• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Selasa, Mei 12, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Sorotan

Tangkal Stigma Bunuh Diri di Jembatan Kembar Liliba

Tim Redaksi by Tim Redaksi
2 tahun ago
in Sorotan
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Tangkal Stigma Bunuh Diri di Jembatan Kembar Liliba

Kondisi pengerjaan Jembatan Kembar Liliba. (Putra Bali Mula - KatongNTT)

0
SHARES
151
VIEWS

Kupang – Jembatan Kembar Liliba akhirnya dibangun setelah 12 tahun lamanya terkendala masalah pembebasan lahan hingga berbagai hal.

Jembatan tersibuk di Kota Kupang ini memang resmi beroperasi sejak 1994 dan pada September 2024 akan ditambah satu jembatan lagi. Kedua jembatan kembar ini akan saling berdampingan. Namanya Jembatan Liliba jadi Jembatan Kembar Liliba.

BacaJuga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

3 Maret 2026
Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

18 Agustus 2025

Di samping pembangunan jembatan kembarnya, ada stigma yang harusnya sudah mampu dihapus dari citra jembatan ini. Jembatan Liliba dikenal sebagai jembatan kematian karena kasus bunuh diri seringkali terjadi di sini.

Baca juga : Masyarakat NTT Punya Andil Besar Dalam Kasus Bunuh Diri

Jembatan setinggi 500 meter ini tercatat menjadi obyek bunuh diri misalnya pada Oktober 2023 lalu. Berbagai kasus maupun percobaan bunuh diri yang menghebohkan terjadi dari benda sepanjang 135 meter ini.

Dosen Psikologi Universitas Nusa Cendana (Undana), Indra Yohanes Killing, menilai jembatan ini hanya obyek. Serupa Jepang dan Yogyakarta, dasar masalahnya adalah sosial budaya, begitu pula di Kota Kupang yang masih tabu untuk berempati pada orang-orang problem mental atau secara emosi ingin didengar.

Jembatan Liliba pun muncul sebagai pintu akhir dari keputusasaan seseorang hingga akhirnya langkah terburuk diambil di atas jembatan ini.

Stigma buruk jembatan ini harusnya bisa dihapuskan. Menurutnya tidak benar bila jembatan ini menjadi sebagai opsi untuk mengakhiri persoalan atau bahkan hidup seseorang.

Baca juga : Tekan Angka Bunuh Diri di NTT, Psikolog di Tiap Puskesmas Jadi Kebutuhan

“Jangan sampai ini menjadi pemahaman mereka kalau ini langkah yang ternyata bisa diambil karena ada contohnya sebagai opsi! Ini yang berbahaya juga. Mungkin seharusnya lebih banyak campaign soal kesehatan mental dan menghapus stigma terhadap Jembatan Liliba ini,” tukasnya saat diwawancarai akhir November lalu.

Perihal menghilangkan stigma Jembatan Liliba sebagai jembatan berdarah pun jadi kans semua orang termasuk masyarakat Kota Kupang sendiri.

Siapapun tentunya tidak ingin Jembatan Kembar Liliba yang dibangun hingga Rp 72 miliar menjadi obyek serupa dengan jembatan pendahulunya.

“Apalagi sudah dibangun jembatan baru ini. Jadi bagaimana? Ini mau seperti apa antisipasi sosial budaya ini? Kalau dibiarkan maka akan makin banyak kejadian dan banyak yang terpapar juga untuk bertindak sama,” tambah dia.

Baca juga : Empat Jenis Bunuh Diri dan Pemicunya

Stigma tak baik ini pun makin berkembang dengan cepat melalui media sosial yang kian pesat saat ini. Bila ada kasus bunuh diri di jembatan tersebut maka akan menjadi buah bibir warga Kota Kupang.

Hal ini pun mestinya tidak bisa lagi dibiarkan karena akan memicu kejadian serupa lagi terutama bagi orang-orang putus asa yang mengkonsumsi media sosial.

Tindakan bunuh diri, jelas Indra, diambil sebagai jalan pintas oleh seseorang agar bisa keluar dari rasa sakit psikologis yang tidak tertahankan.

Masyarakat modern termasuk di warga Kota Kupang harus mulai terbiasa dan lebih peka untuk mendengarkan permasalahan orang lain tanpa lebih dahulu menghakimi.

“Yang harus dipromosikan adalah harus belajar kasih telinga untuk orang-orang yang mau curhat. Budaya kita ini malah kalau orang mau menangis dilarang. Tapi sebenarnya dibiarkan dulu, lepas dia keluarkan, dia menangis dulu,” kata dia.

Baca juga : Tekan Angka Bunuh Diri di NTT, Psikolog di Tiap Puskesmas Jadi Kebutuhan

Bukan cuman tubuh, lanjut Indra, mental pun bisa terluka sampai sangat parah. Kondisi mental sendiri berbeda dengan kondisi fisik. Ada beberapa orang yang mudah sakit tubuhnya, ada pula yang mentalnya rentan.

“Ada yang bisa secara emosi itu merasa sedih ya sedih sekali, senang pun bisa senang sekali, ada yang cuek saja biarpun sedih atau gembira,” kata dia.

Indra mengatakan siapapun yang sedang mengalami kesulitan hendaknya ditemani dan didengar tanpa harus menghakimi.

“Jangan dibiarkan bila seseorang menghadapi masalah sendirian,” kata dia.

Begitu pun bila kejadian buruk itu telah terjadi, mestinya warga Kota Kupang bisa berempati untuk tidak menyakitinya lagi dengan meninggalkan komentar-komentar buruk di media sosial. ***

Tags: #JembatanKembarLiliba#JembatanLiliba#KasusBunuhDiriKotaKupang#psikologiundana#Undana
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

by Yanti Mesak
3 Maret 2026
0

Untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 yang dimulai pada 17 Februari 2026 dan berakhir pada 3 Maret 2026, keluarga Frans...

Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

by Difan Fandi
18 Agustus 2025
0

Desa Natarmage - Pagi itu, saya berangkat dari Desa Pruda menuju Natarmage, Kecamatan Waiblama, untuk mengikuti perayaan HUT RI ke-80...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati