Jakarta – Potensi kematian akibat rabies bisa meningkat, jika tidak ada vaksinasi dan upaya pencegahan lainnya. Untuk Nusa Tenggara Timur (NTT) saja hingga akhir tahun 2023 diprediksi terjadi 24 kasus kematian atau meningkat dari 16 yang meninggal sejak Januari 2023 lalu.
Demikian disampaikan dr. Asep Purnama, Sp.PD-FINASIM selaku Komite Rabies Flores Lembata dalam keterangannya yang dikutip KatongNTT.com, Jumat (20/10/2023).
Baca : Jejak Rabies Selama 4 Bulan Meneror TTS
Asep menjelaskan perkiraan peningkatan itu bisa terjadi karena minimnya pencegahan dan pengendalian. Kecenderungan peningkatan itu mulai tahun 2020 lalu hingga saat ini. Tahun 2020 vaksinasi dan kematian akibat rabies turun karena lockdown, tercatat 40 orang di Indonesia meninggal karena rabies dengan 82.434 kasus gigitan.
Baca : Kerugian Akibat Rabies dan Virus ASF Mendekati Realisasi PAD NTT 2022
“Tahun 2021, kita mulai bergerak lagi keluar rumah, kasus meninggal akibat rabies meningkat menjadi 62, karena anjing-anjing yang tidak divaksin mulai tertular rabies antar mereka kemudian mengiggit manusia,” jelas Asep yang dikutip dari laman kalbe.co.id.
Selanjutnya, kata Asep, pada tahun 2022 ketika tidak ada lockdown di Indonesia, kematian akibat rabies meningkat 102 dan kasus gigitan mencapai di atas 100.000. Hingga Agustus 2023, angka kematian sudah 90 kasus dan 94.000 kasus gigitan.
“Apabila hal ini dibiarkan hingga akhir tahun, maka kasus kematian bisa mencapai 135 jiwa dan kasus gigitan rabies sekitar 142.000,” ujar Asep.
Peningkatan kasus secara nasional itu juga dikontribusi dari NTT yang diprediksi hingga akhir 2023 nanti bisa menyebabkan kematian 24 orang. “Hingga saat ini sudah ada 16 orang meninggal dunia di NTT akibat rabies. Kalau tidak diatasi dengan pencegahan, maka akhir tahun bisa saja 24 orang. Orang paling rentan adalah teman-teman yang bertugas terkait dengan binatang,” papar Asep.
Baca : Rabies Ancaman Pariwisata Bali, Bandung Gelar Vaksinasi Gratis
Dikatakan, pengendalian penting bukan hanya kepada kesehatan manusia, tetapi juga terhadap kesehatan hewan,. Apalagi, rabies merupakan jenis penyakit yang mematikan jika sudah terpapar.
“Kalau sudah muncul gejala rabies, maka tidak bisa ditolong, jadi angka kematian 100 persen. Tetapi sebelum muncul gejala setelah digigit hewan penular rabies yang kebanyakan anjing, bisa dilakukan upaya pencegahan sebelum digigit maupun pencegahan setelah digigit,” demikian pernyataan Asep dalam laman tersebut.
Berdasarkan data pelayanan vaksinasi rabies pada 8 Oktober 2023 lalu dari Dinas Peternakan Provinsi NTT tercatat jenis hewan penular rabies (HPR) yang telah divaksinasi yaitu 31.264 ekor anjing, 3.058 ekor kucing dan 18 ekor kera. Adapun sisa dosis vaksin rabies sejumlah 25.560 dosis yang belum terpakai.
Baca : Mindset “Pemadam Kebakaran” Mengatasi Serangan Rabies di NTT
Sebelumnya, Dinas Peternakan Provinsi NTT mengatakan telah mendistribusikan dan melakukan vaksinasi rabies di berbagai wilayah, namun tidak termasuk di seluruh wilayah Sumba, Rote, Sabu dan Alor.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Provinsi NTT Melky Angsar pada awal Oktober lalu mengatakan wilayah-wilayah yang bebas rabies di NTT tidak diberikan vaksinasi atau tidak dilakukan vaksinasi rabies. [Anto]




