Kupang – Kristin (26), di 2021 lalu sedang dalam masa penyusunan skripsi. Ia mulai buntu dan sedikit tertekan karena mendapat dosen pembimbing yang terkenal killer di fakultasnya.
Dalam kebuntuan menulis tugas akhir nya itu, Covid19 kemudian merenggut nyawa sang ibu tiba-tiba.
Kepergian ibunya sebelum melihat dirinya memakai toga kelulusan itu memberi pukulan telak pada Kristin.
Penyalahan akan dirinya sendiri kerap muncul. Ditambah Omanya yang juga kemudian akhirnya mengalami gangguan jiwa, membuat Kristin merasa tak ada gunanya di keluarga itu.
Dia kemudian mencoba mencari pertolongan dari psikolog. Namun yang ia dapati semuanya berbayar sehingga ia kemudian berniat mengakhiri hidupnya saja.
Baca Juga: Masyarakat NTT Punya Andil Besar Dalam Kasus Bunuh Diri
“Pernah (mau bunuh diri). Ribut beta punya isi kepala. Banyak suara. Karena merasa sonde (tidak) ada guna. Pikir su (sudah) buntu dengan skripsi, trus sampai dia meninggal pun dia tau kalau beta belum selesai-selesai juga,” ujarnya.
Saat hendak melakukan aksinya itu, wajah orangtuanya muncul. Ia mulai mempertanyakan bagaimana perasaan orang tua, keluarga, dan teman-temannya yang selama ini mendukung dia jika tahu kalau jalan seperti ini yang dia pilih.
“Trus sadar juga, ada orang yang masalah lebih berat dari pada beta tapi dong (mereka) bisa lalui itu semua. Beta sadar dan beta berdoa minta maaf pi (pada) beta punya diri sendiri dan pi Tuhan,” ungkapnya.
Sebab Tingginya Angka Bunuh Diri Pada Remaja
Bunuh diri jadi masalah pelik yang mengambang di permukaan namun masih dianggap sepele oleh beberapa pihak.
Data World Health Organization (WHO) mencatat tiap 40 detik akan ada yang meninggal karena bunuh diri di dunia.
Bahkan bunuh diri jadi penyebab kematian terbesar ke dua pada orang usia 15-29 tahun.
Di Indonesia sendiri berdasarkan Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Kepolisian RI (Polri), terdata ada 971 kasus bunuh diri yang terjadi pada periode Januari – Oktober 2023.
Baca Juga: Tekan Angka Bunuh Diri di NTT, Psikolog di Tiap Puskesmas Jadi Kebutuhan
Sedangkan di NTT, riset KatongNTT mendapati ada sembilan kasus bunuh diri dan dua kasus percobaan bunuh diri yang setidaknya diketahui dan diangkat oleh media di sepanjang 2023 ini.
Dari 11 kasus yang terdata, ada empat korban yang adalah mahasiswa dan empat kasus korbannya ialah pelajar SMA.
Psikolog Rumah Sejiwa Flobamora, Dian Lestari Anakaka mengatakan, usia remaja ke atas memang sangat rentan pada kasus bunuh diri.
Kepada KatongNTT ia mengatakan, orang pada usia muda yang dalam masa transisi dari anak-anak ke dewasa cenderung punya kemampuan mengelola masalah yang masih sederhana.
Baca Juga: Duka Bertubi PMI NTT, Ibu Meninggal di Malaysia, Anak Bunuh Diri
Apalagi ketika masa kecilnya selalu mendapat apa yang ia mau lalu ketika dewasa dan mendapati hidup tak seindah masa kecilnya, maka kemungkinan ia mengalami masalah psikologis makin tingggi.
“Ketika seseorang masuk masa remaja, dia dapat pengaruh dari luar makin banyak, kompleksitas kehidupan makin banyak. Kadang kalau seseorang tidak sanggup menahan kompleksnya masalah hidup, kemudian bisa membawa seseorang ke pilihan-pilihan yang beresiko,” jelasnya.
Dua kasus terakhir yang korbannya adalah mahasiswa akhir di Kupang diduga pemicunya ialah karena masalah perkuliahan. Ini jadi catatan merah yang juga harus diperhatikan pula oleh pihak kampus.
Kampus sendiri harusnya punya layanan konseling pada mahasiswa. Namun layanan ini disebut hanya jadi hiasan untuk menaikan akreditasi pada satu fakultas. Tak sepenuhnya berfungsi.
“Ada fakultas yang punya tapi ada juga baru bikin kalau ada evaluasi akreditasi. Ini yang harusnya diseriusi bukan dipikirkan belakangan,” ujar Dosen Psikologi Universitas Nusa Cendana (Undana), Indra Yohanes Kiling.
Baca Juga: Mahasiswa NTT Bunuh Diri, Layanan Psikologi Kampus Hanya ‘Hiasan’ Akreditasi
Melihat ini, Dian mengatakan dosen bisa menjadikan bimbingan skripsi sebagai satu jalan untuk membantu mahasiswa.
