Kupang – Virus rabies di Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), belum berakhir. Anak-anak yang terinfeksi pun harus bertarung dengan penyakit yang menyerang saraf otak ini hingga nafas terakhir mereka.
Mereka mengalami gejala tidak normal bermula dari demam, kejang, gelisah, tidak bisa tidur dan meracau. Kemudian jadi takut terhadap air dan cahaya. Air liur terus menerus menetes dari mulut. Mereka kelelahan hebat karena tak mampu minum atau hanya bisa makan beberapa suap saja, lalu benar-benar hilang kesadaran.
Baca juga : Sudah 10 Warga NTT Tewas Akibat Rabies
Perubahan kesehatan dan perilaku anak-anak itu berlangsung beberapa bulan hingga akhirnya tak terselamatkan.
MS, seorang bocah perempuan berusia 7 tahun menjadi salah satu dari 5 anak yang tewas karena rabies. Dia melewati masa yang mengerikan. Rabies stadium 3 merenggut nyawanya pukul 01.15 WITA, Rabu 28 Juni 2023.
Baca juga : Rabies di NTT, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia Turun Tangan
Menurut catatan kronologis dari Dinas Kesehatan TTS, awalnya MS diserang seekor anjing pada 23 April 2023. Masa liburan di rumah kakek dan neneknya di Desa Oelet berubah menjadi awal sengsara MS.
Anjing berpenyakit itu muncul mendadak dari dalam hutan dan menyerang MS yang hendak masuk ke dalam rumah sepulangnya mandi.
MS digigit di paha kiri. Punggungnya robek cukup dalam akibat dicakar. Dua saudaranya dan sang nenek menyaksikan bagaimana anjing itu melukai tubuhnya dengan cepat.
Baca juga : 2 Balita Tewas, Rabies Merajalela di TTS
Neneknya lalu mengompres dengan air panas dan mengolesi luka-luka menganga itu dengan minyak kelapa. 3 hari berturut-turut anak perempuan itu demam.
Namun MS beraktivitas kembali beberapa hari selepas kejadian nahas tersebut. Ia ke sekolah dan mendapat perawatan juga dari gurunya. Luka di tubuh MS yang masih basah dilumuri alkohol.
Pada 19 Juni malam, MS kejang-kejang, demam dan mulai meracau tak jelas. Pinggang dan perutnya dirasa begitu nyeri. Orang tuanya panik dan mengantarnya kembali ke rumah sang kakek.
Baca juga : Eksekusi Mati Hewan Rabies Tidak Bisa Asal Dilakukan
MS sudah tak mampu meneguk air sama sekali. Kejangnya pun kian menjadi-jadi. Ia tak bisa tidur siang maupun malam hari. Dalam kondisi yang kian buruk itu MS diurut dan disembur air.
Akhirnya MS dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) SoE, 25 Juni 2023. Dia benar-benar takut dengan air. Untuk minum saja ia tak sanggup apalagi mandi. Tubuhnya menggigil. Ia kedinginan hebat. Mulutnya terus menumpahkan air liur.
Kondisinya kritis hingga Selasa malam, 27 Juni 2023. Begitu hari berganti hidup MS pun berakhir. Virus yang belum mempunyai obat itu sudah merenggut nyawa MS.
Baca juga : Pemda TTS Ancam Pidana Pemilik Hewan Penular Rabies
Pihak rumah sakit menyebut keluarga korban tak mengetahui adanya penyakit rabies di Pulau Timor. Hal itu yang membuat mereka tak membawa MS ke puskemas terdekat selama ini.
Korban jiwa kelima usia anak adalah JAM. Anak laki-laki ini sebelumnya melewati masa kritis bersama MS di RSUD SoE. JAM tutup usia pukul 01.00 WITA, Kamis 29 Juni 2023, sehari setelah MS berpulang.
Seekor anjing pada 20 April lalu mengoyak betis kirinya dengan bekas 8 gigitan. Bocah 7 tahun ini diserang saat sedang bermain bersama teman-temannya.
Baca juga : Anak-anak Jadi Korban Jiwa Terbanyak Serangan Rabies di Flores dan Lembata
Ia menderita gejala rabies stadium 1 akibat kejadian buruk itu. JAM baru dibawa ke RSUD Soe 26 Juni lalu karena berulang kali demam hingga muntah 5 hari lamanya. JAM dirujuk dari Puskesmas Nunuhkniti yang menangani lukanya sejak 23 Juni.
JAM tidak mau minum karena merasa nyeri saat meneguk air. Terjadi pembesaran tonsilitis kanan atau peradangan dalam mulutnya. Ia tak tahan dan ketakutan pada air dan angin.
Penderitaan FM pun sama. Gejala rabies yang dialami anak laki-laki ini muncul 19 Juni 2023. Tubuh bocah itu sampai lemas, mulutnya kering karena sudah tak bisa minum. Ia hanya mampu makan empat suapan saja. Bocah usia 8 tahun itu dirawat di Puskesmas Oinlasi dan pada 23 Juni ia meninggal.
Baca juga : Nihil Anggaran, Vaksin Rabies di NTT Kosong Saat Kasus Meningkat
Dua korban lainnya adalah balita yaitu GAK yang berusia 5 tahun dan seorang bayi 3 tahun berinisial DM. GAK meregang nyawa 11 Juni 2023. DM meninggal dunia 2 hari setelah GAK menghembuskan nafas terakhir.
GAK meninggal setelah dirawat 2 hari di RSUD Soe, TTS. Adapun DM menghembuskan nafas terakhirnya di Puskesmas Oinlasi.
Kasus rabies di Pulau Timor ini menjadi yang pertama kalinya terjadi. Selama ini kasus rabies hanya terjadi di Pulau Flores dan Lembata.
Baca juga : Bahaya Rabies, Ikuti Langkah Ini Untuk Mencegah Terinfeksi
Rata-rata kematian anak-anak di wilayah Pulau Timor ini karena terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan (faskes) guna mendapat penanganan medis pasca digigit anjing.
Bila terkena gigitan atau luka yang dijilat oleh anjing maka harus segera dicuci selama 15 menit menggunakan deterjen atau sabun antiseptik di air yang mengalir.
Setelahnya harus diberikan vaksin anti rabies (VAR) ataupun serum anti rabies (SAR) di faskes tempat pasien melaporkan kejadian tersebut.
Baca juga : Pemda TTS Belum Tahu Asal Virus Rabies di Desa Fenun
“Total kematian kini 6 orang di TTS. Kasus kematian pertama di Desa Fenun itu pria dewasa. Sisanya anak-anak,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan TTS, Ria Tahun, Kamis 29 Juni.
Sebelumnya ia menyampaikan korban gigitan anjing di TTS hingga 27 Juni 2023 mencapai 576 orang di 29 kecamatan dan 148 desa.
Ria merinci korban gigitan ini di antaranya 1 bayi, 91 balita, 196 anak usia sekolah dan 231 orang usia produktif dan 57 orang lansia.
Namun begitu hanya 6 orang yang mulai muncul gejala khas rabies. Untuk gejala bukan rabies ada 81 orang. Sedangkan belum ada gejala berjumlah 489 orang.****




