• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, April 15, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Perempuan dan Anak

Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Sekolah Naik 3 Tahun Terakhir

Tim Redaksi by Tim Redaksi
3 tahun ago
in Perempuan dan Anak
Reading Time: 2 mins read
A A
0

Ilustrasi kekerasan seksual terhadap perempuan. (Pixabay)

0
SHARES
127
VIEWS

Kupang – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di sekolah menjadi sorotan. Dalam 3 tahun terakhir kasus yang terjadi mengalami peningkatan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Peningkatan ini terangkum dalam data SIMFONI PPA (Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak) per 11 April 2023.

BacaJuga

Para peserta Diskusi Komunitas Breaking Barries, Building Feature #KickOutGBV# berfoto bersama dilatari bola untuk olahraga sepak bola di Jakarta, 6 Maret 2026. (Foto: Magdalene)

Sepak Bola Jadi Wadah Promosi Ruang Aman untuk Perempuan

10 Maret 2026

Sewindu Komunitas Lakoat Kujawas, Jatuh Bangun Melestarikan Budaya Mollo

19 Februari 2026

Pada 2020 terdapat 11 kasus di NTT, lalu di 2021 terdapat 13 kasus,  dan di 2022 menjadi 18 kasus. Sementara di 2018 terdapat 19 kasus dan di 2019 dengan 18 kasus.

Baca juga ; LPA NTT Minta Sanksi Kebiri Kimia untuk Pelaku Kekerasan Seksual 7 Anak SD di Ende

Jumlah kasus di sekolah ini tidak sesignifikan dengan peningkatan kasus yang terjadi di rumah tangga dan fasilitas umum.

Untuk kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di rumah tangga meningkat dari 2020 dengan 379 kasus menjadi 575 kasus di 2021. Kemudian meningkat di 2022 mencapai 877 kasus.

Sementara yang terjadi di fasilitas umum pada 2020 sebanyak 85 kasus, kemudian naik signifikan hingga 105 kasus di 2021 dan 131 kasus di 2022.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) NTT, Iien Adriany, mengecam kekerasan ini. Ia akan berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk mengupayakan adanya CCTV di sekolah terutama dari alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Untuk sekolah-sekolah memang ke depannya perlu sistem keamanan, CCTV. Mungkin kita akan bicara dengan kepala dinas pendidikan, kalau daerah-daerah itu perlu CCTV dan murah sekarang kan tidak perlu yang mahal,” tanggap dia beberapa waktu lalu.

Anesta selaku Analis Bidang Kebijakan Kelembagaan Gender dan Kemitraan (KGK) DP3A NTT juga menganalisa ini. Menurutnya, pembekalan mengenai pengarusutamaan gender dengan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) sudah seharusnya diperdalam di dunia pendidikan.

Baca juga : Pelaku Kekerasan Seksual di NTT dari Anak Usia 5 Tahun Hingga Lansia

Hal ini perlu ditekankan dalam kurikulum sekolah sehingga ada sesi khusus yang mengajarkan anak untuk bisa mengantisipasi hal ini sejak awal. Menurutnya, dunia pendidikan perlu mengedepankan pengarusutamaan gender dengan KIE.

“Edukasi langsung memang perlu. Itu yang belum. Bila perlu itu masuk dalam kurikulum. Kalau hanya pembekalan ke orang dewasa saja buat apa kalau anak-anak yang jadi sasaran tidak punya pemahaman awal,” jelas dia.

Peningkatan keamanan dengan CCTV di lingkungan sekolah pun memang perlu diperkuat dengan peningkatan pemahaman kepada masyarakat.

“Supaya masyarakat tahu ada hal-hal diskriminatif yang sudah masuk kekerasan seperti psikis, mental, dan dari kekerasan seksual banyak berdampak ke kekerasan lainnya,” kata dia.

Baca juga : Kekerasan Seksual Anak Marak di NTT, Dua Ahli Ini Soroti Degradasi Nilai Kekerabatan

Edukasi sebenarnya harus dimulai bukan saja kepada orang tua atau orang dewasa tetapi sejak dini atau terhadap anak-anak.

“Apalagi tingkat sekolah harus ada pembekalan,” tambah Anesta.

NTT memiliki Sekolah Perempuan (Skoper) yaitu di Kabupaten Kupang dengan 1 desa dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dengan 3 desa. DP3A NTT melakukan pendampingan di desa-desa ini.

Untuk membentuk Sekolah Perempuan ini Prosesnya bisa sampai 4 tahun hingga peningkatan kapasitas ke perspektif gender. Kelompok perempuan memang banyak akan tetapi sekolah perempuan sudah memiliki kurikulum dengan input dan output khusus.

Assessment dulu dilakukan dan adanya fasilitator Kabupaten dan desa dengan peningkatan kapasitas terhadap keluarga.

“Kelompok perempuan dirangkul yang mau dibentuk dalam sekolah perempuan butuh waktu lama,” jelas Anesta.

Baca juga : Ironi Kekerasan Seksual Anak Marak di NTT, Orang Terdekat Jadi Pelaku, Berdamai Jadi Solusi

Dalam sekolah ini diajarkan mengenai pengarusutamaan gender. Sekolah perempuan tidak saja melibatkan kaum ibu tetapi juga oleh remaja perempuan. Peningkatan kapasitas dan pemberdayaan perempuan juga dilakukan.

“Kita budaya patriarki yang kental di NTT bagaimana ini dibawa keluar agar tidak mengesampingkan hak-hak perempuan,” paparnya. *****

Tags: #DinasPemberdayaanPerempuandanPerlindunganAnakNTT#KDRT#kekerasanperempuan#kekerasanseksualanak#Kekerasanterhadapanak#NTT
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Para peserta Diskusi Komunitas Breaking Barries, Building Feature #KickOutGBV# berfoto bersama dilatari bola untuk olahraga sepak bola di Jakarta, 6 Maret 2026. (Foto: Magdalene)

Sepak Bola Jadi Wadah Promosi Ruang Aman untuk Perempuan

by KatongNTT
10 Maret 2026
0

Siapa yang tidak kenal sepak bola, jenis olahraga paling populer seantero Indonesia bahkan dunia. Untuk merayakan Hari Perempuan Internasional pada...

Sewindu Komunitas Lakoat Kujawas, Jatuh Bangun Melestarikan Budaya Mollo

by Yanti Mesak
19 Februari 2026
0

Komunitas Lakoat Kujawas adalah salah satu komunitas yang berada di Desa Taiftop, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT....

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati