• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Kamis, April 16, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Bisnis

NTT Bebas Antraks, Masyarakat Tak Boleh Lengah

Tim Redaksi by Tim Redaksi
3 tahun ago
in Bisnis
Reading Time: 2 mins read
A A
0
NTT Bebas Antraks, Masyarakat Tak Boleh Lengah

Petugas Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang memastikan mulut sapi tidak memiliki gejala penyakit berbahaya. (Putra Bali Mula - KatongNTT)

0
SHARES
33
VIEWS

Kupang – Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Kupang tetap memberikan imbauan kepada masyarakat kendati belum ditemukannya antraks di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala BKP Kupang, Yulius Umbu Hunggar, mengatakan pihaknya telah menjaga pintu masuk agar produk maupun hewan pembawa berbagai penyakit berbahaya tidak muncul di NTT.

BacaJuga

Produk olahan hasil laut NTT oleh UMKM CV Elitism di Kupang Exotic Festival 2025 di halaman kantor Gubernur NTT, 26 Juni 2025. (Rita Hasugian/KatongNTT)

UMKM NTT Mulai Olah Hasil Laut Jadi Produk Unggulan

29 Juni 2025
Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

12 September 2024

Baca juga : NTT Cegah Antraks Sebelum Jatuh Korban

Masyarakat NTT terutama peternak, kata Yulius, harus benar-benar memperhatikan makanan atau pakan dan air untuk ternak.

“Pastikan tidak tercemar,” jawab Yulius di Instalasi Karantina Pertanian BKP Kelas I Kupang, Jumat 7 Juli 2023.

Antraks berasal dari bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini dapat bertahan hingga 60 tahun lamanya di tanah dan sporanya menjadi penyakit.

Baca juga : Kepala Karantina Sebut NTT Berpeluang Ekspor Jagung dan Daging, Ini Syaratnya

“Antraks ini penyakit yang ada di tanah yang bisa bertahan hingga 60-an tahun. Suatu waktu bisa menular ke sapi melalui rumput,” ungkapnya.

Masyarakat terutama peternak diminta segera melapor ke dinas peternakan daerah atau petugas kesehatan hewan setempat bila ada tanda-tanda tak wajar pada ternak.

Ternak dengan ciri antraks yang spesifik, jelas Yulius, mengeluarkan darah dari hidung, luka pada kulit dan diare darah.

Baca juga : Pabrik Pakan Ternak di NTT Belum Terwujud, Terkendala Produksi TJPS

NTT memang tergolong endemik antraks atau tak terjadi kasus seperti di Gunungkidul, DI Yogyakarta, yang menelan korban jiwa usai mengonsumsi daging dari sapi yang mati mendadak. Maka dari itu ternak di NTT belum wajib divaksin karena status endemik tersebut.

“Tapi kita antisipasi dengan konsisten melarang tidak memasukkan ternak potong sapi, kerbau, domba dan sebagainya, juga produknya ke NTT seperti yang terkait antraks juga,” lanjut Yulius.

Bila bakteri antraks ini sudah menjangkiti hewan maka seharusnya dimasak di suhu minimum 100 derajat celsius supaya bakterinya bisa mati.

Baca juga : Virus ASF Serang Ternak Babi, NTT Rugi Rp 2,3 Triliun

“Tapi diimbau sebaiknya untuk tidak makan hewan atau daging yang sudah tercemar antraks. Hewan yang sudah terpapar pun harusnya dimusnahkan dengan dibakar, bukan dikubur,” tegas Yulius.

Orang yang terpapar antraks juga akan mengalami infeksi kulit hingga infeksi pencernaan yang fatal ketika spora masuk ke dalam tubuh.

Baca juga : Bahaya Rabies, Ikuti Langkah Ini Untuk Mencegah Terinfeksi

Sporanya dapat mengkontaminasi melalui makanan atau minuman atau melekat pada luka atau goresan di kulit.

“Antraks pada manusia terjadi sebagai infeksi kulit, paru, atau usus,” tukasnya. ****

Tags: #antraks#BalaiKarantinaPertanianKupang#CegahantraksmasukNTT#Peternakansapi
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Produk olahan hasil laut NTT oleh UMKM CV Elitism di Kupang Exotic Festival 2025 di halaman kantor Gubernur NTT, 26 Juni 2025. (Rita Hasugian/KatongNTT)

UMKM NTT Mulai Olah Hasil Laut Jadi Produk Unggulan

by Rita Hasugian
29 Juni 2025
0

Di tengah laut biru dan pantai berpanorama indah, potensi ekonomi dari hasil laut di Nusa Tenggara Timur masih tersembunyi di...

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

by Rita Hasugian
12 September 2024
0

Boleh jadi kita tidak pernah terlintas cari tahu tentang jenis jagung yang kita konsumsi, apakah berasal dari bibit jagung lokal...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati