Borong – Monika Nawes, menghabiskan waktu berjam-jam untuk menimba air di sebuah kolam kecil di pinggir sungai musiman Wae Tala . Sungai ini terletak di lembah, sekitar 500 meter di sisi utara Kampung Papang, Desa Rana Masak, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Menggunakan gayung mandi berbahan plastik, perempuan 52 tahun itu, mengambil air di dasar kolam dengan hati-hati.
“Kalau gayung ini menyentuh dasar kolam, airnya akan jadi keruh,” kata Monika kepada KatongNTT pada Selasa, 29 Oktober 2024, jam 12.30 Wita.
Baca juga: Krisis Air Bersih, Warga Desa Wolowea di Nagekeo Sudah 2 Tahun Konsumsi Air Kotor dari Parit
Siang itu, air yang tertampung di kolam berukuran 1×1 meter dengan kedalaman 1 meter hanya setinggi sekitar 5 centimeter dari dasar kolam. Beberapa daun kering terlihat mengapung. Segerombolan berudu asyik berenang di dasar kolam.
“Dari tadi pagi banyak orang yang datang ambil (air), makanya airnya tinggal sedikit,” kata Monika, sembari memindahkan jeriken yang sudah terisi air ke tempat yang lebih rata.
Ia menambahkan, air akan tertampung banyak di kolam itu, jika tidak banyak orang yang mengambilnya.
“Ini kalau kita datang sebentar sore, airnya sudah penuh lagi,” ujarnya.
Monika adalah warga Kampung Golo Dopo, Desa Rana Masak, yang berjarak sekitar dua kilometer arah selatan Kampung Papang. Jarak rumahnya sekitar 1,5 kilometer dari kolam kecil tempat ia mengambil air.
Baca juga: Bidan Desa Ernesty 7 Tahun Bekerja Tanpa Listrik, Air Bersih di Mabar
Hari itu, Monika yang datang bersama anak laki-lakinya, membawa 60 jeriken berukuran 5 liter. Jeriken-jeriken yang telah diisi air diangkut menggunakan sepeda motor menuju rumah.
Berbeda dengan Monika yang menggunakan sepeda motor, Andreas Jolong, memikul jeriken-jeriken air dengan kedua tangannya.
Tanpa alas kaki, pria 58 tahun asal Kampung Papang tersebut menenteng jeriken-jeriken berisi air, melewati jalan yang menanjak dan berkelok.
“Saya, ibu Monika, dan beberapa warga lain tadi, bergantian ambil air di kolam ini,” kata Andreas.
“Saya punya ada 48 jeriken. Sudah penuh (terisi air) semua,” tambahnya.

Satu-satunya Sumber Air Bersih
Kolam kecil di pinggir kali Wae Tala merupakan satu-satunya sumber air bersih bagi ratusan warga Kampung Papang dan Golo Dopo di Desa Rana Masak.
“Tidak ada lagi sumber air yang dekat yang bisa kami gunakan untuk masak dan minum selain di sini,” kata Monika.
Ia mengatakan, 60 jeriken air (300 liter) yang terisi pada hari itu, digunakan untuk kebutuhan memasak dan minum selama sekitar dua minggu.
Baca juga: Kemarau Ekstrim, Warga TTS dan Sumba Timur Berjuang Sendiri Cari Air
“Kalau air untuk kebutuhan lain seperti toilet dan mandi, kami terpaksa beli air yang dijual di mobil-mobil tangki. Satu tangki berukuran 1.100 liter, kami beli dengan harga Rp100 ribu. Itu bisa untuk satu bulan,” katanya.
Penggunaan air di keluarga Monika lebih hemat karena anggota keluarganya hanya dua orang. Berbeda dengan Andreas yang memiliki tujuh anggota keluarga.
“Kalau di rumah saya, air di 48 jeriken (240 liter) biasanya habis dalam dua hari,” kata Andreas.
Ia membenarkan pernyataan Monika bahwa mereka membeli air untuk kebutuhan lain selain untuk memasak dan minum.
“Selain beli air yang dijual menggunakan mobil-mobil tangki, warga juga mendatangi Wae Maras dan Wae Bobo kalau hendak mandi dan mencuci pakaian,” katanya. Wae Maras merupakan sungai yang jaraknya sekitar dua kilometer arah selatan dan Wae Bobo sekitar 5 kilometer ke arah barat Kampung Papang.
“Kalau musim hujan, kami biasanya gunakan air hujan.”
Miliaran Dana Habis, Air Tidak Keluar
Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur sebenarnya telah memberi perhatian terhadap kondisi kekurangan air minum bersih di Desa Rana Masak.
Penelusuran KatongNTT, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Manggarai Timur mengalokasikan anggaran untuk membangun jaringan air minum bersih ke desa tersebut sejak 2018 hingga 2021.
Baca juga: Kemarau, Warga 3 Desa di Sikka Sisihkan Uang Ratusan Ribu Beli Air Tangki
Menyitir LPSE Manggarai Timur, pada 2018, pemerintah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp 999 juta untuk proyek air bersih.
Pada 2019, anggaran naik dua kali lipat untuk proyek yang sama yakni sebesar Rp1,8 miliar.
Anggaran terus bertambah pada 2020, di mana pemerintah mengalokasikan Rp2,7 miliar.
Setahun kemudian, pemerintah kembali mengalokasikan anggaran senilai lebih dari Rp200 juta untuk biaya pemeliharaan.
Kendati miliaran dana telah dihabiskan, warga Desa Rana Masak masih kesulitan mengakses air bersih.
Monika mengatakan, mereka menikmati air dari pipa-pipa proyek pemerintah itu hanya satu hingga dua bulan setelah diresmikan pada 2021.
“Setelah itu air tidak keluar lagi sampai sekarang,” katanya.
“Kami juga tidak tahu kenapa air tidak tidak keluar dari pipa-pipa itu. Mungkin ada kerusakan di bagian hulu.”
Ia berharap pemerintah mengevaluasi dan memperbaiki jika memang terjadi kerusakan pipa-pipa proyek tersebut.
“Kasihan sudah habis banyak uang, katanya untuk kepentingan rakyat, tetapi kami rakyat di sini masih sengsara karena tidak ada air bersih,” ucapnya. [*]




