Labuan Bajo – Pemulihan sektor ternak babi di Provinsi Nusa Tenggara Timur masih dibayangi trauma para peternak atas serangan virus African Swine Fewer (ASF). Di tengah trauma, para peternak di Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur berupaya menerapkan biosekuriti secara ketat dan konsisten. Ini sebagai langkah paling efektif karena belum ada vaksin untuk melumpuhkan ASF.
Kesadaran serta pengalaman para peternak dalam menerapkan biosekuriti disuarakan dalam Workshop yang diselenggarakan Prisma, AIHSP, dan Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur di Labuan Bajo, Manggarai Barat, 2-3 Maret 2023. Workshop bertajuk Kampanye Kesadaran ASF & Pencegahan Penyakit Hewan Menular Lainnya dalam Rangka Mendukung Pemulihan Sektor Babi di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Prisma dan AISHP (Australia Indonesia Health Security Partnership) merupakan dua program kemitraan Australia dengan pemerintah NTT di bidang kesehatan hewan, agribisnis, dan kesehatan manusia.
Baca juga: Virus ASF Serang Ternak Babi, NTT Rugi Rp 2,3 Triliun
Ani, peternak perempuan asal Manggarai Barat yang baru sekitar setahun terjun dalam usaha beternak babi menuturkan, ASF menyerang puluhan babi milik tetangganya. Dia menyaksikan babi- babi milik tetangganya dalam tempo singkat mati.
Ani, peternak pemula dengan tiga ekor babi, takjub karena babinya tidak diserang ASF. Dia sudah khawatir babinya akan diserang juga.
“Tetangga kiri kanan saya, berjarak sekitar 1 meter. Semua babinya mati dan saya bertahan. Babi tetangga mati ratusan ekor. Bahkan yang punya satu dua ekor juga mati,” kata Ani yang didapuk sebagai panelis di workshop.
“Saya tidak terlalu paham tentang ASF. Waktu ASF, babi saya aman,” ujarnya lagi.
Belakangan dia menduga babinya selamat dari serangan ASF karena dia meenerapkan biosekuriti yang dipelajarinya dari dokter hewan yang sering berkunjung ke desanya. Dokter ini mensosialisasikan penyakit hewan dan pencegahannya.
Ani mempraktekkan saran dokter hewan itu dengan membangun kandang jauh dari rumah. Kandang dikelilingi dengan pepohonan rindang, dan selalu menjaga kebersihan kandang. Tak kalah penting, dia memberikan pakan alami kepada babinya seperti daun keladi, sayuran hijau, dan jeroan ikan yang direbus.
“Pemberian obat cacing sekali dalam 3 bulan dan itu rutin saya lakukan,” tutur Ani.
Dia yakin dengan pangan yang berkualitas baik, kebersihan kandang yang konsisten dilakukan, dan pemberian vitamin dan obatan, babi akan imun terhadap serangan ASF maupun penyakit hewan lainnya.
Silvester, peternak babi asal Manggarai Barat membagikan pengalamannya menghadapi virus demam babi Afrika tersebut. Menurutnya, anatomi babi mirip manusia, sehingga dia memberikan obat dan vitamin untuk memperkuat daya tahan tubuh babinya. Misalnya ketika babinya diare, segera dia memberikan norit, obat herbal untuk mengatasi diare pada manusia.
Baca juga: Peternak Merugi, Harga Jual Babi Turun 50 Persen Akibat Virus ASF
“Obat norit paling mujarab bagi babi disentri,” ujarnya.
Dia tidak takut menghadapi serangan ASF sekalipun belum optimal menerapkan biosekuriti. Menurutnya, dengan imunitas babi yang baik, serangan ASF dapat ditangkis.

Pengawasan di perbatasan
Menurut Savio, dokter hewan yang bertugas di Pusat Kesehatan Hewan di Manggarai Timur, rekan seprofesinya sudah eneg membicarakan tentang virus ASF yang sudah endemik di NTT. Dia pun yakin peternak babi sudah sadar tentang ASF dan penerapan biosekuriti.
Dia justru mempersoalkan pengawasan di perbatasan antar kabupaten yang masih lemah. Sehingga boleh jadi babi-babi dari luar Manggarai, maupun petugas dan kendaraannya membawa virus ASF masuk ke Manggarai.
Bersamaan itu, mutasi genetik virus ASF sangat cepat. Sehingga petugas kesehatan maupun peternak sulit dengan cepat memastikan penyebab babi mati apakah virus ASF atau penyakit lainnya. Ini disebabkan kemiripan gejala klinis pada babi seperti demam tinggi (41-42 derajat Celcius), bercak kemerahan di tubuh babi, disentri, tidak mau makan, muntah, hingga babi mati.
“Di Borong (Ibukota Manggarai Timur) ada 37 babi mati bukan ASF, tapi penyakit lain yang endemis, tapi dilupakan,” ujar Savio menyesalkan.
Di sisi lain, kampanye pencegahan penyakit ASF dan penyakit lainnya yang endemis belum mencapai peternak babi berskala kecil atau mikro.
Jika Savio beranggapan peternak babi di Manggarai sudah memiliki kesadaran atas biosekuriti, Kepala Bidang Dinas Peternakan NTT, Melky Angsar menilai pengetahuan masyarakat masih rendah. Masyarakat, ujarnya, beranggapan biaya penerapan biosekuriti mahal. Padahal anggapan itu keliru.
“Saya paham masyarakat anggap biosekuriti mahal. Padahal tidak,” kata Melky sebagai panelis di workshop.
Baca juga: Australia Bantu NTT Alat Canggih Mampu Mendeteksi 82 Virus Pada Ternak
Menurutnya, biosekuiti merupakan aktivitas keseharian peternak untuk memelihara kebersihan kandang, mengawasi dengan ketat lalu lintas manusia di sekitar kandang, dan pemenuhan nutrisi babi secara teratur. Manusia, tegas Melky, merupakan yang paling berpeluang besar membawa dan menularkan ASF ke ternak.
Mengenai pengetatan pengawasan peredaran babi, Melky menjelaskan, Gubernur NTT telah mengeluarkan dua instruksi. Pertama, Instruksi Nomor 01/ DISNAK/ 2021 Tanggal 14 Juni 2021 tentang Pemberian Izin terbatas pemasukan/pengeluaran ternak babi bibit/ potong, produk babi (segar dan olahan) maupun hasil ikutan lainnya dari dan ke dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur serta antar kabupaten/ Kota se NTT.
Kemudian, Instruksi Gubernur NTT Nomor 03/ DISNAK/ 2023 Tanggal 16 Januari 2023 tentang Pencegahan penyebaran PMK di NTT. Termasuk di dalamnya ternak babi dan produk babi dilarang masuk ke NTT.
Hanya saja, masih banyak pintu masuk tidak resmi untuk masuknya babi. Pintu masuk tidak resmi ini tidak dapat diawasi Karantina karena bukan kewenangannya.
Susanto dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia mengatakan, ASF sudah bercokol di NTT. Itu artinya kapan saja virus itu bisa muncul. Untuk itu upaya pencegahan menjadi prioritas. Mulai dari mengaktifkan kembali check point di perbatasan provinsi maupun negara (Timor Leste), biosekuriti, pemberian makanan bernutrisi, hingga hewan dikandangkan.
Selain itu, hampir semua daerah masih membolehkan masyarakat melepaskan ternak babinya tanpa dikandang. Cara tradisional ini berisiko menularkan ASF dan penyakit lainnya.
“Hewan tidak kenal batas. Babi di Indonesia ke Timor Leste dan sebaliknya, karena tidak ada barrier,” papar Susanto.
Sejauh ini, baru Kota Kupang yang memberlakukan aturan hewan ternak wajib tinggal dalam kandang.
Jika pengawasan lalu lintas hewan ternak tidak segera diatur, upaya peternak dan petugas kesehatan di lapangan dalam menerapkan biosekuriti, akan sia-sia. ASF akan kembali menyerang babi, hewan yang memiliki nilai ekonomi dan sosial budaya yang tinggi di NTT. *****




