Pada Jumat sore, 30 Januari 2026, Indrawati Doroh duduk berselonjor di teras rumahnya di Desa Tablolong, Kabupaten Kupang, NTT bersama beberapa perempuan lainnya. Meski musim hujan sedang berlangsung, udara terasa panas. Percakapan mereka sore itu bukan tentang cuaca, melainkan tentang ketidakpastian hidup setelah tiga tahun mereka gagal tanam dan gagal panen rumput laut.
Mereka dikejutkan kedatangan Kepala Desa Tablolong, Zet A.M. Nggadas beberapa jam sebelumnya yang meminta agar kandang babi di dekat rawa belakang PAUD segera dipindahkan. Lahan itu akan dipakai untuk kantor Koperasi Merah Putih. Namun bagi mereka warga Tablolong, persoalannya bukan semata pemindahan kandang, melainkan minim empati, ketiadaan dialog yang sehat untuk mencari solusi.
“Tidak ada sosialisasi, mau dipindah ke mana?” kata Indrawati.
Puluhan keluarga yang bekerja sebagai nelayan dan petani rumput laut merasa kebijakan Kades Zet menambah beban, di tengah situasi ekonomi yang belum pulih. Bagi warga Tablolong, beternak babi bukan sekadar usaha sampingan, tetapi tabungan darurat ketika hasil laut tak mencukupi kebutuhan keluarga.
Baca juga: Rumput Laut Nelayan Tablolong Luluhlantak Diterjang Gelombang Laut
Krisis Utama: Sulitnya Bibit Rumput Laut
Masalah mendesak bagi sebagian besar warga Tablolong adalah mereka kesulitan mendapat bibit rumput laut. Sekitar 90 persen penduduk desa ini bekerja sebagai petani rumput laut dan nelayan tangkap. Namun, dalam tiga tahun terakhir, hampir semua petani mengalami gagal tanam dan gagal panen.
Sejak banjir rob pada Februari 2025, warga kehilangan tali, pelampung, dan bibit rumput laut. Indrawati mengingat betul bagaimana 15 tali rumput laut miliknya hanyut terbawa air laut.
“Semua dibawa banjir. Rumput laut, tali, pelampung, hilang semua,” ujarnya.
Untuk bisa menanam kembali, satu tali rumput laut membutuhkan minimal 50 kilogram bibit, bahkan bisa mencapai 100 kilogram, dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram. Artinya, modal awal bisa mencapai jutaan rupiah per tali, belum termasuk tali nilon dan pelampung. Bagi petani kecil, angka ini hampir mustahil dipenuhi tanpa bantuan.
Sejak itu, warga mencoba bertahan dengan cara saling berbagi bibit dari desa tetangga. Namun jumlahnya jauh dari cukup.
Satu koperasi simpan pinjam di desa, Mekar, sempat membagikan bibit rumput laut gratis. Namun bantuan tersebut hanya diberikan kepada anggota yang memiliki pinjaman aktif.
“Beta anggota koperasi, tapi son dapat karena son ada pinjam,” kata Indrawati.

