Kupang – Hari Perempuan Internasional, 8 Maret, mengingatkan lagi mengenai kemajuan signifikan yang dilakukan perempuan secara global hingga saat ini. Namun di baliknya terus terdapat marginalisasi, ketidakadilan, dan diskriminasi.
Krisis global sendiri telah berdampak secara tidak proporsional terhadap perempuan dan anak perempuan dengan memperbesar kesulitan mereka di daerah rawan konflik, perubahan iklim, kemiskinan, dan kelaparan.
Statistik mengungkap realitas yang suram yaitu di setiap wilayah dunia ini yang mana perempuan lebih mungkin menghadapi kelaparan daripada laki-laki.
Baca juga : Maria Loka Dampingi Korban Kekerasan di Lembata Dipicu Kisah Tragis Keponakan
Serangan militer Israel di Gaza misalnya telah menewaskan lebih dari 30.000 jiwa, 70 persennya adalah perempuan dan anak-anak. Satu juta perempuan telah mengungsi dan 3.000 perempuan menjanda.
Sementara di Indonesia, kesetaraan gender dalam pendidikan telah dicapai namun di beberapa sektor kemajuan masih lambat.
Menurut data BPS di 2023, partisipasi angkatan kerja perempuan adalah 54,4%, jauh di bawah partisipasi laki-laki. Memang 64% Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dikelola oleh perempuan namun ini hanya representasi secara besar di bisnis skala mikro.
Prevalensi kekerasan dan praktik berbahaya terhadap perempuan juga terus menjadi masalah yang mendesak. Survei Nasional Pengalaman Hidup Perempuan (SPHPN) tahun 2021 melaporkan 1 dari 4 perempuan berusia 15-64 tahun telah mengalami kekerasan dalam hidupnya.
Baca juga : Kisah Perempuan NTT Bertahan Dari Mahalnya Harga Beras
Ketidaksetaraan gender juga memengaruhi kemampuan perempuan dan anak perempuan untuk membuat keputusan sendiri tentang tubuh, kesehatan, dan masa depan mereka. Ketika kesehatan seksual dan reproduksi dan hak reproduksi perempuan dan anak perempuan tidak terpenuhi, konsekuensinya sangat serius.
Setiap jamnya ada seorang ibu yang meninggal karena komplikasi dari kehamilan dan persalinan. Lebih dari setengah putri dari perempuan usia 15-49 tahun yang tinggal bersama telah menjalani pemotongan dan pelukaan genitalia perempuan (P2GP) menurut SPHPN 2021. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022, terdapat 1 dari 12 perempuan berusia 20-24 diketahui telah menikah sebelum berusia 18 tahun.
Menurut Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Valerie Julliand, perempuan hanya dapat mencapai potensi penuh dalam lingkup sosial, politik, dan berkontribusi dalam pembangunan bila menjalankan otonomi tubuh mereka dan membuat pilihan yang terinformasi bagi diri sendiri.
Perempuan secara global, kata dia, telah berupaya meruntuhkan hambatan dan memajukan kesetaraan gender, mulai dari berjuang untuk hak asasi manusia hingga membuat kemajuan dalam pendidikan dan peran kepemimpinan.
Baca juga : Pegawai di Kantor Dinas Pendidikan NTT Wajib Masuk Kerja Jam 5.30 Pagi
“Kemajuan tersebut tidak dapat disangkal namun tantangan untuk pencapaian kesetaraan gender masih tetap ada,” kata dia.
Ia sendiri menekankan peran kritis investasi dalam memajukan kesetaraan gender. Perkiraan PBB diperlukan $ 360 miliar per tahun hanya untuk menutup kesenjangan gender dalam pendidikan saja. Investasi yang bisa secara signifikan meningkatkan PDB (Produk Domestik Bruto) global sebesar 20% dan menciptakan 300 juta pekerjaan baru pada tahun 2035.
“Kita membutuhkan investasi publik dan swasta dalam program untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan, memastikan pekerjaan layak, dan mendorong inklusi dan kepemimpinan perempuan dalam teknologi digital, pembangunan perdamaian, aksi iklim, dan di semua sektor ekonomi,” jelas dia.
Baca juga : Indeks Ketimpangan Gender di NTT Turun
Kali ini Hari Perempuan Internasional 2024 bertema Berinvestasi Pada Perempuan Mempercepat Kemajuan. Ia mengharapkan upaya mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan terhadap perempuan dapat lebih baik.
“Di Hari Perempuan Internasional, mari tegaskan kembali komitmen kita dalam mempercepat upaya untuk mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia,” tambah Valerie. ****


