Kupang – Platform kitakerja.id menjadi sarana belajar berwirausaha berbasis gender yang menjadi program Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia). Proses pembelajaran pertanian hortikultura ramah lingkungan di Nusa Tenggara Timur (NTT) memberikan manfaat dan kesejahteraan.
Dalam akun Instagram, Mety (32 tahun), petani asal Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, menjelaskan keberhasilannya mengembangkan usaha hortikultura dengan mempelajari beragam informasi, termasuk melalui platform kitakerja.id dan berbagai media sosial lainnya.
Baca : Kamboja, Singkong ‘Pejabat’, dan Sehari Tanpa Nasi
“Saya aktif di media sosial, belajar memanfaatkan teknologi seperti sensor dan aplikasi pertanian pintar sehingga bisa memantau tanaman dan manajemen air,” ujarnya seperti dikutip KatongNTT.com, Senin (26/2/2024).
Dia mengakui bahwa edukasi pertanian pertanian modern sangat diperlukan karena aktivitas pertanian memerlukan modal besar di tengah cuaca yang tidak menentu dan gangguan hama. Hal ini menjadi kendala tersendiri tetapi dirinya berhasil didukung karena passion dan komitmen yang kuat pada pertanian. Proses pembelajarannya membuahkan hasil karena di atas lahan dua hektare, Mety bersama 13 anggota kelompoknya bisa menghidupi keluarga mereka.
“Menghasilkan produk seperti kol, sawi hijau, sawi putih, dan lain-lain dengan omzet bulanan lebih dari Rp 10 juta,” ujar Mety.
Baca : Pacar Terbanyak Melakukan Kekerasan Terhadap Perempuan di NTT
Mety merupakan Duta Petani Milenial 2021 yang mengawali perjalannya melalui Program Green Skill 2.0. Dalam program Plan Indonesia di NTT tersebut, dirinya belajar pertanian hortikultura ramah lingkungan yang berbasis pemahaman gender. Mety menjadi bukti nyata orang muda bisa berhasil sebagai petani dan pencapaiannya bermanfaat bagi warga sekitar.
Baca : Galang Donasi Stunting dan Air Bersih, Ratusan Peserta Lari dari Soe-Kupang
kitakerja.id merupakan platform e-learning komprehensif dan pelacakan kemajuan digital mentorship untuk kaum muda. Ini merupakan langkah Plan Indonesia memberdayakan kaum muda (15-29 tahun), khususnya perempuan, dalam program ketenagakerjaan dan kewirausahaan kaum muda (Youth Employment and Entrepreneurship/YEE).
Baca : NTT Terima 143 Jenazah PMI Menjelang Akhir 2023
Program mendorong wirausaha petani muda perlu mendapat apresiasi. Selain menjadi persoalan nasional, proses regenerasi petani juga semakin dikhawatirkan di NTT. KatongNTT.com pernah memberitakan bahwa Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT mengakui jumlah petani muda di NTT sangat minim dan semakin berkurang. Hingga Mei 2023 lalu, jumlah petani milenial di NTT baru mencapai 8.693 orang. Jumlah tersebut masih berbanding jauh dengan petani aktif hingga 2018 lalu yang mencapai 942.455 orang.
Baca : Sektor Pertanian NTT Terancam Minimnya Jumlah Petani Milenial
Minimnya jumlah petani muda tersebut dikhawatirkan meningkatkan krisis pangan di NTT. Saat ini saja, NTT sangat menggantungkan pasokan beras dari Makassar dan Surabaya. Padahal, tradisi masyarakat NTT sebenarnya lebih akrab dengan jagung dan umbi-umbian, terutama singkong. [Anto]