“Kematian dua mahasiswa ini jadi pukulan bagi saya sebagai psikolog dan pengajar. Ini membuat saya sadar bahwa bimbingan skripsi bukan sekadar bimbing akademik, tapi juga kesempatan untuk mendampingi mereka mengelola perasaan mereka dan bertahan dengan kesulitan, kerumitan,” ujar dosen psikologi Undana ini.
Faktor Resiko dan Upaya Mengelola Rasa
Nyatanya, keinginan bunuh diri dapat terjadi pada siapa saja. Bukan hanya pada anak usia remaja.
Dian menyebut, banyak faktor yang bisa memicu seseorang untuk bunuh diri. Bisa jadi karena terlalu kompleks masalah yang dihadapi. Atau kehilangan orang yang disayang, dibully, tak memenuhi ekspektasi, dan banyak faktor lainnya.
Hal-hal ini memicu seseorang untuk mengalami masalah psikologis seperti stres, frustasi, maupun depresi. Yang mana ini jadi salah satu penyebab orang bunuh diri.
Baca Juga: Transformasi Irene Kanalasari dari Penyintas Kekerasan Seksual Menjadi Pengacara Anak
Dian menyebut memang tidak semua orang menunjukkan keinginannya untuk bunuh diri secara gamblang. Namun ada beberapa tanda yang bisa dirasakan ketika seseorang dalam keadaan psikis yang tidak baik-baik saja dan punya kecenderungan untuk bunuh diri.
1. Tema Pembicaraannya Tentang Perbuntuan. Misalnya sudah tidak ada harapan. Sudah sia-sia. Tidak bermakna ia ada di kehidupan ini. Anggapan bahwa dia tidak ada pun dunia akan baik-baik saja.
“Hal-hal semacam itu kadang dipercakapkan. Sedihnya itu kita anggap itu sebagai lelucon. Nah pada saat kita menimpali dengan respon yang tidak tepat itu justru orang semakin merasa tidak dimengerti,” kata Dian.
Baca Juga: Anak Korban KDRT Seperti ‘Bom Waktu’
2. Menjadi Penyendiri. Seseorang yang mulai merasa tidak berarti dalam dirinya jadi lebih tidak mau berinteraksi dengan orang lain.
“Misanya takut kehilangan orang yang disayang. Itu sebenarnya momen-momen riskan yang harus kita dampingi. Orang jadi lebih sedih, murung, itu karena mungkin ada sesuatu,” jelasnya.
3. Mengutarakan Secara Langsung. Kata Dian, ada juga yang memperbincangkannya secara gamblang kepada kerabatnya.
“Misalnya, ‘kalau tali ini nih mantap ya kalau pakai gantung diri’. Atau secara lugas bilang ‘beta nih kayak mau mati sa, bunuh diri sa’. Itu sesuatu yang benar. Orang yang menyatakan kalimat itu tidak bercanda. Jadi kita harus bantu agar bisa kelola perasaannya.
baca Juga: Potret Bunuh Diri di Sumba, WHO: 700 Ribu Orang Setiap Tahun
Namun jika itu terjadi pada diri sendiri, maka tenangkan diri dan beri afirmasi positif pada diri sendiri.
Dian menyatakan, setiap orang punya cara untuk mengusahakan kegembiraannya masing-masing. Misalnya makan dan tidur. Ada satu dua hal yang bisa dipakai untuk buat hidup lebih gembira.
“Pertama kali kalau kita stress adalah berhenti dan cari jalan cepat untuk menimbulkan kegembiraan. Misalnya melakukan hobi, makan sesuatu yang kita inginkan, melakukan apa yang kita suka. Kita harus tahu bahwa tubuh butuh keseimbangan,” ujar Psikolog yang juga melayani di Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) NTT ini.
Jika tidak, sebagai orang yang percaya pada agama, para tokoh agama atau teman-teman sepelayanan di tempat ibadah dapat ditemui untuk berbagi cerita.
Baca Juga: UU KDRT Hampir 2 Dekade, Tapi Kekerasan Terus Menjerat Perempuan dan Anak
Namun, jika merasa tidak ada yang bisa menolong, maka carilah pertolongan profesional pada orang-orang yang bekerja di kesehatan jiwa.
“Beberapa kasus mereka takut ke psikolog karena takut ceritanya tersebar. Padahal ada kode etik yang menjamin kerahasiaan mereka akan dijaga benar. Dan juga merasa layanan psikologi untuk orang yang sudah gila. Padahal tidak juga,” jelasnya.
Di Kupang, layanan psikologi dapat ditemui di puskesmas, rumah sakit, atau di Rumah Sejiwa Flobamora, dan di PKBI yang melayani secara gratis (pada kelompok marginal). ***




