Kupang – Uskup Emeritus Atambua Monsinyur (Mgr) Anton Pain Ratu SVD telah menunjuk di mana ia harus dimakamkan saat meninggal nanti.
Mgr Anton pernah berpesan 33 tahun lalu untuk dimakamkan berdampingan dengan Mgr Theodorus Sulama, Uskup Atambua yang pertama. Mgr Theodorus meninggal pada 7 Mei 1991 setelah menyerahkan jabatan Uskup Atambua kepada Mgr Anton pada 9 Mei 1984.
Makamnya berada dalam Gereja Katedral St. Maria Immaculata Atambua yang mana pada Selasa 9 Januari 2024 ini digelar misa pemakaman baginya yang berpulang di usia 95 tahun.
Baca juga : Uskup Penentang Eksekusi Mati Tibo Cs Telah Berpulang
“Bapakku Mgr Antonius, kuburmu telah dimeteraikan selama 33 tahun di gereja katedral ini atas permintaanmu, sejak pemakaman mendiang Mgr Theodorus Sulama,” kata Uskup Atambua Mgr Dominikus Saku yang memimpin misa saat itu.
Ia mengungkapkan ini dalam misa yang juga ditayangkan secara live streaming melalui akun YouTube Keuskupan Atambua.

“Sejak hari Minggu (7 Januari 2024), kemarin dulu, makammu dibuka. Bapak akan dibaringkan di sana dan kami akan menutupinya dengan materai kematian dan kefanaan,” lanjutnya.
Baca juga : Uskup Anton Pain Ratu Dimakamkan di Gereja Katedral Atambua
Misa hari itu diikuti oleh umat Katolik di sana, perwakilan Kementerian Agama, sejumlah tokoh politik, tokoh masyarakat, akademisi, pelajar dan mahasiswa, perangkat dinas Kabupaten Belu, para imam, suster, para uskup dan para kardinal, jajaran Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Belu, TTU, Malaka dan berbagai kabupaten lainnya.

Ribuan masyarakat maupun rohaniawan ini datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang. Beberapa umat tampak menitihkan air mata saat perayaan misa itu.
Sebelumnya, Sekretaris Keuskupan Agung Atambua, Marly Knaofmone, sempat membacakan riwayat hidup dari putra kelahiran 2 Januari 1929, Adonara, Flores Timur ini.
Baca juga : Letusan, Gempa dan Abu Vulkanik Gunung Lewotobi, 3 Desa Dikosongkan
Semasa mudanya Mgr Anton harus berkebun dan menyadap tuak di desanya, Lamawolo, agar dapat sekolah ke Larantuka dan juga masuk ke Seminari Mataloko pada 1942 – 1950.
Ia kemudian menempuh tahun orientasi rohani sebagai imam Projo Vikariat Sunda Kecil lalu beralih ke novisiat Serikat Sabda Allah atau SVD.

Pada usia 30 tahun ia tiba di Pulau Timor, tepatnya pada 2 Agustus 1959. Ia ditugaskan sebagai pastor pembantu di Eban, Timor Tengah Utara (TTU).
Baca juga : Nyaris Punah, Tarian Togo Apur Ditampilkan di Museum Kebangkitan Nasional
Dengan berkuda ia menjelajahi Eban, Naekake, Oepoli, Mena, Molo, Oeolo maupun TTS hingga akhir September 1959.
Ia ditugaskan lagi pada 1 Agustus 1960 untuk menangani Paroki Oeolo TTU sambil melayani Paroki Haumeni TTU. Selama itu ia menjadi ketua dari yayasan persekolahan di Kefamenanu yang ia bentuk.
Ia juga menjadi pengajar antropologi, etika dan Bahasa Inggris di SPG St. Pius X Kefamenanu hingga mendirikan SMK juga atas nama St. Pius X Kefamenanu.
Baca juga : Sombu Manggarai, Singkong Kukus dalam Bambu yang Makin Langka
Sebelumnya ia mencetuskan Pastoral 3 BER yaitu Berpendidikan, Berkedudukan dan Berpengaruh yang diteruskannya saat menjadi Uskup Atambua pada 1984 hingga 2007.
Pada tahun akhirnya menjabat Uskup Atambua ia pun sempat mendirikan Credit Union (CU) di Atambua yang akhirnya menjadi koperasi kredit atau CU Kasih Sejahtera. ***



