jawab dia lagi.
Sistem dimaksud adalah untuk mendokumentasikan secara digital seluruh koleksi yang bersifat internal dan bersifat publikasi, termasuk perpustakaan museum yang bisa mendukung penelitian, maupun pendataan pengunjung.
“Juga memudahkan penambahan narasi ketika ada informasi lain atau penelitian terbaru soal koleksi yang ada,” sebutnya lagi.
Baca juga : El Nino, Pangan Lokal, Bapanas, dan Cium Nasi Putih
Untuk koleksi yang akan dipublikasi nantinya akan melalui berbagai platform media sosial dalam bentuk video, foto ataupun live streaming.
“Itu bisa menjadi edukasi bagi anak-anak atau generasi akan datang,” tukasnya.
Museum merupakan tempat untuk menyimpan benda-benda koleksi sejarah untuk dikenalkan kepada masyarakat. Demikian maka masyarakat pun bisa menghibahkan koleksinya untuk dirawat dan dipublikasikan oleh museum.
Baca juga : Kaum Muda Desa Hewa-Flores Timur Mendokumentasi 12 Padi Lokal
“Museum menjadi tempat untuk melestarikan benda budaya. Ada yang tersimpan di tokoh adat atau masyarakat, memang kalau terawat ya tidak apa tapi untuk lebih terpublikasi maka sebaiknya bisa dirawat di museum,” jelasnya lagi.
Untuk tahun 2022 sendiri, kata dia, ada lebih dari 11 ribu pengunjung yang lebih dominan adalah mahasiswa, pelajar, masyarakat, kemudian wisatawan asing. ***