Baca juga: Nelayan Minta Pemerintah Ungkap Limbah Hitam di Pantai Tablolong
Para petani rumput laut di Desa Lifuleo, letaknya bersebelahan dengan Desa Tablolong juga kesulitan bibit rumput lalu sejak 3 tahun terakhir. Ketua umum pembudidayaan rumput laut Desa Lifuleo, Oktaf Alexander Saketu mengatakan selain faktor alam, juga faktor penyakit putih yang muncul sejak PLTU Timor 1 beroperasi tahun 2023 jadi penyebabnya.
“Rumput laut terkena penyakit lendir putih dan layu,” kata Oktaf.
Desa Lifuleo merupakan desa terdekat dengan lokasi PLTU Timor 1 dengan jarak sekitar 1 kilometer. Petani Lifuleo baru-baru ini membeli bibit dari petani yang lokasinya jauh dari PLTU Timor 1 yakni sekitar 3 kilometer. Saat dikembangkan, kata Oktaf, rumput laut tumbuh bagus. Panen pertama di satu titik tali mencapai 2 kilo 3 ons. Begitu bibit dilepas ke lokasi tanam milik Oktaf dan beberapa petani yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari PLTU Timor 1, rumput laut berubah putih, layu dan putus.
Oktaf menjelaskan, rumput laut sering diserang hama yang diberi nama ice-ice dan ikan baronang yang doyan melahap rumput laut. Namun hama putih ini lebih parah karena membuat rumput laut menjadi berlendir, berubah warna jadi putih, dan layu.
Rumput laut petani Lifuleo pernah diserang penyakit putih atau lendir, namun pada saat musim hujan, penyakit itu menghilang. Hanya saja, sejak PLTU Timor 1 beroperasi, penyakit lendir ini terus merusak rumput laut petani.
“Sejak PLTU Beroperasi, penyakit putih tidak pernah hilang lagi,” ujar Oktaf.
Alhasil mereka gagal tanam dan gagal panen. Padahal tahun 1999 – 2022, untuk satu tali mereka bisa panen sedikitnya 30 kilogram rumput laut.
“Sekarang, 1 tali panjang 60 meter hanya bisa panen 3-5 kilogram,” ujar Oktaf.
Baca juga: Nelayan: Batubara PLTU Timor -1 Cemari Laut Timor, Tak Ada yang Peduli
Lukas Giovani Gonzales Serihollo, pengajar di Program Studi Teknik Budidaya Perikanan, Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang mengaku, dia juga sudah mendapat informasi tentang hama lendir pada rumput laut dari petani di Desa Lifuleo. Namun dia dan sejumlah peneliti lainnya belum dapat menjawab asal dan penyebab lendir di tubuh rumput laut. “Saya juga nga tahu mengapa ini bisa berlendir,” ujarnya.
Sementara hasil uji laboratorium Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang tentang baku mutu air laut di perairan sekitar PLTU Timor-1, menyebutkan baku mutu air laut berada di bawah normal. Sehingga PT PLN berkukuh operasional PLTU Timor 1 tidak menimbulkan pencemaran di Laut Timor.
Lukas mengatakan, perlu penelitian jangka panjang yang menguji berbagai parameter, termasuk meneliti histori produksi rumput laut sebelum penyakit ini menyerang rumput laut petani di desa-desa yang terdampak.
Dinas Perikanan Kabupaten Kupang mendata produksi rumput laut per kecamatan di Kabupaten Kupang pada tahun 2024:
- Kecamatan Semau : 389.947 ton/tahun.
- Kecamatan Semau Selatan : 352.329 ton/tahun
- Kecamatan Kupang Barat : 270.190 ton/tahun
- Kecamatan Sulamu : 191.025 ton/tahun.
Sementara data produksi rumput laut NTT, produksi rumput laut untuk kabupaten kupang pada tahun 2022 sebanyak 1.175.124 ton. Urutan kedua adalah Kabupaten Rote sebanyak 88.028 ton dan Sabu Raijua 53.921 ton. BPS NTT tidak memiliki data untuk produksi rumput laut setelah tahun 2022.
Baca juga: Pergub NTT Terbit, Petani Rumput Laut Meradang
Terpapar Mikroplastik
Selain masalah penyakit lendir yang belum diketahui sumber dan pemicunya, rumput laut di Desa Tablolong dan 3 desa sekitarnya ternyata telah terpapar mikroplastik. Hasil penelitian dari Program Studi Teknik Budidaya Perikanan, Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang menemukan rumput laut di Desa Tablolong terkontaminas mikroplastik.
Menurut penelitinya, Lukas Giovani Gonzales Serihollo, mikroplastik berasal dari peralatan plastik yang digunakan dalam pembudidayaan rumput laut di Desa Tablolong. Para petani masih menggunakan metode tali panjang (longline) di mana hampir semua peralatannya terbuat dari plastik : tali, botol air kemasan, dan tali pengikat rumput laut, yang berfungsi sebagai pelampung.

“Sumber utamanya dari peralatan plastik yang dipakai untuk membudidayakan rumput laut di Desa Tablolong,” kata Lukas, pengajar di Program Studi Teknik Budidaya Perikanan Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang.
Sumber eksternal, kata Lukas, adalah sampah plastik yang banyak ditemukan di perairan sekitar pantai Tablolong. Sampah-sampah plastik ini menumpuk di pantai Tablolong saat Musim Barat antara November hingga Februari, di mana NTT memasuki musim hujan. “Ini mempengaruhi jumlah dia (mikroplastik) di rumput laut, terpapar,” kata Lukas.
Dalam penelitian ini, ujar Lukas, sampel diambil di empat titik di empat desa yakni dua desa Tablolong dan Lifuleo di Pulau Timor dan dua desa di Pulau Semau. Sampel kemudian diekstrasi menggunakan tiga tahapan yakni washed, strirrer, dan NaOH. Hasil ekstrasi itu kemudian diidentifikasi karateristiknya berupa bentuk dan warna dengan menggunakan mikroskop.
Analisis data menggunakan Uji One Way Anova untuk membandingkan kelimpahan total pada setiap lokasi pengamatan dan membandingkan kelimpahan antar setiap bentuk. Hasilnya, yang berbentuk fiber menempati tertinggi dengan total partikel yakni 51,19 persen. Disusul bentuk fragmen dengan total partiker 30,56 persen, dan bentuk film dengan 18,25 persen.

