• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Selasa, April 28, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Bisnis Agribisnis

Pengawasan Lalu Lintas Babi Lemah Ancam Efektivitas Biosekuriti Cegah Penularan ASF

Rita Hasugian by Rita Hasugian
3 tahun ago
in Agribisnis
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Ani (baju biru), peternak babi asal Manggarai Barat, NTT menuturkan pengalamannya menghadapi penularan ASF dalam Workshop Kampanye Kesadaran ASF & Pencegahan Penyakit Hewan Menular Lainnya yang diselenggarakan Prisma, AIHSP, dan Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur di Labuan Bajo, 2 Maret 2023. (Rita Hasugian - KatongNTT.com)

Ani (baju biru), peternak babi asal Manggarai Barat, NTT menuturkan pengalamannya menghadapi penularan ASF dalam Workshop Kampanye Kesadaran ASF & Pencegahan Penyakit Hewan Menular Lainnya yang diselenggarakan Prisma, AIHSP, dan Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur di Labuan Bajo, 2 Maret 2023. (Rita Hasugian - KatongNTT.com)

0
SHARES
67
VIEWS

Labuan Bajo – Pemulihan sektor ternak babi di Provinsi Nusa Tenggara Timur masih dibayangi trauma para peternak atas serangan virus African Swine Fewer (ASF). Di tengah trauma, para peternak di Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur berupaya menerapkan biosekuriti secara ketat dan konsisten. Ini  sebagai langkah paling efektif karena belum ada vaksin untuk melumpuhkan ASF.

Kesadaran serta pengalaman para peternak dalam menerapkan biosekuriti  disuarakan dalam Workshop yang diselenggarakan Prisma, AIHSP, dan Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur di Labuan Bajo, Manggarai Barat, 2-3 Maret 2023. Workshop bertajuk Kampanye Kesadaran ASF & Pencegahan Penyakit Hewan Menular Lainnya dalam Rangka Mendukung Pemulihan Sektor Babi di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

BacaJuga

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

12 September 2024
Petani rumput laut di NTT meradang pasca terbitnya pergub yang melarang pengiriman ke luar daerah (Joe-KatongNTT)

NTT Belum Ekspor Rumput Laut Tahun Ini

30 Mei 2024

Prisma dan AISHP (Australia Indonesia Health Security Partnership) merupakan dua program kemitraan Australia dengan pemerintah NTT di bidang kesehatan hewan, agribisnis, dan kesehatan manusia.

Baca juga: Virus ASF Serang Ternak Babi, NTT Rugi Rp 2,3 Triliun

Ani, peternak perempuan asal Manggarai Barat yang baru sekitar setahun terjun dalam usaha beternak babi menuturkan, ASF menyerang puluhan babi milik tetangganya. Dia menyaksikan babi- babi milik tetangganya dalam tempo singkat mati.

Ani, peternak pemula dengan tiga ekor babi, takjub karena babinya tidak diserang  ASF. Dia sudah khawatir babinya akan diserang juga.

“Tetangga kiri kanan saya, berjarak sekitar  1 meter. Semua babinya mati dan saya bertahan. Babi tetangga mati ratusan ekor. Bahkan yang punya satu dua ekor juga mati,” kata Ani yang didapuk sebagai panelis di workshop.

“Saya tidak terlalu paham tentang ASF. Waktu ASF, babi saya aman,” ujarnya lagi.

Belakangan dia menduga babinya selamat dari serangan ASF karena dia meenerapkan biosekuriti yang dipelajarinya dari dokter hewan yang sering berkunjung ke desanya. Dokter ini  mensosialisasikan penyakit hewan dan pencegahannya.

Ani mempraktekkan saran dokter hewan itu dengan membangun kandang jauh dari rumah. Kandang dikelilingi dengan pepohonan rindang, dan selalu menjaga kebersihan kandang. Tak kalah penting, dia memberikan pakan alami kepada babinya seperti daun keladi, sayuran hijau, dan  jeroan ikan yang direbus.

“Pemberian obat cacing sekali dalam 3 bulan dan itu rutin saya lakukan,” tutur  Ani.

Dia yakin dengan pangan yang berkualitas baik, kebersihan kandang yang konsisten dilakukan, dan pemberian vitamin dan obatan, babi akan imun terhadap serangan ASF maupun penyakit hewan lainnya.

Silvester, peternak babi asal Manggarai Barat membagikan pengalamannya menghadapi virus demam babi Afrika tersebut. Menurutnya, anatomi babi mirip manusia, sehingga dia memberikan obat dan vitamin untuk memperkuat daya tahan tubuh babinya. Misalnya ketika babinya diare, segera dia memberikan norit, obat herbal untuk mengatasi diare pada manusia.

Baca juga: Peternak Merugi, Harga Jual Babi Turun 50 Persen Akibat Virus ASF

“Obat norit paling mujarab bagi babi disentri,” ujarnya.

Dia tidak takut menghadapi serangan ASF sekalipun belum optimal menerapkan biosekuriti. Menurutnya, dengan imunitas babi yang baik, serangan ASF dapat ditangkis.

Kepala Bidang Dinas Peternakan NTT, Melky Amsar berbicara dalam Workshop Kampanye Kesadaran ASF & Pencegahan Penyakit Hewan Menular Lainnya yang diselenggarakan Prisma dan AIHSP dan Dinas Peternakan NTT di Labuan Bajo, 2 Maret 2023. (Rita Hasugian - KatongNTT.com)
Kepala Bidang Dinas Peternakan NTT, Melky Angsar berbicara dalam Workshop Kampanye Kesadaran ASF & Pencegahan Penyakit Hewan Menular Lainnya yang diselenggarakan Prisma dan AIHSP dan Dinas Peternakan NTT di Labuan Bajo, 2 Maret 2023. (Rita Hasugian – KatongNTT.com)


Pengawasan di perbatasan 

Menurut Savio, dokter hewan  yang bertugas di Pusat Kesehatan Hewan di Manggarai Timur, rekan seprofesinya sudah eneg membicarakan tentang virus ASF yang sudah endemik di NTT. Dia pun yakin peternak babi sudah sadar tentang ASF dan penerapan biosekuriti.

Dia justru mempersoalkan pengawasan di perbatasan antar kabupaten yang masih lemah. Sehingga boleh jadi babi-babi dari luar Manggarai, maupun petugas dan kendaraannya membawa virus ASF masuk ke Manggarai.

Bersamaan itu, mutasi genetik virus ASF sangat cepat. Sehingga petugas kesehatan maupun peternak sulit dengan cepat memastikan penyebab babi mati apakah virus ASF atau penyakit lainnya. Ini disebabkan kemiripan gejala klinis pada babi seperti demam tinggi (41-42 derajat Celcius), bercak kemerahan di tubuh babi, disentri, tidak mau makan, muntah, hingga babi mati.

“Di Borong (Ibukota Manggarai Timur) ada 37 babi mati bukan ASF, tapi penyakit lain yang endemis, tapi dilupakan,” ujar Savio menyesalkan.

Di sisi lain, kampanye pencegahan penyakit ASF dan penyakit lainnya yang endemis belum mencapai peternak babi  berskala kecil atau mikro.

Jika Savio beranggapan peternak babi di Manggarai sudah memiliki kesadaran atas biosekuriti, Kepala Bidang Dinas Peternakan NTT, Melky Angsar menilai  pengetahuan masyarakat masih rendah.  Masyarakat, ujarnya, beranggapan biaya penerapan biosekuriti mahal. Padahal anggapan itu keliru.

“Saya paham masyarakat anggap biosekuriti mahal. Padahal tidak,” kata Melky sebagai panelis di workshop.

Baca juga: Australia Bantu NTT Alat Canggih Mampu Mendeteksi 82 Virus Pada Ternak

Menurutnya, biosekuiti  merupakan aktivitas keseharian peternak untuk memelihara kebersihan kandang, mengawasi dengan ketat lalu lintas manusia di sekitar kandang, dan pemenuhan nutrisi babi secara teratur. Manusia, tegas Melky, merupakan yang paling berpeluang besar membawa dan menularkan ASF ke ternak.

Mengenai pengetatan pengawasan peredaran babi, Melky menjelaskan, Gubernur NTT telah mengeluarkan dua instruksi. Pertama,  Instruksi Nomor  01/ DISNAK/ 2021 Tanggal  14 Juni  2021 tentang  Pemberian Izin terbatas pemasukan/pengeluaran  ternak babi  bibit/ potong, produk  babi (segar  dan olahan) maupun  hasil  ikutan  lainnya dari  dan  ke  dalam Provinsi  Nusa  Tenggara Timur  serta   antar kabupaten/ Kota se  NTT.

Kemudian, Instruksi  Gubernur  NTT  Nomor  03/ DISNAK/ 2023 Tanggal  16 Januari  2023  tentang  Pencegahan penyebaran PMK di NTT.  Termasuk  di dalamnya ternak babi dan produk babi  dilarang masuk  ke  NTT.

Hanya saja, masih banyak pintu masuk tidak resmi untuk masuknya babi. Pintu masuk tidak resmi ini tidak dapat diawasi Karantina karena bukan kewenangannya.

Susanto dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia mengatakan, ASF sudah bercokol di NTT. Itu artinya kapan saja virus itu bisa muncul. Untuk itu upaya pencegahan menjadi prioritas. Mulai dari mengaktifkan kembali check point di perbatasan provinsi maupun negara (Timor Leste), biosekuriti, pemberian makanan bernutrisi, hingga  hewan dikandangkan.

Selain itu, hampir semua daerah masih membolehkan masyarakat melepaskan ternak babinya tanpa dikandang. Cara tradisional ini berisiko menularkan ASF dan penyakit lainnya.

“Hewan tidak kenal batas. Babi di Indonesia ke Timor Leste dan sebaliknya, karena tidak ada barrier,” papar Susanto.

Sejauh ini, baru Kota Kupang yang memberlakukan aturan hewan ternak wajib tinggal dalam kandang.

Jika pengawasan lalu lintas hewan ternak tidak segera diatur, upaya peternak dan petugas kesehatan di lapangan dalam menerapkan biosekuriti, akan sia-sia.  ASF akan kembali menyerang babi, hewan yang memiliki nilai ekonomi dan sosial budaya yang tinggi di NTT. *****

Tags: #AIHSP#ASF#Australia#biosekuriti#Dinaspeternakanntt#Kotakupang#Peternakbabi#Prisma#Ternakbabi#UPTKarantinaKelas1Kupang
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

by Rita Hasugian
12 September 2024
0

Boleh jadi kita tidak pernah terlintas cari tahu tentang jenis jagung yang kita konsumsi, apakah berasal dari bibit jagung lokal...

Petani rumput laut di NTT meradang pasca terbitnya pergub yang melarang pengiriman ke luar daerah (Joe-KatongNTT)

NTT Belum Ekspor Rumput Laut Tahun Ini

by Tim Redaksi
30 Mei 2024
0

Ekspor rumput laut NTT ini memang minim sejak ekspor perdana pada 2019 lalu sebesar 25 ton Alkali Treated Cottonii (ATC)...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati