Kupang – Keputusan Pemerintah Indonesia untuk menutup social commerce TikTok Shop mendulang reaksi reseller maupun konsumen di wilayah NTT.
Putri, seorang reseller atau penjual produk yang distok dari TikTok Shop mengaku belum mengetahui informasi tersebut.
Ia pun khawatir keputusan yang mengejutkannya itu telah disepakati pemerintah karena dirinya akan berhenti berjualan.
Baca juga : Korban Penjualan Ginjal ke Kamboja Capai 122 Orang, Ada Asal NTT?
Selama ini jualan di TikTok telah meringankan kebutuhan ekonominya dan ia seriusi berbisnis setelah diwisuda belum lama ini.
“Sudah ulang-ulang, tiap hari (transaksi di TikTok), karena potongannya lebih enak, tanpa ribet, voucher belanja juga banyak. Kalau tutup berarti stop jual,” sebutnya.
Ia memisalkan produk seperti boneka teddy bear berukuran jumbo bisa didapatnya dengan harga di bawah Rp 200 ribu dan dijualnya Rp 150 ribu.
Ia mendapat untung dari bisnis ini terutama setelah berlangganan atau bekerja sama dengan toko-toko online di TikTok Shop sehingga bisa mendapat potongan harga.
Baca juga : Kisah Penenun Yakoba Dedo Dijanjikan Modal Hingga Tolak Berjualan Online
Berbeda dengan harga langsung di toko-toko yang bisa mencapai harga rata-rata Rp 200 ribu maupun di atas harga tersebut.
Selain harga yang murah, akses dan mekanisme transaksi di TikTok Shop pun dirasanya sangat mudah bagi siapapun.
Produk-produk pesanan yang didatangkan pun tak kalah kualitasnya dengan produk dari marketplace seperti Lazada dan lainnya.
Ongkos kirim atau ongkir yang ditawarkan TikTok Shop pun lebih menguntungkan baginya dibandingkan dari marketplace.
“Makanya kalau tutup maka kita ikuti berhenti jual,” tukasnya.
Baca juga : Potret Toleransi di NTT, Pedagang Takjil Berjualan di Area Gereja Katedral Kota Kupang
Vivi, seorang tenaga kesehatan di Kota Kupang mengaku kurang lebih 10 kali berbelanja di TikTok Shop.
Ia memilih berbelanja dari aplikasi asal China itu dibandingkan harus berbelanja di marketplace seperti Tokopedia atau Shopee.
“Dari promo, cara pembayaran sih yang lebih mudah, bisa liat review barang dengan video cara penggunaan atau kondisi barang sebelum beli,” tukas dia.
Menurut dia, harga pasaran lebih mahal dibandingkan TikTok Shop yang bisa langsung transaksi dengan produsen.
Baca juga: Bank Dunia Sebut UMKM Tulang Punggung Ekonomi Dunia
Ia menduga biaya untuk jualan langsung yang mempengaruhi harga produk seperti harga barang, ongkir, sewa kios, listrik dan lain-lain.
“Kalau beli online paling hanya bayar harga barang deng ongkir itupun kadang masih ada potongan harga,” ujar dia.
Menurut dia memang ada untung dan rugi berbelanja secara online maupun secara langsung. Pembelian secara langsung tentunya akan mudah untuk menilai produk.
Baca juga : Rina Doa Maksimalkan Medsos Jadi Outlet Online UMKM
Pemerintah akhirnya melarang social commerce seperti TikTok Shop untuk bertransaksi dengan alasan untuk melindungi produk UMKM dan data pribadi.
Larangan ini akan diatur dalam revisi Permendag 50/2020 tentang Perizinan Usaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan Melalui Elektronik (PPMSE). ****




