Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kaya akan budaya dan adat istiadat. Salah satu tradisi yang cukup unik dan menarik perhatian adalah ritual panggang untuk ibu yang melahirkan selama 40 hari. Ritual ini dilakukan dengan tujuan menjaga kesehatan ibu paska melahirkan, serta melindungi ibu dan bayi dari roh-roh jahat.
Dilansir dari laman viva.co.id, menurut Kepala Dinas Kesehatan NTT, dr. Kornelis Kodi Mete, tradisi panggang diri atau sei merupakan rangkaian tradisi yang wajib dijalani para ibu beserta bayinya setelah melahirkan (Astuti dan Puspitasari, 2017). Tradisi ini dilakukan selama 40 hari. Ibu beserta bayinya akan tidur dan duduk di atas tempat tidur dengan bara api di bawahnya. Tradisi ini dipercaya mampu mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan ibu setelah persalinan.
Adat panggang memiliki makna yang dalam bagi masyarakat NTT. Selain berfungsi untuk kesehatan fisik, ritual ini juga memiliki nilai spiritual yang tinggi. Masyarakat meyakini bahwa panas dari arang dapat membersihkan tubuh dari energi negatif dan memberikan perlindungan terhadap roh-roh jahat. Kepercayaan lokal sangat menghormati hubungan antara manusia dan alam.
Ada tiga hal penting dalam tradisi panggang diri ibu bersama anak yang baru lahir selama 40 hari:
- Penyembuhan: panas dipercaya dapat mempercepat proses pemulihan paska melahirkan.
- Pemurnian: panas dapat membersihkan tubuh dari energi negatif dan memberikan perlindungan terhadap roh jahat.
- Menghangatkan tubuh: tradisi ini juga dimaksudkan untuk menjaga tubuh ibu tetap hangat dan mengurangi risiko masuk angin.
Seiring dengan perkembangan zaman, beberapa aspek dari ritual panggang mulai mengalami penyesuaian. Meski demikian, esensi dan makna dari tradisi ini tetap dipertahankan. Beberapa komunitas di NTT masih melaksanakan ritual ini sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan budaya leluhur mereka.
Baca juga: Hormati Perempuan Memilih Childfree
Baca juga: Perempuan NTT dalam Lingkaran Kemiskinan Panjang dan Tradisi yang Membebani
Baca juga: Ribuan Kasus Kekerasan Menimpa Perempuan di NTT, Mengapa?
Baca juga: Kisah Lansia Penyintas Tragedi 65 di NTT Memecah Kebisuan
Dari sudut pandang medis, tradisi panggang ini menimbulkan beberapa risiko kesehatan yang signifikan yang perlu diperhatikan. Proses panggang yang tidak higienis dapat meningkatkan risiko infeksi pada ibu yang baru melahirkan. Luka paska persalinan bisa terinfeksi jika terkena kotoran atau bakteri dari lingkungan yang tidak steril. Selain itu, paparan panas berlebihan dari arang yang membara dapat menyebabkan dehidrasi pada ibu, yang sangat berbahaya bagi ibu yang sedang dalam masa pemulihan.
Asap dari arang yang membara juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan, baik bagi ibu maupun bayi. Risiko lain yang tidak kalah penting adalah kemungkinan terjadinya luka bakar jika arang yang digunakan tidak diawasi dengan baik. Namun, perlu dicatat juga bahwa beberapa praktik tradisional, termasuk ritual panggang ini, dapat memiliki dampak negatif lainnya terhadap kesehatan. Salah satunya adalah peningkatan risiko stunting pada anak-anak. Stunting adalah kondisi di mana anak mengalami pertumbuhan yang terhambat akibat kekurangan gizi kronis. Praktik panggang yang tidak higienis dan kurangnya perhatian terhadap asupan gizi ibu selama masa pemulihan dapat berkontribusi pada masalah ini.
Oleh karena itu, perlunya pendekatan modern untuk mengurangi risiko kesehatan tersebut. Penting untuk mengedukasi masyarakat tentang praktik medis yang lebih aman dan higienis paska persalinan. Pendekatan ini dapat dilakukan tanpa harus sepenuhnya meninggalkan tradisi, tetapi dengan menyesuaikannya agar lebih aman bagi ibu dan bayi.
Misalnya, alih-alih menggunakan arang, teknik pemanasan modern yang lebih aman dapat dipertimbangkan. Selain itu, memastikan lingkungan yang bersih dan steril, serta memberikan nutrisi yang cukup bagi ibu dan bayi, merupakan langkah penting untuk mencegah komplikasi kesehatan.
Tradisi panggang ibu melahirkan di Nusa Tenggara Timur menggambarkan pentingnya keseimbangan antara pelestarian budaya dan penerapan praktik kesehatan yang lebih aman dan sesuai dengan ilmu medis modern. Ritual ini tidak hanya sebagai bentuk perawatan kesehatan tradisional, tetapi juga sebagai simbol kekuatan spiritual dan kebersamaan komunitas.
Adat panggang ibu melahirkan di Nusa Tenggara Timur menggambarkan pentingnya menghormati tradisi budaya sembari mengadopsi praktik kesehatan yang lebih aman dan sesuai dengan ilmu medis modern. Dengan cara ini, kesejahteraan ibu dan anak dapat terjaga tanpa mengorbankan warisan budaya yang berharga.[*]




