Ada masa-masa ketika manusia tidak kehilangan iman secara tiba-tiba, tetapi pelan-pelan kehilangan arah. Kita masih datang beribadah, masih menyebut nama Tuhan, masih terlibat dalam pelayanan, tetapi hati tidak lagi berkobar. Kita tetap berjalan, namun tidak tahu sungguh ke mana. Dalam keadaan seperti itu, kisah dua murid di jalan ke Emaus terasa sangat dekat. Mereka bukan orang yang tidak pernah percaya. Mereka adalah orang-orang yang kecewa.
Mereka membawa luka, kebingungan, dan harapan yang runtuh. Mereka berjalan menjauh dari Yerusalem, menjauh dari pusat peristiwa yang seharusnya memberi hidup, karena mereka tidak lagi tahu bagaimana memahami semuanya. Tema dan Subtema GMKI 2025-2027 membaca kisah ini sebagai dasar teologi peziarahan: ketika kita berada dalam kesulitan, reaksinya sering kali adalah kecewa dan menjauh, tetapi justru di jalan itulah Kristus datang menghampiri, berjalan bersama, mendengar, dan memulihkan arah hidup.
Baca juga: Menggagas Kolaborasi Setara Antara Budaya, Gereja, dan Negara
Di sinilah tema Paskah PGI 2026 menjadi sangat penting. PGI menegaskan bahwa tema tahun ini adalah “Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita” berdasarkan 2 Korintus 5:17. Dalam penjelasannya, PGI menyebut bahwa manusia telah gagal merawat hidup yang dianugerahkan Tuhan, baik dalam relasi antarpribadi, antarkeluarga, antarbangsa, maupun antarciptaan. Karena itu, kebangkitan Kristus bukan sekadar berita kemenangan rohani, tetapi karya Allah yang menerobos kebuntuan dan kekacauan akibat ulah manusia, lalu menghadirkan transformasi manusia seutuhnya, sampai berdampak pada keluarga, masyarakat, dan lingkungan hidup.
Kalau dua rumusan ini dibaca bersama, kita menemukan sesuatu yang sangat menggugat. Paskah ternyata bukan sekadar perayaan bahwa maut telah dikalahkan. Paskah adalah panggilan untuk jujur bahwa ada yang rusak dalam kemanusiaan kita. Ada relasi yang patah, ada pelayanan yang kehilangan kasih, ada persekutuan yang menjadi formalitas, ada kuasa yang merusak, ada bumi yang terus dieksploitasi, ada sesama yang martabatnya diabaikan. PGI menyebut ini sebagai kegagalan manusia merawat hidup. Dan GMKI menunjukkan bentuk konkretnya di medan yang sangat nyata: konflik internal, dualisme kepengurusan, merosotnya kaderisasi, relasi yang transaksional, gaya kepemimpinan yang kaku, melemahnya spiritualitas, kekerasan terhadap perempuan, gereja yang kehilangan suara kenabian, kampus yang makin neoliberal dan individualistis, serta masyarakat yang dibebani korupsi, intoleransi, krisis ekologis, dan ketimpangan di Indonesia Timur.
Karena itu, peziarahan bukan konsep puitis yang jauh dari kenyataan. Peziarahan adalah cara orang beriman menempuh luka tanpa menyerah pada keputusasaan. Peziarahan tidak berfokus pada tujuan akhir semata, tetapi pada kemampuan menghubungkan setiap peristiwa sebagai ruang perjumpaan dengan Tuhan. Bahkan peristiwa-peristiwa pahit dalam tubuh organisasi dapat dijadikan titik tolak untuk lahir kembali dalam kesadaran baru. Luka memang tak dapat dihapus, tetapi dapat dijadikan pijakan bagi kebangkitan.
Baca juga: Budaya Tutu Unu Wolokoli Terancam Punah
Bukankah ini juga inti Paskah? Kristus yang bangkit tidak muncul pertama-tama di tempat yang rapi, aman, dan sudah pulih. Ia hadir di tengah murid-murid yang takut, kecewa, dan bingung. Ia datang kepada orang-orang yang sedang kehilangan cara untuk memahami hidup. Itu berarti, Paskah tidak berbicara kepada manusia ideal, tetapi kepada manusia yang retak. Maka refleksi ini mengajak kita bertanya dengan jujur: jangan-jangan kita sendiri sedang ada di jalan ke Emaus. Kita lelah oleh konflik yang tak selesai. Kita letih melihat pelayanan menjadi arena ego. Kita muak melihat gereja lebih sibuk dengan gedung daripada penderitaan rakyat. Kita gelisah melihat kampus melahirkan manusia cerdas tetapi miskin nurani. Kita sedih melihat bumi rusak atas nama pembangunan. Dan di tengah semuanya, kita bisa tergoda mengira Tuhan jauh. Padahal, justru di jalan itulah Kristus berjalan bersama kita.
Tetapi Kristus tidak hanya menemani, tetapi juga membentuk kembali cara kita berelasi. Itu sebabnya peziarahan dalam Tema dan Subtema GMKI tidak bisa dipisahkan dari kasih persahabatan. Kisah Emaus dibaca sebagai relasi antara Tuhan dan manusia yang bersifat dekat, setara, dan memulihkan. Yesus hadir bukan sebagai penguasa yang mendikte, tetapi sebagai sahabat yang berjalan bersama, bertanya, mendengar, menjelaskan, bahkan menegur. Kasih persahabatan berarti berjalan bersama, saling memahami, saling mengenal, dan saling menegur dalam kesetaraan yang menghargai perbedaan. Ia menjadi kritik yang sangat tajam bagi budaya organisasi dan kehidupan bergereja yang sering jatuh pada jabatan, formalitas, manipulasi kuasa, dan relasi yang dingin.
Baca juga: Menyehatkan Agama di Ruang Publik Kita
Di sinilah Paskah menjadi sangat personal. Kristus yang bangkit tidak hanya memulihkan doktrin, tetapi memulihkan cara kita menjadi manusia. Ia mengubah hubungan yang vertikal menjadi persahabatan yang memanusiakan. Maka pembaruan kemanusiaan yang dibicarakan PGI tidak mungkin berhenti dalam dimensi batin. Jika Kristus sungguh membarui kita, seharusnya itu tampak dalam cara kita memimpin, mendengar, menegur, dan merawat sesama. Gereja yang percaya pada kebangkitan tidak bisa terus memelihara budaya saling curiga. Organisasi yang mengaku berpusat pada Kristus tidak bisa merasa normal dengan relasi transaksional, kekerasan, atau kepemimpinan yang menindas. Paskah menuntut lebih dari sekadar kata “hidup baru.” Ia menuntut komunitas yang lebih manusiawi.
Namun refleksi ini belum lengkap kalau berhenti pada manusia saja. Tema dan Subtema GMKI dengan sangat kuat menegaskan bahwa transformasi harus terjadi bersama seluruh ciptaan. Ia menyebut perlunya tindakan pro-hidup, keberpihakan pada keadilan, perdamaian, kesetaraan, dan keutuhan ciptaan. Ia menolak pola hidup dunia yang dikuasai egoisme, kekerasan, diskriminasi, intoleransi, dan kekuasaan yang merusak manusia maupun alam. Bahkan secara konkret, ia mengaitkan panggilan ini dengan perubahan iklim, kerusakan ekologis, korupsi, radikalisme, intoleransi, pengangguran, dan ketimpangan sosial di Indonesia Timur.
Hal ini sejalan dengan tekanan PGI bahwa pembaruan dalam Kristus berdampak pada keluarga, masyarakat, dan lingkungan hidup. Kebangkitan Kristus tidak hanya menebus “jiwa” secara privat. Kebangkitan Kristus memulihkan arah hidup manusia agar kembali kepada tujuan Allah bagi seluruh ciptaan. Dengan kata lain, iman yang tidak menyentuh luka sosial dan ekologis sesungguhnya belum memahami Paskah secara utuh. Bila kita merayakan kebangkitan tetapi membiarkan bumi dihancurkan, korban kekerasan dibungkam, dan rakyat kecil ditindas, maka liturgi kita belum sungguh menjadi kehidupan.
Baca juga: Mendobrak Cara Pandang dalam Beragama
Mungkin itulah panggilan paling mendalam dari refleksi ini: Paskah harus mengubah arah langkah kita. Seperti murid-murid Emaus yang akhirnya kembali ke Yerusalem, kita pun dipanggil berbalik arah. Dari kecewa menjadi berharap. Dari saling menyalahkan menjadi saling memulihkan. Dari pelayanan formal menjadi persahabatan yang hidup. Dari iman yang privat menjadi keberpihakan yang profetik. Dari relasi yang rusak menjadi shalom yang memulihkan relasi dengan Tuhan, sesama dan alam.
Jadi, ketika PGI berkata bahwa Kristus bangkit membarui kemanusiaan kita, dan GMKI berkata berubahlah, temukanlah kasih Allah dalam peziarahan, sesungguhnya keduanya sedang mengarahkan kita pada satu pertobatan yang sama. Pertobatan itu bukan hanya supaya kita menjadi lebih rohani, tetapi supaya kita menjadi lebih manusiawi. Lebih lembut terhadap yang terluka. Lebih adil terhadap yang tertindas. Lebih bersahabat terhadap yang berbeda. Lebih bertanggung jawab terhadap bumi. Lebih berani bersuara di tengah dunia yang terluka.
Kiranya Paskah tahun ini tidak berhenti sebagai perayaan tahunan. Kiranya ia menjadi jalan pulang bagi hati yang letih. Menjadi nyala bagi iman yang redup. Menjadi teguran bagi komunitas yang kehilangan kasih. Menjadi dorongan bagi gereja dan gerakan mahasiswa untuk hadir kembali di tengah luka zaman. Dan ketika Kristus yang bangkit berjalan bersama kita dalam peziarahan, semoga kita pun dimampukan menjadi sahabat bagi sesama dan ikut bertransformasi bersama seluruh ciptaan. Sebab hanya dengan demikian dunia dapat melihat bahwa kebangkitan Kristus bukan sekadar kabar lama yang diulang, melainkan kuasa hidup yang sungguh sedang membarui kemanusiaan kita.
*Penulis merupakan tim Spiritualitas PP GMKI 2025-2027.


