Kupang – Sekolah Abdi Kasih Bangsa (SAKB) menggelar Science Fair yang menampilkan berbagai proyek sains dan teknologi para murid dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga SMA.
Pameran sains ini berlangsung di Gedung SD SAKB di Kota Kupang, 14 Juni 2023, yang pesertanya murid TK hingga SMA terkecuali kelas akhir yang sudah lulus. Seluruhnya 176 murid yang dibagi per kelompok sesuai pembelajaran dari masing-masing kelas mereka.
Baca juga : Potret Kesederhanaan Nono, Juara Matematika Dunia dan Kagumi Elon Musk
Proyek seperti simulasi hujan, modifikasi mobil bekas, desain proses penjernihan air di PDAM, eksperimen penjernihan air, perpindahan kalor, mencari kandungan zat gula dalam air, proyek pupuk alami dan banyak lagi proyek lainnya dipamerkan para murid.
Para murid juga berkompetisi. Kompetisi perahu kayu misalnya yaitu menguji ketahanan perahu sederhana buatan para murid SD dengan diisi beban. Perahu yang paling bertahan tanpa tenggelam adalah pemenang.
Baca juga : Dosen Prancis Buat Diskusi Internasional Peringati Harlah Pancasila di Kupang
Sedangkan kompetisi roket air pesertanya adalah kelas 8 SMP. Ketinggian roket masing-masing kelompok diukur oleh murid kelas 11 SMA dengan klinometer menggunakan perhitungan trigonometri.
I Nengah Pustaka, salah satu orang tua murid menjadi pengunjung pameran ini. Ia kagum dengan proyek sains para murid yang relevan dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, SAKB secara tidak langsung sudah mengajarkan anak untuk kritis dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang didapat dalam kelas.
Baca juga : NTT Kekurangan Petani Milenial, Ini Dampak dan Tantangannya!
“Ini akan memicu atau menjadi momentum dia (anak) untuk berpikir kritis ke depan dan menjadi anak-anak yang hebat. Jadi saya salut,” ungkapnya.
Ia sendiri tertarik dengan mobil air sederhana yang dibuat oleh murid kelas 7 yaitu Reyhand Nenobais dan Rivaldi Sine.
Menurutnya model mobil air ini bisa diuji lagi dan dikembangkan ke depannya agar efektif dengan kualitas yang lebih baik.
Baca juga : Cerita Siswa Masuk Sekolah Subuh, dari Jalan Kaki 8 Km Hingga Takut Jalanan Sepi
Pameran ini diharapkan bisa terus digelar ke depannya agar intuisi dan kreativitas anak makin berkembang.
“Karena belajar itu tidak harus di dalam kelas, monoton, tapi belajar dengan gembira namun dia memahami maksud dari apa yang dia kerjakan,” ungkap dia.
Menurut Pemimpin Sekolah Abdi Kasih Bangsa, Victoriani Inabuy, kegiatan ini sebelumnya terhenti selama 7 tahun. Pameran ini akan digalakkan kembali setelah pandemi Covid-19.
Baca juga : Ujung Lorong Covid-19 Itu Bernama Ruang Lazarus
Minimnya ketertarikan kaum muda NTT terhadap sains menjadi dasar pelaksanaan pameran sains ini. Menurutnya hal itu terlihat dari kurangnya penelitian terhadap bahan-bahan lokal NTT.
Fokus kegiatan ini pada science dan engineering, kata dia, sehingga anak-anak bisa menjadi peneliti ke depannya.
“Agar anak-anak bisa menjadi saintis dan juga bisa mengembangkan potensi lokal NTT yang bisa diteliti secara lebih baik,” jelas dia.
Baca juga : Nelayan Oesapa Gunakan Teknologi Taklukkan Cuaca Buruk
Pameran ini bakal dilaksanakan 2 tahun sekali setiap Juni usai anak-anak memiliki pemahaman baru tentang sains. Anak-anak bebas mengembangkan ide eksperimen mereka pada pameran ini berdasarkan topik yang dipelajari. Misalnya eksperimen murid kelas 5 saat itu bertemakan air karena sebelumnya mereka telah mengunjungi PDAM.
Semua kelas mulai dari TK hingga SMA memang memiliki kegiatan field trip atau kunjungan ke tempat-tempat sesuai dengan apa yang mereka pelajari misalnya ke OJK, Bank Indonesia, Basarnas, PDAM maupun TVRI.
“Sehingga mereka bisa tau langsung di kelas seperti apa, tidak selalu di kelas dan tertutup oleh tembok,” ujarnya.****


