Vikaris Jadi Tersangka Pemerkosaan 6 Anak di Alor, GMIT Minta Maaf

Ilustrasi: polisi tetapkan status tersangka bagi vikaris GMIT dalam kasus pemerkosaan anak di Alor

Ilustrasi: polisi tetapkan status tersangka bagi vikaris GMIT dalam kasus pemerkosaan anak di Alor

Kupang – Sepriyanto Ayub Snae, vikaris Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Alor. Sepriyanto ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pemerkosaan atau pencabulan 6 orang anak di Alor. Sepriyanto juga melakukan pelecehan seksual melalui chat kepada 3 anak lainnya.

Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol Ariasandy kepada KatongNTT, Sabtu (10/9/2022) membenarkan penetapan status tersangka tersebut.

“Ya sudah (ditetapkan) tersangka,” kata Ariasandy.

Vikarasi Sepriyanto Ayub Snae dilaporkan ke Polres Alor pada 1 September 2022. Laporan tersebut tercatat dengan nomor LP-B/277/IX/2022/Polres Alor/Polda NTT.

Atas penetapan status tersangka dan penahanan tersebut, Majelis Sinode (MS) GMIT menyampaikan permohonan maaf kepada anak-anak yang menjadi korban dari tindakan vikaris Sepriyanto. Permohonan maaf tersebut disampaikan melalui surat nomor: 1220/GMIT/I/F/Sep/2022, tertanggal 8 September 2022.

Surat yang ditandatangani oleh Ketua MS GMIT, Pdt. Merry Kolimon itu berisi 12 poin. Pada poin 9 surat tersebut, MS GMIT mengakui kurangnya pengawasan terhadap pelaksanaan vikariat. Akibatnya, kasus ini bisa terjadi dengan korban yang banyak tanpa terdeteksi.

“Atas semua hal yang terjadi, kami, MS GMIT, meminta maaf kepada anak-anak kami yang terluka dalam peristiwa ini. Peristiwa ini mestinya tidak boleh terjadi. Permohonan maaf juga kami sampaikan kepada orang tua dan keluarga yang pasti sangat disakiti oleh hal yang terjadi,” tulis MS GMIT dalam suratnya.

Jaringan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak yang terdiri dari beberapa Komunitas dan aktivis mengutuk keras tindakan pemerkosaan tersangka Sepriyanto Ayub Snae. Mereka secara tegas mengatakan tidak ada ruang pendekatan restoratif justice dalam kasus ini.

“Hal ini didasarkan pada UU Penghapusan Tindak Kekerasan Seksual Pasal 60 poin (h), dan Bab IV, Bagian Satu, Pasal 23 UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual,” tulis Jaringan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak.

Baca juga: Polisi Tangkap Vikaris GMIT Diduga Memperkosa 6 Anak di Alor

Mereka meminta pihak gereja untuk melakukan investigasi kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh pendeta, vikaris dan staf gereja. Tentunya dengan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah dan aktif melaporkan kepada polisi bila ada penemuan.

Pihaknya menilai perlu ada kontrol publik atas penanganan kasus ini. Hal ini menjadi bagian dari upaya pengungkapan kebenaran, penegakan keadilan dan gerakan bersama menjamin kasus semacam ini tidak berulang.

MS GMIT mendukung penuh pengungkapan kebenaran dan proses hukum kasus tersebut. Sesuai dengan Pasal 13 ayat 1 butir c dari Peraturan Vikariat GMIT Tahun 2018, tersangka Sepriyanto Ayub Snae tidak ditabiskan sebagai pendeta.

“Mengacu pada pengakuan korban, laporan polisi, dan pengakuan pelaku, MS menyatakan tidak menabiskan oknum YAS (Sepriyanto Ayub Snae) dalam jabatan pendeta GMIT,” tulis MS GMIT. *****

Baca juga: Peneliti Sebut Gereja Berutang atas Kepunahan Tradisi Lunat “Tato”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *