Kupang – Profesor Darwis Khudori selaku sejarawan dan akademisi di Université Le Havre Normandie di Perancis menggelar diskusi ekonomi hingga geopolitik di Kota Kupang.
Darwis yang telah berkarir kurang lebih 30 tahun di Perancis ini menggagas diskusi yang bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.
Diskusi bertema Convergence and Divergence on a Global Future, The vision and role of Indonesia ini berlangsung di Aula Rektorat Undana pada Senin 29 Mei 2023.
Baca juga : Perusahaan Skotlandia Gandeng ITS Studi Potensi Listrik di Selat Gonzalu
Pemateri dari berbagai universitas luar negeri turut dihadirkan baik secara langsung maupun secara daring.
Darwis saat diwawancarai usai kegiatan itu menyampaikan diskusi ini dalam memperingati Hari Lahir Pancasila sebelum ia berkunjung ke Kota Pancasila, Ende.
Ia menyampaikan Indonesia menjadi salah satu dari 10 negara top ekonomi dunia dan juga telah memimpin pula KTT ASEAN. Hal ini pun menjadi pembahasan umum dalam diskusi itu.
Baca juga : Mari Menemukan Pemimpin Bermoral dan Mengutamakan Pancasila
Indonesia memang diperkirakan akan menjadi negara keempat di dunia dengan kekuatan Produk Domestik Bruto (PDB) yang tinggi setelah China, India dan Amerika Serikat di 2050 nantinya.
10 negara ini pun menurut Darwis bisa dikelompokkan. Pertama, kelompok negara barat yaitu Amerika Serikat, Jerman dan Jepang. Kedua, kelompok negara bekas jajahan yang menjadi mayoritas dalam top 10 negara dengan pengaruh ekonomi yang kuat yaitu Cina, India, Indonesia, Rusia, Brazil, Meksiko dan Turki.
Baca juga : Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali Kaji Puluhan Gua Jepang di Bonen
“Terjadi polarisasi karena aspirasi mereka ‘kan berbeda. Negara barat tetap ingin memelihara dominasi mereka. Sementara negara di luar barat ingin dunia ini berubah lebih damai dan tidak ada perang,” jelas dia.
Untuk itu negara-negara non barat yang merupakan anggota NAM, BRICS, ASEAN, AU, perlu mencari kesamaan untuk kepentingan dunia.
Baca juga : Paus Fransiskus Sebut Natal 2022 untuk Mengenang Korban Perang Ukraina
Namun perlu diakui bahwa negara barat sampai dengan saat ini paling banyak menguasai 5 bidang vital yaitu sains dan teknologi, media informasi, finansial dan arsitektur, senjata pemusnah massal, juga kontrol atau akses ke berbagai sumber daya alam.
“Sedangkan negara di luar negara barat yang menguasai 5 hal ini hanya China,” ujar Darwis.
Indonesia pun dikatakannya masih belum berdaulat berdasarkan indikator itu. Namun di sisi lain Indonesia mempunyai kedudukan unik sebagai anggota Non Aligned Movement.
Baca juga : Pancasila Inti Hidup Indonesia
“Doktrin sebagai negara Non Blok bisa menjadikan Indonesia juru damai antara pihak yang bertikai dan dengan menjadi pemimpin ASEAN bisa menarik perdamaian,” kata dia.
Sedangkan Gracjan Cimek dari Polish Naval Academy berpendapat dalam diskusi itu bahwasanya BRICS maupun ASEAN perlu menunjukkan superioritas dan kekuatan ekonomi yang kuat.
“Negara-negara ini perlu lebih kuat untuk tidak terpengaruh agenda politik luar tapi justru harus memberikan pengaruhnya sendiri,” ujar dia. ****