Baca juga: Ganti Rugi Pencemaran Laut Timor, Rp 2 Triliun untuk Nelayan dan Petani Rumput Laut
Sedangkan untuk warna, yang mendominasi adalah warna transparan sebesar 34,48 persen. Urutan berikutnya berwarna biru sebanyak 32,57 persen, hitam 9,58 persen dan kuning sebanyak 5,75 persen.
Menurut Lukas, penelitian ini belum mampu menjawab tingkat pencemaran mikroplastik pada rumput laut di 4 lokasi penelitian tersebut. Penyebabnya, belum ada standar untuk mengkategorikan tingkat pencemarannya. Berbeda dengan misalnya kontaminasi logam yang sudah memiliki standar tingkat pencemarannya: berat, sedang, dan ringan.
“Sejauh yang saya pahami, berapa sih kadar untuk dikatakan tercemar berat, ringan, dan sedang untuk mikroplastik. Belum ada informasi itu,” papar Lukas.
Penelitian ini juga tidak dapat menjawab dampak rumput laut tercemar mikroplastik terhadap tubuh manusia. “Efek ke manusia, kami tidak melakukannya. Mungkin itu bidang kedokteran,” ujarnya.
Namun, berdasarkan sejumlah penelitian tentang mikroplastik dan dampaknya, kata Lukas, jika rumput laut yang terpapar mikroplastik dikonsumsi dalam jangka panjang, maka dapat menyebabkan penyumbatan pada sistem pencernaan manusia.
Sartika Tangguda, rekan kerja Lukas dalam penelitian rumput laut terpapar mikroplastik mengusulkan agar para petani mengubah metode longline dengan metode yang ramah lingkungan.” Misalnya mengganti tali plastik dengan serabut kelapa,” ujarnya.
Baca juga: Banyak Tengkulak, NTT Butuh Koperasi Rumput Laut
Beragam Penjelasan, Minim Transparansi
Kepala Desa Zet A.M. Nggadas menyebutkan bahwa produksi rumput laut di Tablolong menurun drastis sejak 2023. Ia mengaitkan kondisi ini dengan dua faktor besar: dampak jangka panjang tumpahan minyak Montara tahun 2009 dan dugaan pencemaran dari PLTU Timor 1.

Sementara itu, PLN NTT menyatakan bahwa hasil uji laboratorium dari Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang serta Sucofindo menunjukkan kualitas air laut masih dalam batas aman, dan hasil tersebut telah disosialisasikan kepada masyarakat sekitar PLTU Timor-1 beroperasi.
Dinas Perikanan Kabupaten Kupang membenarkan bahwa petani rumput laut Tablolong tidak berproduksi selama setahun terakhir akibat banjir rob Februari 2025. Namun, dinas menyebut kewenangannya terbatas sejak berlakunya Undang-Undang Cipta Kerja Nomor 6 Tahun 2023, yang memindahkan sebagian besar kewenangan pengelolaan pesisir ke pemerintah pusat.
“Kami hanya bisa memfasilitasi laporan ke kementerian,” ujar Noviana M. Bait, Kabid Perikanan Budidaya.
Bagi warga Tablolong, kondisi ini membuat mereka berada di ruang abu-abu: masalah ada di desa, tetapi solusi berada di luar jangkauan desa dan kabupaten.
Mantan Kepala Desa Tablolong, Zakarias Doroh, mengatakan bahwa pada masa kepemimpinannya, dia aktif membangun jaringan dengan dinas dan pelaku usaha untuk memastikan ketersediaan bibit dan sarana produksi.
“Saya jadi tukang minta-minta, yang penting masyarakat bisa tanam dan panen,” ujarnya.
Zakaria sebagai Ketua BPD Tablolong di masa kepemimpinan Zet juga memprotes anggaran Dana Desa yang seharusnya untuk membeli bibit rumput laut malah digunakan untuk membeli traktor.

Zet yang sudah 8 tahun sebagai Kades Tablolong hanya membaca pesan singkat KatongNTT yang meminta tanggapan tentang penjelasan Zakaria.
Menurut Kepala Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Eusabius Separera Niron, berbagai persoalan di Desa Tablolong merupakan pencederaan hak dasar warga desa. Ini problem struktural di mana aparat desa tidak berfungsi baik dan supra desa dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Kupang gagal melakukan supervisi, pemantauan dan evaluasi terhadap kerja aparat desa Tablolong.
“Supra desa gagal. Ini berarti laporan masyarakat tidak ditindaklanjuti oleh supra desa dengan melakukan audit, verifikasi dan validasi pemerintah desa,” kata Niron.
Baca juga: KKP Janji Tangkap Penyampah di Laut NTT Pakai Nano Satelit
Badan Permusyawaratan Desa (BPD) juga dia nilai gagal karena tidak melakukan pengawasan ketat terhadap jalannya pemerintahan desa. “Kapan BPD mengadakan musyawarah desa untuk rapat meminta pertanggungjawaban kerja pemerintah desa?” ujarnya.
Dia menduga di Desa Tablolong terjadi politik baku sandera antara Kades dan Ketua BPD sehingga mekanisme pengawasan tidak bekerja baik.
Menurut Niron, warga Desa Tablolong perlu membangun gerakan kolektif ketika perangkat desa tidak berjalan. Mereka perlu didampingi LSM dan lembaga pendidikan seperti universitas yang memiliki kepedulian dan fokus pada masalah di desa yang berlokasi di ujung barat Pulau Timor.
Bagi Indrawati dan warga Tablolong lainnya, harapan mereka sederhana: bisa kembali ke laut, menanam, dan memanen rumput laut seperti dulu. Tanpa itu, bukan hanya pendapatan yang hilang, tetapi juga masa depan generasi pesisir yang kian rapuh. *****
“Penulisan ini didukung oleh Fellowship Laporiklim x PIKUL”




